Sabtu, 13 April 2019

Membuat Pakan Ikan Murah

Pokdakan Tambak Makmur di Rembang berhasil membuat pakan ikan dari telur ayam gagal tetas. Ujicoba pada bandeng menunjukkan hasil bagus. Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari) mendapat respons positif dari pelaku usaha budidaya. Hal ini dikarenakan harga pakan ikan makin tinggi, tapi tak diikuti kenaikan harga jual ikan.

Akibatnya, tingkat keuntungan pembudidaya rendah bahkan merugi. Upaya pembuatan pakan ikan mandiri berbasis bahan baku lokal yang lebih murah terus dilakukan masyarakat. Namun masih terhambat berbagai faktor yaitu penyediaan sarana (mesin pelet), rendahnya pengetahuan tentang formula pakan ikan, dan lain-lain.

Terobosan dalam membuat pakan ikan mandiri dilakukan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Tambak Makmur yang berlokasi di Desa Tritunggal, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kelompok binaan BBPBAP Jepara yang merupakan salah satu UPT Ditjen Perikanan Budidaya, itu mencoba memanfaatkan telur ayam infertil (gagal tetas) sebagai bahan baku pakan ikan. Selain berkadar protein tinggi, telur gagal tetas ini juga merupakan bahan yang ekonomis dalam memproduksi pakan ikan mandiri.

Kebetulan di daerah Rembang banyak terdapat perusahaan penetasan telur ayam yang menghasilkan banyak telur gagal tetas. Ketua Pokdakan Tambak Makmur, Tris, mengatakan bahwa untuk menghasilkan 500 kg pakan per hari, diperlukan telur infertil sebanyak 200 kg. Lalu, dicampur dengan tepung daging anak ayam 200 kg, telur retak 50 kg, silase artemia dewasa sebanyak 5 liter, dedak halus 50 kg dan tapioka 5 kg. Semua bahan dicampur dan diaduk secara merata.

Menurut Tris, untuk menghasilkan pakan pasta, campuran ini ditambah air 350 ml untuk tiap 1 kg. Sedangkan untuk membuat pakan berbentuk pelet ditambahkan air 250 ml per 1 kg campuran. Kemudian diaduk hingga rata dan selanjutnya bahan adonan dicetak menjadi pelet dengan mesin cetak pelet (mesin giling daging).

Hasilnya sangat memuaskan. Dari hasil percobaan di lapangan menunjukkan bahwa ikan bandeng yang diberi pakan buatan dari telur infertil ini tumbuh cepat mencapai ukuran 5-6 ekor/kg selama pemeliharaan 4 bulan. Sedangkan ikan bandeng yang tanpa diberi pakan ini hanya mampu mencapai ukuran 12 ekor/kg dengan lama pemeliharaan yang lebih lama, 12 bulan. Hasil pada ikan lele pun sama memuaskannya, sedangkan pada udang baru dilakukan uji coba, dan belum diketahui hasilnya. Terobosan yang dilakukan Pokdakan Tambak Makmur membuktikan bahwa pakan ikan murah dapat dibuat menggunakan bahan baku telur gagal tetas, dengan hasil yang sangat bagus.

Pakan ikan murah ini terbukti mampu menghemat biaya penggunaan pakan sebesar Rp 3.000 per kg dibandingkan jika menggunakan pakan pabrikan. Pakan memang merupakan ongkos produksi terbesar dalam usaha budidaya ikan. Karena itu, para pembudidaya ikan dituntut melakukan terobosan untuk menekan biaya itu.



Sumber : Pakan Buatan dari Telur Infertil. Tabloid Akuakultur Indonesia. Edisi No.15 Th 3 Mei - Juni 2015

Minggu, 07 April 2019

Kurangi Resiko Asma pada Anak-Anak, Makan Ikan


Asma adalah penyakit umum yang dapat berakibat fatal. Asma masih menjadi penyakit misterius tetapi gejalanya menyebabkan radang pada tubuh dan menjadi pencetus turunnya kekebalan tubuh. Para peneliti medis mengungkapkan, sekitar 1 dari sepuluh anak dan 1 dari 20 orang dewasa adalah penderita asma. Peneliti medis menyelidiki efek berbagai anti-inflammatory yang dikandung oleh makanan dan obat/racun terhadap penyakit asma. Penelitian yang dilakukan oleh salah satu peneliti Amerika Serikat menunjukkan hasil yang mendukung penelitian sebelumnya yaitu ikan bermanfaat untuk menurunkan risiko penyakit asma pada anak-anak.

Penelitian ini dititik beratkan pada pengaruh tingkat kandungan bahan kimia pro-inflammatory terhadap serangan asma. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap observasi dan tahap uji percobaan klinis. Tahap observasi dilakukan untuk mengetahui hubungan statistik antara tingkat asma atau tingkat bahan-bahan kimia pro-inflammatory yang berhubungan dengan asma. Sedangkan tahap uji percobaan klinis dilakukan untuk mengetahui tingkat penurunan risiko serangan asma dan tingkat bahan kimia pro-inflammatory pada darah.

Hasil dua studi yang dipublikasikan oleh salah satu peneliti Amerika Serikat tersebut dan hasil investigasi lainnya di Belanda mengindikasikan bahwa ibu hamil penderita asma yang mengkonsumsi ikan dengan kandungan omega-3 tinggi dapat mengurangi risiko asma pada anak yang dilahirkan. Salah satu efek omega-3 pada ikan adalah mengurangi peradangan yang berlebihan pada tubuh dengan cara menurunkan produksi bahan-bahan kimia tubuh yang dapat mempengaruhi radang termasuk eicosanoid, radikal bebas, cytokines dan lainnya. Hubungan jumlah omega-3 pada ikan dengan pencegahan dan penurunan gejala asma menjadi dasar rancangan penelitian untuk menguji hipotesis ini.

Asumsi yang sama juga digunakan oleh peneliti Australia untuk mengetahui pengaruh omega-3 pada wanita hamil terhadap risiko alergi pada anak yang dilahirkan. Pada penelitian tersebut responden diberi perlakuan dengan mengkonsumsi suplemen omega-3 sejak 5 bulan setelah terjadinya pembuahan sampai dengan melahirkan. Hasilnya menunjukkan bahwa anak pada umur satu tahun yang dilahirkan dari ibu tersebut memproduksi bahan kimia pro- inflammatory (cytokines) yang lebih rendah dan menunjukkan gejala alergi makan telur 3 kali lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak mengkonsumsi omega-3. Cytokines adalah bahan kimia pro-inflammatory yang merupakan penyebab utama alergi. Beberapa penelitian yang dilakukan pada anak juga menunjukkan bahwa anak-anak muda yang banyak mengkonsumsi ikan, biji-bijian dan susu dapat menurunkan risiko asma. Bagi ibu dan anak-anak penderita asma, segera perbanyak konsumsi ikan yang mengandung omega-3 tinggi karena omega 3 pada ikan ternyata berfungsi menurunkan produksi bahan kimia proinflammatory atau berfungsi sebagai anti peradangan.

Manfaat optimal ikan diperoleh dari ikan yang berkualitas baik. Untuk itu, penanganan ikan dengan benar semenjak ditangkap/dipanen hingga disantap perlu mendapat perhatian.

Sumber Diolah : Ditjen P2HP

Sabtu, 06 April 2019

Kurangi Resiko Diabetes pada Anak-Anak dengan Makan Ikan

Belum lama ini, Journal of the American Medical Assosiciation (JAMA) telah mempublikasikan studi internasional baru tentang peran makan ikan yang dapat mengurangi risiko penyakit diabetes pada anak-anak.

Dalam studi tersebut disimpulkan bahwa sebuah pola makan (diet) yang kaya dengan minyak omega3, yang ditemukan melimpah pada ikan dan berbagai seafood lainnya dapat memotong peluang risiko sebesar 55 % terhadap diabetes tipe 1 pada anak-anak. Hal ini merupakan temuan yang sangat penting bagi anak-anak di Autralia, karena rerata kasus penyakit ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain. Studi dilakukan selama 6 tahun, melibatkan 1700 anak-anak dan diklaim sebagai penelitian yang pertama mengaitkan dengan diet anak-anak (diatas balita). Studi diketuai oleh Dr. Jill Norris, epidemilogist dari Universitas Colorado, Amerika Serikat. Temuan tersebut sangat signifikan dan menggembirakan karena nampaknya dimungkinkan untuk mengatasi suatu penyakit melalui intervensi nutrisi.

Penyakit dibetes tipe 1, umumnya diwariskan, sehingga penelitian difokuskan kepada anak-anak yang berisiko tinggi, yaitu yang mempunyai jenis genetis (genotype) berisiko tinggi atau yang mempunyai orang tua atau saudara kandung penderita diabetes. Para peneliti menemukan bahwa, anak-anak yang banyak makan ikan, kacang-kacangan dan pangan sumber asam lemak omega-3 lainnya berkurang 55 % kemungkinannya menjadi penderita diabetes. Pemerintah Federal Australia melalui Institute of Health & Welfare (AIHW) baru-baru ini mengumumkan data, kasus baru diabetes tipe 1 pada anak-anak yang cukup meningkat dan menuntut perhatian lebih. Diantara 6100 anak-anak dibawah usia 15 tahun yang telah menderita diabetes tipe 1 lebih dari 7 tahun, jumlah kasusnya telah meningkat, naik dari 19 menjadi 23 per 100.000 anak pada periode tahun 2000 - 2005.

Adanya temuan baru untuk pengobatan maupun pencegahan penyakit melalui intervensi nutrisi ini sangat penting, tidak hanya bagi anak yang bersangkutan tetapi juga bagi kedua orang tuanya. Meskipun penelitian tersebut baru mampu menunjukkan penurunan risiko, tetapi hal tersebut telah merupakan langkah awal yang menjanjikan. Diduga zat penting dari omega3 yang paling berpengaruh adalah kandungan anti-inflamatory yang cukup tinggi. Diantara pertanyaan yang ditujukan kepada orang tua anak dalam daftar kuisioner adalah
ukuran porsi makan ikan dari anak yang menjadi obyek penelitian yaitu sekitar 85 gram hingga 115 gram, dengan kisaran dari tidak pernah hingga 6 kali atau lebih dalam sehari. Secara spesifik, mereka ditanya tentang frekuensi makan tuna, mackarel, salmon, sardin, tailor dan swordfish, serta ikan lainnya, udang, lobster dan scallop. Hal yang menarik dalam penelitian tersebut adalah, adanya 45 anak dalam kelompok tersebut yang paling berpeluang untuk menderita diabetes tipe 1 adalah anak-anak yang paling sedikit mengkonsumsi omega3 dari ikan dan sumber lainnya.

Tentu saja, kepada orang tua yang mempunyai anak bermasalah dengan diabetes tipe 1 sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan advis medis langsung yang lebih pribadi sifatnya. Bagimanapun hasil studi di Amerika Serikat tersebut telah membawa pencerahan dan bahwa makan ikan sangat bermanfaat bagi semua kelompok umur.

“Para peneliti menemukan bahwa, anak-anak yang banyak makan ikan, kacang-kacangan dan pangan sumber asam lemak omega3 lainnya berkurang 55 % kemungkinannya menjadi penderita diabetes”

Sumber Diolah : Ditjen P2HP

Selasa, 02 April 2019

Penyakit Ikan Hias Air Tawar

Perhatikan ikan-ikan hias air tawar yang Anda pelihara. Apakah sehat atau sakit? Kenali tanda-tanda ikan sakit, yaitu gerakan yang lemah dan lambat, pertumbuhan yang lambat, perkembangan tubuh yang tidak sempurna atau cacat, dan warna sisiknya yang pudar. Selalu perhatikan hal yang tidak wajar pada ikan Anda. Ini karena ada banyak penyakit yang bisa melanda ikan hias tanpa Anda sadari sebelumnya jika tidak awas. Akibatnya bisa berujung kematian pada ikan. Penyakit-penyakit tersebut bisa disebabkan oleh bakteri, jamur, protozoa, learnea, dan kutu ikan. Berikut adalah beberapa jenis penyakit pada ikan hias yang harus diwaspadai.
Infeksi Jamur dan White Spot
Jamur bisa menyerang hampir seluruh jenis ikan. Bentuknya seperti benang-benang berwarna putih kecokelatan. Biasanya tumbuh subur di luka pada tubuh ikan. Awalnya mungkin tidak berbahaya, namun jika tidak diberantas, ikan yang terkena bisa kekurangan nutrisi. Gejalanya adalah tubuh ikan yang mengurus dan tampak benang-benang halus di sekitar ikan. Cara memberantasnya adalah dengan menjaga kebersihan air akuarium dan bila perlu menggunakan rendaman PK. Cukup satu teteskan satu tetes PK ke dalam sekitar 2 liter air dan diamkan selama 10 menit, kemudian kuras. 
Penyakit lainnya yang bisa menyerang ikan hias air tawar adalah white spot atau bintik putih. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa dan menyerang lapisan lendir di insang, sirip, maupun ekor ikan. Mikroorganisme yang menyerang bergerombol membentuk gumpalan putih, maka itu disebut penyakit bintik putih. Penyakit ini sangat menular dan tergolong sulit diberantas. Gejalanya, selain terlihat bintik putih di tubuh, adalah pernpasan ikan meningkat, ikan malas berenang, tubuhnya jadi lebih berlendir, warna badan pucat, dan jadi sering berenang di permukaan untuk mengambil udara. Untuk mengobati, pisahkan ikan yang sakit dari ikan lainnya, kemudian teteskan cairan obat (blitz ich) satu tetes untuk 1 liter air, atau campurkan obat Gold 100 sekitar 5-10 gram ke dalam tiap 500 liter air. 
Busuk Sirip
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang menyerang sirip yang awalnya memang sudah terluka, kemungkinan karena digigit ikan lain. Bakteri ini akan menggerogoti sirip ikan dan membuatnya tampak busuk, sehingga hanya menyisakan sedikit di bagian pangkal. Gawatnya, penyakit ini sering diikuti penyakit jenis lain yang bisa memperparah kondisi ikan. Untuk mengobatinya, rendam ikan ke dalam larutan antibiotik. Lama waktu rendaman tergantung dengan jenis antibiotik yang digunakan. Untuk antibiotik yang keras, merendam ikan hanya boleh sekitar 10 menit, sedangkan untuk antibiotik biasa, bisa dilakukan rendaman sekitar 5 jam. Konsultasikan jenis antibiotik apa yang harus digunakan untuk ikan hias air tawar Anda dengan yang sudah berpengalaman. 

Sabtu, 30 Maret 2019

Pemijahan Ikan Arwana

Setiap tahun arwana 2 kali memijah. Namun, jumlah telur dan masa birahi induk mencari pasangan dengan cara saling berkejaran satu dengan yang lain. Pasangan berjodoh akan berenang berduaan dipinggir kolam dan memisahkan diri dari kelompok sampai saat berpijah. Untuk menjaga pasangannya, induk berjodoh akan melawan jika ada induk lain yang mendekat.

Jika masa pendekatan selesai, pasangan siap kawin. Namun, proses pemijahan tidak berlangsung begitu saja. Daya rangsang luar seperti curah hujan, suhu, pH, dan kondisi air mengalir akan mempengaruhi induk betina melepas sel telur. Arwana memijah setelah 2-3 hari hujan sehingga suhu air turun menjadi sekitar 27 derajat C. Setelah itu tidak ada hujan selama 2-3 minggu sampai suhu air meningkat menjadi 29 derajat C.

Begitu betina mengeluarkan telur, jantan segera menyemprotkan sperma. Proses itu berlangsung di dasar kolam selama 20-30 menit. Telur di buahi akan diambil dan disimpan di dalam mulut si jantan. Induk betina akan menjaga dan melindungi jantan dari gangguan di sekitarnya.


Proses pemijahan hingga pembuahan berlangsung 3 bulan. Sedangkan masa pengeraman di dalam mulut 40-41 hari. Selama itulah induk jantan berpuasa. Ukuran mulut jantan menjadi lebih besar dan rahang bawah menggelembung. Hingga menetas larva tetap tersimpan dalam mulut induk jantan. Setelah mampu berenang pada umur sekitar 2 minggu, larva dimuntahkan keluar dari mulut si jantan. Jika ini dibiarkan larva yang baru menetas dapat dimakan kembali oleh si induk atau di mangsa arwana lain. Karena itu larva perlu di panen paksa sebelum masa pengeraman berakhir.


Sumber :
Suharyadi. 2011. Budidaya Ikan Arwana. Materi Penyuluhan Perikanan. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan - BPSDMKP. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Jumat, 29 Maret 2019

Memelihara Larva Ikan Arwana

Larva yang baru dipanen ditempatkan di akuarium bervolume air 100 liter. Kepadatan 10-15 ekor larva per akuarium. Pakan belum diberikan karena di kantung perut masih menempel kuning telur (yolksak) sebagai sumber nutrisi. Perhatikan kesehatan larva dan kualitas air. Itu untuk menjamin daya hidup (survival rate) hingga 75-90%. Gunakan air tanah untuk pemeliharaan larva. Saring dan endapkan lebih dahulu sebelum di gunakan. Kadar besi maksimal 0,4 ppm, suhu air 28oC, dan pH 6,5-7. Perubahan suhu dan pH secara mendadak menyebabkan kematian larva.

Pemasangan heater selama1x24 jam dan lampu akuarium menjaga suhu tetap stabil. Untuk menjaga pH stabil sebaiknya ganti air secara teratur dan kontinu 3 x sehari. Caranya, sedot air akuarium dan kotoran yang mengendap. Saat tinggi air sekitar2-3 cm air baru dimasukkan ke akuarium, tetapi penyedot tetap dilakukan hingga semua kotoran terbuang. Kebutuhan oksigen dipenuhi dengan memasang aerator.

Pakan baru diberikan setelah kuning telur habis dikonsumsi larva. Saat itu larva 1,5 bulan dengan panjang 7-8 cm. jenis pakan untuk larva berupa udang atau ikan kecil berukuran 1-2 cm. pakan diberikan sedikit demi sedikit hingga larva menolak makan.

Arwana siap jual jika ukuran mencapai ukuran 12 cm, atau 2 bulan setelah panen. Sesuai peraturan CITES arwana harus dipasangi mikrocip sebelum diperdangangkan. Ini sebagai tanda arwana hasil tangkaran.

Sumber :
Suharyadi. 2011. Budidaya Ikan Arwana. Materi Penyuluhan Perikanan. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan - BPSDMKP. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Rabu, 27 Maret 2019

Persiapan Induk Ikan Arwana Untuk Pemijahan

Calon induk berumur 5-6 tahun. Panjang tubuh 60 cm dan bobot sekitar 4 kg. Agar menghasilkan anakan yang murni dan berkualitas, strain kedua calon induk harus sama. Hindari meyatukan ikan berbeda strain dalam satu kolam Syarat lain, calon induk sehat dan bebas penyakit.
Ikan cacat bungkuk tidak layak dijadikan induk. Sebab, perut mengerut sehingga kualitas sel telur kurang baik dan mudah mati. Yang juga dihindari sebagai induk ikan bertutup insang tidak menututup sempurna, terutama pada induk jantan. Sebab, ia kesulitan mengerami telur didalam mulut. Cacat lain seperti sungut terputus, ekor patah, atau sisik berdiri masih layak. Sebab, tidak mempengaruhi kualitas telur dan anakan.

Hingga saat ini belum ada satu pun penakar yang bisa menentukan jenis kelamin arwana secara akurat. Dari pengamatan bertahun-tahun, beberapa penangkar berpengalaman memberikan beberapa criteria penentuan jenis kelamin.

Arwana jantan:
-    bertubuh lebih panjang dan ramping
-    Kepala besar, mulut agak lebar,
-    dada dan sirip dada lebih panjang, serta 
-    sirip punggung menyempit. 

Arwana Betina:
-    tubuh lebih pendek, lebar, dan agak gemuk. 
-    Kepala meruncing dengan mulut lebih kecil. 
-    Dada dan sirip dada lebih pendek, dan 
-    sirip punggung melebar.

Hampir tidak ada pedagang yang menjual induk siap pijah berumur di atas 5 tahun. Kebanyakan calon penakar mendapatkan induk dari hobiis yang bosen dengan arwana dewasa. Karena langka, calon penangkar harus menyiapkan calon induk dari ukuran kecil. Mereka mesti menunggu waktu 4-5 tahun. Keuntungannya, harga lebih murah dan kualitas terjamin. Pembesaran calon induk sebaiknya bertahap. Selain disesuaikan dengan ruang gerak dan aktivitas ikan, cara ini juga mempermudah pemeliharaan dan perawatan.

Calon induk berumur dibawah dua tahun, atau panjang dibawah 30-35 cm dipelihara diakuarium 60 cmx 60 cm x 120 cm, atau 80 cm x 70 cm x 150 cm. Setiap akuarium diisi 5- 10 ekor. Yang berukuran lebih besar di pelihara dibak fiber 2 m x 1 m x 1 m hingga berumur 5 tahun. Kepadatan sebuah bak 4 – 5 ekor.
Pakan induk arwana berupa kodok, ikan kecil,kelabang, kecoak,dan udang. Ikan segar seperti teri juga bisa diberikan. Sebelum diberikan kepada arwana, kodok yang baru dibeli ditampung dalam bak fiber untuk dicuci bersih. Dosis pakan 1-2 kg/hari/20 induk. Satwa amfibi itu diberikan dengan cara dilempar satu per satu hingga habis tersantap. Pemberian pakan sebaiknya pada sore hari pukul 16.30 agar ikan mau naik ke permukaan untuk menyantap pakan.

Sumber : Suharyadi. 2011. Budidaya Ikan Arwana. Materi Penyuluhan Perikanan. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan - BPSDMKP. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta