Jumat, 26 April 2019
Turunkan Resiko Penyakit AMD dengan Makan Ikan
Dalam dunia kesehatan, Age-Related Macular Disease/AMD merupakan kondisi memburuknya penglihatan secara progresif dan tidak dapat diperbaiki akibat penipisan dan pendarahan di sekitar macula atau daerah pusa tretina mata. Penderita AMD kebanyakan berusia 60 tahun ke atas dan penderita kehilangan kemampuan untuk melihat benda-benda halus secara detil. Pada beberapa kasus yang parah, penderita AMD dapat menjadi buta meski masih memiliki sedikit kemampuan untuk melihat.
Penyakit AMD tidak menyebabkan sakit/nyeri dan biasanya berkembang secara perlahan sehingga penderita tidak terlalu memperhatikan perubahan pada penglihatannya. Namun demikian, pada beberapa kasus AMD dapat berkembang dengan cepat dan dapat mengakibatkan kebutaan.
AMD diduga dipengaruhi gaya hidup seperti pola makan, kebiasaan merokok, tekanan darah dan olah raga. Jika benar dugaan tersebut maka kita mempunyai peluang untuk melakukan pencegahan sedini mungkin terhadap serangan penyakit tersebut. Peluang tersebut telah dijadikan sebagai objek penelitian terkait hubungan antara AMD dengan konsumsi ikan dan omega-3.
Peneliti Australia mengulas 9 publikasi penelitian yang dimuat Jurnal Archives of Ophthalmology dengan melibatkan 88.974 responden termasuk 3.203 orang dengan kasus AMD. Hasil penemuan ini menyatakan bahwa asupan omega-3 dapat menurunkan 38% risiko AMD stadium lanjut dan makan ikan dua kali seminggu dapat menurunkan risiko AMD stadium awal dan lanjut. Selain itu, peneliti dari Universitas Melbourne mencatat bahwa lemak omega -3 rantai panjang merupakan komponen vital dari lapisan sel syaraf di retina. Sel bagian luar retina terus mengalami pergantian dan regenerasi. Oleh karena itu, kekurangan omega-3 diduga dapat menyebabkan AMD.
Selanjutnya diungkapkan orang dengan kadar vitamin D dalam darahnya tinggi, cenderung lebih tahan terhadap serangan AMD. Hasil penelitian ini semakin menguatkan bahwa mengkonsumsi ikan menjadi penting karena ikan juga merupakan sumber vitamin D. Hasil penelitian lain yang dilakukan terhadap 7.752 responden, termasuk 11 persen responden penderita AMD, menemukan bahwa kadar vitamin D yang tinggi dalam darah dapat mengurangi resiko AMD
dengan memperlambat atau mencegah timbulnya pembuluh darah baru pada retina mata yang berkontribusi pada sakit mata yang lain. Penelitian sebelumnya yang dilakukan di tahun 1992 sampai 1998 dengan responden sekitar 4.519 orang berusia 60 sampai 80 tahun, untuk dicek apakah mereka menderita AMD atau tidak dihubungkan dengan kebiasaan makan mereka. Hasil penelitian tersebut menemukan, semakin
tinggi konsumsi ikan semakin rendah pula risiko menderita AMD neovaskular. Penelitian ini juga menyebutkan, konsumsi ikan sebanyak 115 gram seminggu, akan mengurangi risiko terkena AMD. Penelitian ini juga telah membuktikan bahwa Omega 3 akan membantu melancarkan aliran darah ke retina mata dan menjaga keseimbangan tubuh.
Ingin menyelamatkan generasi muda dari kerusakan mata pada usia lanjut, sediakan selalu menu ikan yang merupakan sumber omega-3 dan vitamin D mulai dari sekarang
Sumber Diolah : Ditjen P2HP
Selasa, 23 April 2019
Induk dan Benih Gurame Unggul
Untuk memperoleh induk unggul, sebaiknya dilakukan seleksi berdasarkan standar yang telah dibakukan. Ada tiga cara yang umum dilakukan oleh pembudidaya ikan untuk mendapatkan induk yang baik dan unggul sehingga dapat menghasilkan benih yang unggul pula. Ketiga cara tersebut adalah seleksi massal, seleksi individu dan seleksi ilmiah.
Ketiga cara tesebut tentu saja memiliki kelebihan maupun kekurangan. Berikut ini adalah ketiga cara memperoleh induk dan benih unggul :
a. Seleksi Massal
Salah satu cara yang paling sederhana dan murah adalah dengan seleksi missal. Seleksi ini merupakan hasil pemijahan berbagai jenis induk ikan yang dimiliki.
Selanjutnya dipilih benih hasil pemijahan yang mempunyai keunggulan fisik seperti pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan benih lainnya, warna yang sesuai dengan induknya, tubuh tidak cacat dan mempunyai sifat-sifat unggul dari induknya.
b. Seleksi Individu
Cara lain untuk memperoleh induk unggul adalah dengan seleksi individu, yaitu seleksi yang dilakukan secara individu atau ekor per ekor. Benih yang digunakan dipilih dari berbagai induk atau daerah. Selanjutnya dipilih benih yang terbaik, yaitu yang mempunyai karakteristik sesuai dengan standar yang telah dibakukan, seperti tidak cacat fisik dan mempunyai sifat-sifat unggul yang diturunkan oleh induknya. Benih yang dihasilkan memiliki kriteria kuantitatif sesuai dengan tahap pemeliharaannya, yaitu p-I, P-II, P-III, P-IV dan P-V. untuk lebih jelasnya syarat benih yang dapat dijadikan calon induk dan diharapkan mempunyai keunggulan dibanding induk yang belum jelas asal keturunannya. Berikut ini adalah kriteria tersebut:
c. Seleksi Alamiah
Seleksi alamiah terjadi secara kebetulan, yaitu benih yang dijadikan induk diperoleh dari induk-induk yang tidak jelas, tetapi mempunyai keunggulan sesuai standar baku, baik dari segi pertumbuhan maupun kriteria lainnya.
Benih semacam ini biasanya ditemukan secara tidak sengaja pada kolam pemeliharaan. Umurnya tidak jelas, tetapi kualitas keturunan yang dihasilkan sangat baik. Baiknya kualitas dimungkinkan karena adanya perawatan yang lebih baik oleh induknya.
Pada umumnya benih dari hasil seleksi alamiah sangat sedikit jumlahnya, tetapi kualitasnya baik sehingga sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai induk.
Ketiga cara tesebut tentu saja memiliki kelebihan maupun kekurangan. Berikut ini adalah ketiga cara memperoleh induk dan benih unggul :
a. Seleksi Massal
Salah satu cara yang paling sederhana dan murah adalah dengan seleksi missal. Seleksi ini merupakan hasil pemijahan berbagai jenis induk ikan yang dimiliki.
Selanjutnya dipilih benih hasil pemijahan yang mempunyai keunggulan fisik seperti pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan benih lainnya, warna yang sesuai dengan induknya, tubuh tidak cacat dan mempunyai sifat-sifat unggul dari induknya.
b. Seleksi Individu
Cara lain untuk memperoleh induk unggul adalah dengan seleksi individu, yaitu seleksi yang dilakukan secara individu atau ekor per ekor. Benih yang digunakan dipilih dari berbagai induk atau daerah. Selanjutnya dipilih benih yang terbaik, yaitu yang mempunyai karakteristik sesuai dengan standar yang telah dibakukan, seperti tidak cacat fisik dan mempunyai sifat-sifat unggul yang diturunkan oleh induknya. Benih yang dihasilkan memiliki kriteria kuantitatif sesuai dengan tahap pemeliharaannya, yaitu p-I, P-II, P-III, P-IV dan P-V. untuk lebih jelasnya syarat benih yang dapat dijadikan calon induk dan diharapkan mempunyai keunggulan dibanding induk yang belum jelas asal keturunannya. Berikut ini adalah kriteria tersebut:
- Larva : umur 10-12 hari, panjang total 0,75-1 cm, bobot minimal 0,03 gr, keseragaman ukuran > 80%
- Benih P-I : umur 40 hari, panjang total 1-2 cm, bobot minimal 0,2 gr, keseragaman ukuran > 80%
- Benih P-II : umur 80 hari, panjang total 2-4 cm, bobot minimal 0,5 gr, keseragaman ukuran > 80%
- Benih P-III : umur 120 hari, panjang total 4-6 cm, bobot minimal 1,0 gr, keseragaman ukuran > 80%
- Benih P-IV : umur 160 hari, panjang total 6-8 cm, bobot minimal 3,5 gr, keseragaman ukuran > 80%
- Benih P-V : umur 200 hari, panjang total 8-11 cm, bobot minimal 7,0 gr, keseragaman ukuran > 80%
c. Seleksi Alamiah
Seleksi alamiah terjadi secara kebetulan, yaitu benih yang dijadikan induk diperoleh dari induk-induk yang tidak jelas, tetapi mempunyai keunggulan sesuai standar baku, baik dari segi pertumbuhan maupun kriteria lainnya.
Benih semacam ini biasanya ditemukan secara tidak sengaja pada kolam pemeliharaan. Umurnya tidak jelas, tetapi kualitas keturunan yang dihasilkan sangat baik. Baiknya kualitas dimungkinkan karena adanya perawatan yang lebih baik oleh induknya.
Pada umumnya benih dari hasil seleksi alamiah sangat sedikit jumlahnya, tetapi kualitasnya baik sehingga sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai induk.
Minggu, 21 April 2019
Budidaya Ikan Gabus
Budidaya ikan gabus bisa dilakukan secara sederhana. Menjanjikan banyak keuntungan. Ikan gabus atau dikenal dengan sebutan merupakan ikan asli perairan tawar Indonesia Snakehead yang banyak dijumpai di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Flores, Ambon, Maluku, dan Papua. Ikan yang di Kalimantan disebut “haruan” itu di habitat aslinya dapat mencapai 3 – 5 kilogram. Ikan ini mempunyai nilai ekonomis tinggi dengan harga perkilogram Rp 30.000 - Rp 60.000. Harga ikan gabus asin bahkan dapat mencapai Rp 80.000 per kg. Kandungan protein ikan gabus adalah sekitar 25,2 gram/100 gram dagingnya. Ikan ini juga mengandung albumin 62,24 g/kg yang dipercaya bermanfaat untuk penyembuhan luka terutama pada pasien pasca operasi.
Tingginya permintaan ikan gabus mendorong masyarakat melakukan usaha budidaya melalui proses domestikasi. Kepala Balai Per ikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Kali mantan Selatan, Ir. Endang Mudji utami,
mengatakan bahwa sejak tahun 2011 BPBAT Mandiangin telah berhasil melakukan proses domestikasi ikan gabus.
“Potensi ekonomi ikan gabus sebagai ikan budidaya tidak kalah oleh ikan lokal maupun ikan introduksi lain,” katanya. Selain domestikasi ikan gabus, BPBAT Mandiangin juga telah berhasil melakukan kegiatan domestikasi dan budidaya ikan spesifik lokal yang lain seperti ikan Papuyu (Anabas testudineus, Bloch), Belida (Chitala lopis), dan Kelabau (Osteochilus melanopleura, Bleeker).
Sesuai dengan tugas dan fungsinya, BPBAT Mandiangin berupaya untuk menghasilkan teknologi budi daya ikan gabus yang sederhana dan aplikatif sehingga mudah diterapkan masyarakat. Ikan gabus mampu beradaptasi terhadap kualitas air yang “ekstrem” seperti pH air dan oksigen yang rendah (DO<4). Ikan gabus mampu mengambil nafas langsung dari udara bebas karena memiliki organ pernafasan tambahan berupa labirin.
Di Kalimantan, habitat asli ikan ini adalah perairan agak asam seperti sungai, rawa, dan lahan gambut. Karena itu, pengembangan budidaya ikan gabus juga dilakukan BPBAT Mandiangin pada lahan gambut dengan membangun salah satu instalasi budidaya ikan di lahan gambut, yaitu Instalasi Budidaya Ikan Lahan Gambut
(IBILAGA) di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Kini instalasi ini telah menjadi sentra pengembangan ikan gabus.
Budidaya ikan gabus yang sudah berhasil dikembangkan BPBAT Mandiangin meliputi teknologi pembenihan dan teknologi pem besarannya. Pembenihan gabus dimulai dari pematangan gonad, seleksi induk, pemijahan, pemeliharaan larva, dan pendederan. Induk ikan gabus sudah dapat dipijahkan mulai dari yang berukuran 200 – 300 gram. Untuk mendorong pematangan gonad induk gabus dilakukan pemberian pakan pelet apung dengan kadar protein 30 – 32%, lemak 5% dengan porsi 3% dari bobot biomassa perhari, sebanyak 2 kali sehari. Hasilnya, tingkat kematangan gonad induk berkisar antara 8,3% - 26,7%.
“Cara makan ikan gabus yang menyambar mangsanya membuat ikan gabus hanya tertarik dengan pakan yang berada di permukaan air. Dan dari hasil adaptasi pakan buatan yang telah dilakukan diketahui ikan gabus lebih responsif terhadap pelet apung ketimbang pelet tenggelam,” kata Tulus, seorang perekayasa BPBAT Mandiangin.
Pemijahan ikan gabus dapat dilakukan secara alami. Jumlah perbandingan induk jantan dan betina adalah 1 : 1. Wadah pemijahan berupa bak terpal berukuran 4 x 2 m. Induk jantan dan betina dicampur dalam satu bak terpal. Induk jantan dan betina bisa juga diberi rangsangan hormon ovaprim untuk mempercepat terjadinya pemijahan dengan cara disuntik satu kali pada bagian punggung dengan dosis 0,5 ml/kg berat induk. Induk ikan gabus dapat memijah sebanyak 2 – 3 kali dalam satu siklus pemijahannya dengan jumlah telur berkisar antara 3.000 – 5.000 tergantung dari berat induk. Telur ikan gabus bersifat mengapung di permukaan air. Telur ini akan menetas setelah 24 – 38 jam. Karena sifat induk ikan gabus yang menjaga dan mengasuh anaknya, maka larva ikan gabus dipelihara bersama dengan kedua induknya selama ± 1 bulan sampai mencapai ukuran panjang 2 – 3 cm. Pemberian pakan buatan untuk larva ikan berupa pelet tepung protein 40% diberikan mulai umur 7 hari setelah menetas.
Setelah itu, larva ikan dipelihara dalam happa selama 1 bulan sampai mencapai 3 – 5 cm. Pakan benih selama pendederan berupa pelet apung ukuran PL 1 protein 40% sebanyak 3 – 5% dengan frekuensi pemberian sebanyak 2 kali sehari. Selama pendederan dilakukan seleksi ukuran benih/grading setiap minggu sekali untuk memisahkan ukuran benih mulai dari ukuran kecil, sedang, besar, atau ukuran S, M, L. Ukuran benih yang seragam berguna untuk mencegah kanibalisme pada benih ikan gabus dan mengurangi persaingan pakan yang diberikan sehingga diharapkan pertumbuhan benih ikan akan lebih baik dan seragam. Pemeliharaan benih dilakukan selama 7 bulan yang akan mencapai ukuran 200 gram perekor.
Erisman, seorang pembudidaya ikan gabus dari Basarang Kapuas Kalimantan Tengah, mengatakan bahwa dari benih 2.000 ekor selama 11 bulan pemeliharaan diperoleh gabus konsumsi sebanyak 700 kg. ”Dengan modal Rp 14 juta mendapat untung Rp 8 juta,” kata dia. Keberhasilan budidaya ikan gabus memberikan harapan untuk pendapatan masyarakat, sekaligus untuk pelestarian sumberdaya perikanan tawar asli perairan Indonesia.
Sumber : Gabus Kian Menjanjikan. Tabloid Akuakultur Indonesia. Edisi No.8 Th 2 - Maret - April 2014
Tingginya permintaan ikan gabus mendorong masyarakat melakukan usaha budidaya melalui proses domestikasi. Kepala Balai Per ikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Kali mantan Selatan, Ir. Endang Mudji utami,
mengatakan bahwa sejak tahun 2011 BPBAT Mandiangin telah berhasil melakukan proses domestikasi ikan gabus.
“Potensi ekonomi ikan gabus sebagai ikan budidaya tidak kalah oleh ikan lokal maupun ikan introduksi lain,” katanya. Selain domestikasi ikan gabus, BPBAT Mandiangin juga telah berhasil melakukan kegiatan domestikasi dan budidaya ikan spesifik lokal yang lain seperti ikan Papuyu (Anabas testudineus, Bloch), Belida (Chitala lopis), dan Kelabau (Osteochilus melanopleura, Bleeker).
Sesuai dengan tugas dan fungsinya, BPBAT Mandiangin berupaya untuk menghasilkan teknologi budi daya ikan gabus yang sederhana dan aplikatif sehingga mudah diterapkan masyarakat. Ikan gabus mampu beradaptasi terhadap kualitas air yang “ekstrem” seperti pH air dan oksigen yang rendah (DO<4). Ikan gabus mampu mengambil nafas langsung dari udara bebas karena memiliki organ pernafasan tambahan berupa labirin.
Di Kalimantan, habitat asli ikan ini adalah perairan agak asam seperti sungai, rawa, dan lahan gambut. Karena itu, pengembangan budidaya ikan gabus juga dilakukan BPBAT Mandiangin pada lahan gambut dengan membangun salah satu instalasi budidaya ikan di lahan gambut, yaitu Instalasi Budidaya Ikan Lahan Gambut
(IBILAGA) di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Kini instalasi ini telah menjadi sentra pengembangan ikan gabus.
Budidaya ikan gabus yang sudah berhasil dikembangkan BPBAT Mandiangin meliputi teknologi pembenihan dan teknologi pem besarannya. Pembenihan gabus dimulai dari pematangan gonad, seleksi induk, pemijahan, pemeliharaan larva, dan pendederan. Induk ikan gabus sudah dapat dipijahkan mulai dari yang berukuran 200 – 300 gram. Untuk mendorong pematangan gonad induk gabus dilakukan pemberian pakan pelet apung dengan kadar protein 30 – 32%, lemak 5% dengan porsi 3% dari bobot biomassa perhari, sebanyak 2 kali sehari. Hasilnya, tingkat kematangan gonad induk berkisar antara 8,3% - 26,7%.
“Cara makan ikan gabus yang menyambar mangsanya membuat ikan gabus hanya tertarik dengan pakan yang berada di permukaan air. Dan dari hasil adaptasi pakan buatan yang telah dilakukan diketahui ikan gabus lebih responsif terhadap pelet apung ketimbang pelet tenggelam,” kata Tulus, seorang perekayasa BPBAT Mandiangin.
Pemijahan ikan gabus dapat dilakukan secara alami. Jumlah perbandingan induk jantan dan betina adalah 1 : 1. Wadah pemijahan berupa bak terpal berukuran 4 x 2 m. Induk jantan dan betina dicampur dalam satu bak terpal. Induk jantan dan betina bisa juga diberi rangsangan hormon ovaprim untuk mempercepat terjadinya pemijahan dengan cara disuntik satu kali pada bagian punggung dengan dosis 0,5 ml/kg berat induk. Induk ikan gabus dapat memijah sebanyak 2 – 3 kali dalam satu siklus pemijahannya dengan jumlah telur berkisar antara 3.000 – 5.000 tergantung dari berat induk. Telur ikan gabus bersifat mengapung di permukaan air. Telur ini akan menetas setelah 24 – 38 jam. Karena sifat induk ikan gabus yang menjaga dan mengasuh anaknya, maka larva ikan gabus dipelihara bersama dengan kedua induknya selama ± 1 bulan sampai mencapai ukuran panjang 2 – 3 cm. Pemberian pakan buatan untuk larva ikan berupa pelet tepung protein 40% diberikan mulai umur 7 hari setelah menetas.
Setelah itu, larva ikan dipelihara dalam happa selama 1 bulan sampai mencapai 3 – 5 cm. Pakan benih selama pendederan berupa pelet apung ukuran PL 1 protein 40% sebanyak 3 – 5% dengan frekuensi pemberian sebanyak 2 kali sehari. Selama pendederan dilakukan seleksi ukuran benih/grading setiap minggu sekali untuk memisahkan ukuran benih mulai dari ukuran kecil, sedang, besar, atau ukuran S, M, L. Ukuran benih yang seragam berguna untuk mencegah kanibalisme pada benih ikan gabus dan mengurangi persaingan pakan yang diberikan sehingga diharapkan pertumbuhan benih ikan akan lebih baik dan seragam. Pemeliharaan benih dilakukan selama 7 bulan yang akan mencapai ukuran 200 gram perekor.
Erisman, seorang pembudidaya ikan gabus dari Basarang Kapuas Kalimantan Tengah, mengatakan bahwa dari benih 2.000 ekor selama 11 bulan pemeliharaan diperoleh gabus konsumsi sebanyak 700 kg. ”Dengan modal Rp 14 juta mendapat untung Rp 8 juta,” kata dia. Keberhasilan budidaya ikan gabus memberikan harapan untuk pendapatan masyarakat, sekaligus untuk pelestarian sumberdaya perikanan tawar asli perairan Indonesia.
Sumber : Gabus Kian Menjanjikan. Tabloid Akuakultur Indonesia. Edisi No.8 Th 2 - Maret - April 2014
Sabtu, 20 April 2019
Turunkan Resiko Kanker Prostat, Makan Ikan
Banyak riset yang telah merekomendasikan untuk lebih banyak makan ikan guna menjaga kesehatan jantung. Berdasarkan hasil penelitian yang dimuat dalam Jurnal The Lancet mengatakan bahwa laki-laki yang lebih banyak makan ikan mempunyai risiko menderita kanker prostat yang lebih kecil dibandingkan dengan laki-laki yang sedikit atau tidak sama sekali makan ikan.
Hasil penelitian tersebut didasarkan pada hasil analisa dari informasi yang dikumpulkan pada 6.272 laki-laki. Pada awal penelitian, banyak sukarelawan yang memberikan informasi tentang diet yang dilakukan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok dan penggunaan alkohol. Peneliti menanyakan apa yang mereka makan setiap minggunya termasuk ikan. Setelah lebih dari tiga dekade dari penelitian tersebut terdiagnosa 466 kasus kanker prostat (340 yang fatal) dengan umur rata-rata 77 tahun. Hasil penelitian tersebut juga dilaporkan bahwa orang yang memakan ikan lebih tinggi mempunyai gangguan kanker prostat lebih rendah.
Makan Ikan adalah kebiasaan yang lebih sehat
Kebiasaan sehat selain makan banyak buah dan sayur, mengurangi konsumsi daging merah dan daging olahan serta menghindari merokok adalah mengkonsumsi banyak ikan. Kebiasaan yang sehat tersebut dapat menurunkan risiko menderita kanker. Disamping itu, orang laki-laki yang mengkonsumsi ikan lebih banyak mempunyai fisik yang lebih aktif.
Bagaimana ikan bisa membuat sehat?
Ikan, terutama yang banyak mengandung asam lemak omega -3 seperti salem, herring dan mackerel dapat menghalangi pertumbuhan sel kanker prostat. Omega-3 dari ikan juga dapat menjadikan jantung sehat. Omega-3 dapat membantu mencegah pembekuan darah di dinding arteri, yang pada akhirnya dapat melindungi dari serangan penyakit jantung.
Pada saat ini profesional dan ilmuwan kesehatan akan melihat lebih lanjut peran konsumsi ikan terhadap risiko serangan kanker. Sebagian besar dari ilmuwan menyetujui banyak makan buah dan sayur, biji-bijian, makan sedikit lemak dan makan banyak ikan adalah langkah terbaik yang dapat meminimalkan risiko kanker tertentu. Oleh karena itu, seperti halnya The American Heart Association maka saat ini The American Cancer Society juga merekomendasikan untuk makan ikan lebih banyak. Selain banyak makan ikan, saran lainnya adalah mengganti daging merah dan daging babi yang kandungan asam lemak jenuhnya sangat tinggi.
Asupan asam lemak jenuh diindikasikan dapat mengakibatkan meningkatnya risiko kanker. Banyak orang berpikir menyiapkan makan dengan menu ikan lebih sulit, tetapi sebenarnya hal tersebut tidaklah benar. Kita hanya perlu sedikit pengetahuan bagaimana membeli, menyimpan dan menyiapkan ikan. Jika merasa repot memasak ikan di rumah, maka biasakan memesan menu ikan kalau sedang makan di luar rumah.
Sumber Diolah : Ditjen P2HP
Selasa, 16 April 2019
Bahan Baku Pakan Ikan dari Eceng Gondok
Di Ambarawa dan Boyolali pakan ikan dibuat dari eceng gondok. Ikut mengatasi masalah melimpahnya gulma air itu. Pada 16 Januari 2015, Dirjen Perikanan Budidaya, Dr. Ir. Slamet Soebjakto mengunjungi 3 lokasi pengembangan pakan ikan mandiri di Jawa Tengah. Ketiganya adalah: Kelompok Sido Makmur di Desa Tambaksari Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal, UPTD PBIAT Ambarawa Kabupaten Semarang, dan perusahaan swasta di Desa Guwokajen, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali.
Di daerah Ambarawa dan Boyolali, tersedia sumberdaya alam berupa enceng gondok yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan mandiri. Pemanfaatan enceng gondok ini juga membantu mengurangi melimpahnya eceng gondok khususnya di Rawa Pening yang selama ini jadi masalah.
Cara pembuatan pakan dari eceng gondok cukup sederhana. Eceng gondok diambil daun dan pelepahnya 5 cm dari bawah daun. Selanjutnya dipotongpotong dan dikeringkan. Setelah kering digiling untuk dijadikan tepung, ditambah dengan tepung ikan sebagai suplemen hewani, dan berbagai vitamin. Dengan banyaknya bahan baku pembuatan pakan ikan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah terus mendorong terbentuknya Kelompok Produsen Pakan Ikan Mandiri yang secara kelembagaan yang terpisah dari Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Kelompok produsen pakan ikan mandiri ini dapat dibagi dalam beberapa zona, yaitu : zona I sebagai sentra sumber bahan baku pakan, zona II sebagai sentra produksi pakan ikan mandiri dan zona III sebagai sentra lokasi penyimpanan pakan dan distribusi pakan ikan mandiri. Melalui sistem zona ini, maka dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak, berkembangnya profesionalitas usaha budidaya, tersedianya bahan baku pakan ikan mandiri berbasis bahan baku lokal secara kontinyu (berkelanjutan), produksi pakan ikan mandiri sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) pakan serta semakin lancarnya distribusi pakan ikan guna memenuhi kebutuhan pembudidaya ikan.
Pengembangan pakan ikan mandiri 3 (tiga) zona di Provinsi Jawa Tengah ini diharapkan dapat mendorong daerahdaerah lainnya untuk dapat membentuk kelompok produsen pakan mandiri lainnya. Hal ini membawa dampak positif untuk mengurangi ketergantungan bahan baku pakan impor dan peningkatan produksi perikanan budidaya yang menguntungkan.
Sumber : Pakan Ikan dari Eceng Gondok. Tabloid Akuakultur Indonesia. Edisi No.13 Th 2 Januari - Februari 2015
Di daerah Ambarawa dan Boyolali, tersedia sumberdaya alam berupa enceng gondok yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan mandiri. Pemanfaatan enceng gondok ini juga membantu mengurangi melimpahnya eceng gondok khususnya di Rawa Pening yang selama ini jadi masalah.
Cara pembuatan pakan dari eceng gondok cukup sederhana. Eceng gondok diambil daun dan pelepahnya 5 cm dari bawah daun. Selanjutnya dipotongpotong dan dikeringkan. Setelah kering digiling untuk dijadikan tepung, ditambah dengan tepung ikan sebagai suplemen hewani, dan berbagai vitamin. Dengan banyaknya bahan baku pembuatan pakan ikan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah terus mendorong terbentuknya Kelompok Produsen Pakan Ikan Mandiri yang secara kelembagaan yang terpisah dari Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan). Kelompok produsen pakan ikan mandiri ini dapat dibagi dalam beberapa zona, yaitu : zona I sebagai sentra sumber bahan baku pakan, zona II sebagai sentra produksi pakan ikan mandiri dan zona III sebagai sentra lokasi penyimpanan pakan dan distribusi pakan ikan mandiri. Melalui sistem zona ini, maka dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak, berkembangnya profesionalitas usaha budidaya, tersedianya bahan baku pakan ikan mandiri berbasis bahan baku lokal secara kontinyu (berkelanjutan), produksi pakan ikan mandiri sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) pakan serta semakin lancarnya distribusi pakan ikan guna memenuhi kebutuhan pembudidaya ikan.
Pengembangan pakan ikan mandiri 3 (tiga) zona di Provinsi Jawa Tengah ini diharapkan dapat mendorong daerahdaerah lainnya untuk dapat membentuk kelompok produsen pakan mandiri lainnya. Hal ini membawa dampak positif untuk mengurangi ketergantungan bahan baku pakan impor dan peningkatan produksi perikanan budidaya yang menguntungkan.
Sumber : Pakan Ikan dari Eceng Gondok. Tabloid Akuakultur Indonesia. Edisi No.13 Th 2 Januari - Februari 2015
Minggu, 14 April 2019
Turunkan Resiko Kelahiran Prematur dan Berat Lahir Bayi, Konsumsi Ikan
Resiko kelahiran bayi prematur dan berat lahir bayi yang terlalu rendah dapat diturunkan dengan mengkonsumsi ikan pada masa kehamilan. Di negara-negara berkembang di seluruh dunia pada setiap tahunnya terdapat lebih dari 13 juta bayi dilahirkan secara prematur. Observasi yang dilakukan di Pulau Faroe dan Orkney dimana masyarakatnya banyak mengkonsumsi ikan, diperoleh hasil bahwa masyarakat di pulau tersebut mengalami masa kehamilan sesuai waktu dengan berat lahir bayi yang normal.
British Medical Journal telah mempublikasikan hasil penelitian bahwa rata-rata berat lahir dan masa kehamilan sesuai waktunya berhubungan langsung dengan jumlah ikan yang dimakan oleh wanita hamil. Percobaan secara acak telah menunjukkan hubungan antara konsumsi ikan yang mengandung asam lemak omega-3 dengan lamanya masa kehamilan serta risiko kelahiran prematur.
Peneliti di Aarthus Denmark mengkompilasi daftar pertanyaan yang diisi oleh hampir 9000 wanita untuk menilai tingkat konsumsi ikan, hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang mengkonsumsi ikan sedikitnya sekali seminggu hanya 1,9 % yang mengalami kelahiran prematur.
Sedangkan pada wanita yang tidak pernah mengkonsumsi ikan kelahiran prematur meningkat menjadi 7,1 %. Peneliti dari Universitas Bristol di Inggris yang merupakan bagian dari penelitian yang lebih luas dari Avon Longitudinal of Parent and Children (ALSPAC) telah mengamati secara detil sekitar 14.000 ibu-ibu selama kehamilannya serta anak-anak yang dilahirkan. Mereka dibagi ke dalam lima kelompok berdasarkan pada berapa banyak mereka mengkonsumsi ikan. Wanita-wanita tersebut telah melaporkan apakah mereka makan ikan putih, kekerangan atau minyak ikan yang kaya asam lemak omega-3. Hasilnya menunjukkan kelompok dengan konsumsi ikan yang tinggi, rata-rata mempunyai bayi dengan berat antara 70 dan 80 g lebih dibanding mereka yang tidak makan ikan sama sekali. Sedangkan faktor lainnya seperti kelas sosial dan apakah ibu tersebut merokok tidak menunjukkan perbedaan berat lahir diantara kelompok tersebut.
Penelitian oleh Public Health Institut of Iceland yang dimuat dalam British Journal of Obstetrics and Gynecology volume 112 bulan April halaman 424-9 mengemukakan bahwa mengkonsumsi minyak ikan pada awal kehamilan bisa mengakibatkan bayi lahir lebih besar. Penelitian dilakukan terhadap 435 wanita hamil yang sehat yang diminta untuk mengisi daftar pertanyaan pada umur kehamilan antara 11 dan 15 minggu dan antara 34 dan 37 minggu. Wanita yang mengkonsumsi minyak ikan dalam bentuk cairan di awal kehamilan, 14 % diantaranya melahirkan bayi lebih berat dan mengalami masa kehamilan sesuai waktunya.
Disamping itu, wanita-wanita sehat yang mengkonsumsi minyak ikan cair, lebih dari 11 kalinya melahirkan
bayi dengan berat 4,500 g atau lebih dengan umur kehamilan yang sesuai waktunya. Selain konsumsi ikan, memang masih banyak faktor lain yang juga berperan pada kelahiran prematur. Infeksi di kandungan misalnya dapat menyebabkan kontraksi lebih awal, pembukaan servik dan juga pecahnya cairan ketuban lebih awal. Dr Imogen Roger juga melaporkan bayi dengan berat lahir sangat kecil berhubungan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi dan permasalahan lainnya pada wanita paruh baya. Konsumsi ikan yang tinggi nampaknya memang tidak mampu menetralkan efek infeksi, tetapi bagaimanapun dari segi nutrisi konsumsi ikan dapat mengurangi risiko kelahiran prematur dan berat lahir yang sangat kecil.
Hasil penelitian-penelitian tersebut semakin menguatkan pentingnya mengkonsumsi ikan bagi wanita hamil serta menguatkan rekomendasi bahwa wanita hamil harus mengkonsumsi ikan sekurang-kurangnya dua kali seminggu. Mengkonsumsi ikan yang mengandung minyak adalah suatu kebiasaan yang baik dan perlu didorong untuk menghindari bayi lahir prematur dengan berat lahir sangat kecil. Berat lahir lebih tinggi akan menurunkan risiko penyakit di kemudian hari dalam kehidupannya.
Jadi bagi wanita yang sedang hamil, jangan tunda lagi segera konsumsi ikan terutama yang mengandung omega-3 seperti tenggiri, patin, lemuru dan sardin. Dengan mengkonsumsi ikan berarti anda telah membantu melindungi anak-anak anda melawan sejumlah penyakit pada saat anak-anak anda menjadi dewasa kelak. Peneliti juga menyarankan bagi wanita yang tidak mengkonsumsi ikan perlu mempertimbangkan suplemen minyak ikan. Hanya saja, perlu diketahui juga bahwa tidak semua ikan direkomendasikan untuk wanita hamil. The UK Standards Agency menyarankan agar wanita hamil menghindari mengkonsumsi ikan yang diduga mengandung merkuri yang relatif lebih tinggi
Sabtu, 13 April 2019
Membuat Pakan Ikan Murah
Pokdakan Tambak Makmur di Rembang berhasil membuat pakan ikan dari telur ayam gagal tetas. Ujicoba pada bandeng menunjukkan hasil bagus. Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari) mendapat respons positif dari pelaku usaha budidaya. Hal ini dikarenakan harga pakan ikan makin tinggi, tapi tak diikuti kenaikan harga jual ikan.
Akibatnya, tingkat keuntungan pembudidaya rendah bahkan merugi. Upaya pembuatan pakan ikan mandiri berbasis bahan baku lokal yang lebih murah terus dilakukan masyarakat. Namun masih terhambat berbagai faktor yaitu penyediaan sarana (mesin pelet), rendahnya pengetahuan tentang formula pakan ikan, dan lain-lain.
Terobosan dalam membuat pakan ikan mandiri dilakukan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Tambak Makmur yang berlokasi di Desa Tritunggal, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kelompok binaan BBPBAP Jepara yang merupakan salah satu UPT Ditjen Perikanan Budidaya, itu mencoba memanfaatkan telur ayam infertil (gagal tetas) sebagai bahan baku pakan ikan. Selain berkadar protein tinggi, telur gagal tetas ini juga merupakan bahan yang ekonomis dalam memproduksi pakan ikan mandiri.
Kebetulan di daerah Rembang banyak terdapat perusahaan penetasan telur ayam yang menghasilkan banyak telur gagal tetas. Ketua Pokdakan Tambak Makmur, Tris, mengatakan bahwa untuk menghasilkan 500 kg pakan per hari, diperlukan telur infertil sebanyak 200 kg. Lalu, dicampur dengan tepung daging anak ayam 200 kg, telur retak 50 kg, silase artemia dewasa sebanyak 5 liter, dedak halus 50 kg dan tapioka 5 kg. Semua bahan dicampur dan diaduk secara merata.
Menurut Tris, untuk menghasilkan pakan pasta, campuran ini ditambah air 350 ml untuk tiap 1 kg. Sedangkan untuk membuat pakan berbentuk pelet ditambahkan air 250 ml per 1 kg campuran. Kemudian diaduk hingga rata dan selanjutnya bahan adonan dicetak menjadi pelet dengan mesin cetak pelet (mesin giling daging).
Hasilnya sangat memuaskan. Dari hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa ikan bandeng yang diberi pakan buatan dari telur infertil ini tumbuh cepat mencapai ukuran 5-6 ekor/kg selama pemeliharaan 4 bulan. Sedangkan ikan bandeng yang tanpa diberi pakan ini hanya mampu mencapai ukuran 12 ekor/kg dengan lama pemeliharaan yang lebih lama, 12 bulan. Hasil pada ikan lele pun sama memuaskannya, sedangkan pada udang baru dilakukan uji coba, dan belum diketahui hasilnya. Terobosan yang dilakukan Pokdakan Tambak Makmur membuktikan bahwa pakan ikan murah dapat dibuat menggunakan bahan baku telur gagal tetas, dengan hasil yang sangat bagus.
Pakan ikan murah ini terbukti mampu menghemat biaya penggunaan pakan sebesar Rp 3.000 per kg dibandingkan jika menggunakan pakan pabrikan. Pakan memang merupakan ongkos produksi terbesar dalam usaha budidaya ikan. Karena itu, para pembudidaya ikan dituntut melakukan terobosan untuk menekan biaya itu.
Sumber : Pakan Buatan dari Telur Infertil. Tabloid Akuakultur Indonesia. Edisi No.15 Th 3 Mei - Juni 2015
Akibatnya, tingkat keuntungan pembudidaya rendah bahkan merugi. Upaya pembuatan pakan ikan mandiri berbasis bahan baku lokal yang lebih murah terus dilakukan masyarakat. Namun masih terhambat berbagai faktor yaitu penyediaan sarana (mesin pelet), rendahnya pengetahuan tentang formula pakan ikan, dan lain-lain.
Terobosan dalam membuat pakan ikan mandiri dilakukan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Tambak Makmur yang berlokasi di Desa Tritunggal, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kelompok binaan BBPBAP Jepara yang merupakan salah satu UPT Ditjen Perikanan Budidaya, itu mencoba memanfaatkan telur ayam infertil (gagal tetas) sebagai bahan baku pakan ikan. Selain berkadar protein tinggi, telur gagal tetas ini juga merupakan bahan yang ekonomis dalam memproduksi pakan ikan mandiri.
Kebetulan di daerah Rembang banyak terdapat perusahaan penetasan telur ayam yang menghasilkan banyak telur gagal tetas. Ketua Pokdakan Tambak Makmur, Tris, mengatakan bahwa untuk menghasilkan 500 kg pakan per hari, diperlukan telur infertil sebanyak 200 kg. Lalu, dicampur dengan tepung daging anak ayam 200 kg, telur retak 50 kg, silase artemia dewasa sebanyak 5 liter, dedak halus 50 kg dan tapioka 5 kg. Semua bahan dicampur dan diaduk secara merata.
Menurut Tris, untuk menghasilkan pakan pasta, campuran ini ditambah air 350 ml untuk tiap 1 kg. Sedangkan untuk membuat pakan berbentuk pelet ditambahkan air 250 ml per 1 kg campuran. Kemudian diaduk hingga rata dan selanjutnya bahan adonan dicetak menjadi pelet dengan mesin cetak pelet (mesin giling daging).
Hasilnya sangat memuaskan. Dari hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa ikan bandeng yang diberi pakan buatan dari telur infertil ini tumbuh cepat mencapai ukuran 5-6 ekor/kg selama pemeliharaan 4 bulan. Sedangkan ikan bandeng yang tanpa diberi pakan ini hanya mampu mencapai ukuran 12 ekor/kg dengan lama pemeliharaan yang lebih lama, 12 bulan. Hasil pada ikan lele pun sama memuaskannya, sedangkan pada udang baru dilakukan uji coba, dan belum diketahui hasilnya. Terobosan yang dilakukan Pokdakan Tambak Makmur membuktikan bahwa pakan ikan murah dapat dibuat menggunakan bahan baku telur gagal tetas, dengan hasil yang sangat bagus.
Pakan ikan murah ini terbukti mampu menghemat biaya penggunaan pakan sebesar Rp 3.000 per kg dibandingkan jika menggunakan pakan pabrikan. Pakan memang merupakan ongkos produksi terbesar dalam usaha budidaya ikan. Karena itu, para pembudidaya ikan dituntut melakukan terobosan untuk menekan biaya itu.
Sumber : Pakan Buatan dari Telur Infertil. Tabloid Akuakultur Indonesia. Edisi No.15 Th 3 Mei - Juni 2015
Langganan:
Postingan (Atom)



