Minggu, 16 Juni 2019

Budidaya Ikan Oscar

Ikan oscar adalah salah satu jenis ikan hias yang banyak digemari oleh kalangan hobiis, karena ikan ini memiliki komposisi warna yang menarik sehingga dalam pemeliharaannya, ikan ini memerlukan makanan dan perawatan khusus. Bercak warna indah yang menempel pada tubuhnya tidak akan muncul apabila ikan ini mengalami stres. Terjadinya stres dapat merupakan satu langkah awal terserangnya ikan ini oleh organisme penyabab penyakit, sehingga selain pengetahuan tentang cara perawatan yang baik, pengetahuan tentang penyakit yang sering menyerang ikan oscar dan cara-cara menanggulanginya, perlu dimiliki oleh para hobiis ataupun para pembudidaya ikan hias ini. 

DESKRIPSI IKAN OSCAR
Sistematika 
     Ordo    : Percomorpjoidei
     Famili    : Cichlidae
     Genus    : Astronotus
     Spesies     : Astronotus acellatus, Cuvier

Morfologi 
Ikan Oscar memiliki bentuk tubuh yang mirip dengan ikan nila, ia memiliki kepala yang besar dengan mulutnya lebar, bergerigi, agak meruncing, dan terletak di tengah (terminal). Sirip punggung (dorsal fin) berbentuk lebar yang ujungnya bersebrangan dengan sirip dada (pectoral fin), serta ujung sirip punggung dan sirip anus meruncing agak tumpul. Sirip ekornya berbentuk bulat (rounded).
Tubuhnya dilapisi warna dasar bervariasi, akan tetapi lebih sering ditemukan Oscar yang memiliki warna dasar hijau zaitun gelap atau coklat tua dengan coretan dan bintik-bintik tidak beraturan di bagian sisi yang berasal dari sisik yang berwarna kuning keemasan atau kemerah-merahan. Ikan jantan mempunyai beberapa tanda merah menyala pada tutup insang dan dekat daerah perut di samping. Kecerahan warna ikan ini sering berganti-ganti tergantung pada kondisi ikan. Ikan ini memiliki pergerakan yang gesit karena ditunjang dengan bentuk badan yang langsing, pipih ke samping (compressed).

Tingkah Laku
Ikan oscar  termasuk ikan yang cerdas, karena ikan ini mudah mengenali pemiliknya. Selain itu, dapat kita ketrahui bahwa ikan ini juga sensitif terhadap gerakan, intesnsitas cahaya, dan irama akan tetapi ikan ini jugamempunyai kebiasaan merusak atau mengganggu ornamen-ornamen yang ada di dalam akuarium.

Ikan oscar dewasa termasuk ikan buas, karena ia mempunyai kebiasaan memakan ikan-ikan yang berukuran kecil terlebih jika ikan itu bukan dari famili yang sama dengannya. Ikan oscar dapat hidup rukun apabila dipelihara dengan ikan dari Famili Chiclidae lainnya yang memiliki ukuran tubuh sama dengannya.

Makanan
Makanan yang biasa diberikan pada ikan oscar sangat variatif seperti ikan-ikan kecil, jentik nyamuk, ataupun potongan-potongan ikan lainnya. Akan tetapi, untuk menghasilkan ikan oscar yang memiliki kualitas warna yang baik, maka sebaiknya makanan yang diberikan pada ikan ini adalah makanan yang mengandung zat chitine. Jenis makanan yang mengandung zat chitine kebanyakan adalah makanan alami berupa hewan-hewan yang memiliki cangkang seperti kutu air, udang  kali, rayap, dan lain-lain.

Reproduksi
Ikan oscar dapat dipijahkan setelah mencapai ukuran panjang 15 cm dengan lebar 10 cm. Telur hasil pemijahan akan ditempatkan oleh induk oscar pada substrat yang memiliki permukaan licin seperti kaca, porselin, ataupun pecahan genting, dan selanjutnya akan dijaga oleh induk sampai telur tersebut menetas.

Ikan oscar dapat bertelur setiap 10 hari sekali dengan jumlah telur sekitar 1000-3000 butir per induk. Sepasang induk oscar dapat dipijahkan sampai 5 musim pemijahan atau sampai berumur 7 tahun. Semakin tua umur ikan oscar, maka kuantitas telur yang dihasilkannyapun akan semakin menurun. 

TEKNIK PEMBENIHAN
Persiapan Sarana Pemijahan
Sarana pemijahan yang sering dipakai untuk memijahkan ikan oscar adalah berupa bak semen dengan ukuran 2 x 2 x 0,5 m. Sebelum digunakan, bak pemijahan dipersiapkan terlebih dahulu dengan melakukan kegiatan pembersihan bak dari kotoran dan sampah-sanpah. Apabila bak yang akan dipakai adalah bak yang baru dibuat, maka sebaiknya bak tersebut direndam dengan air sumur selama 4 minggu dengan perlakuan setiap 2 minggu sekali bak dikuras. Setelah itu lakukan penjemuran terhadap bak pemijahan, hal ini dilakukan selain untuk memberikan rangsangan terhadap oscar, juga untuk membunuh bibit penyakit yang diperkirakan bersarang dalam bak.

Setelah bak pemijahan disiapkan, selanjutnya air dimasukan ke dalam bak dengan ketinggian 25-30 cm. Sumber air yang dapat digunakan adalah air sumur ataupun air PAM, akan tetapi air tersebut perlu diendapkan selama 12-24 jam.

Substrat (Penempel Telur)
Telur ikan oscar bersifat adhesiv, artinya telur memerlukan tempat untuk menempel (substrat). Jenis substrat yang biasa digunakan dalam pemijahan ikan oscar adalah berupa batu yang memiliki permukaan datar ataupun bahan lain yang memiliki permukaan licin, seperti pecahan genting, porselin, kaca ataupun pipa paralon.

Sebelum dimasukan ke dalam bak pemijahan, substrat yang akan dipakai sebaiknya dicuci dahulu untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel agar tidak mengganggu telur. Jumlah substrat yang dimasukan disesuaikan dengan jumlah induk oscar yang akan dipijahkan. Untuk setiap pasangan induk oscar yang akan dipijahkan, cukup diberikan substrat 1 saja, dan substrat tersebut kita simpan di bagian sudut bak. Ukuran substrat yang ideal biasanya adalah 15 x 20 cm atau 20 x 20 cm.

Pemasukan Induk
Ikan oscar dapat dipijahkan dengan perbandingan induk jantan dan betina 1 : 1. Jumlah induk oscar yang akan dipijahkan, sebaiknya disesuaikan  dengan ukuran bak pemijahan 2 x 2 m dapat dimasukan induk sebanyak 4 pasang.

Proses Pemijahan
Proses pemijahan pada ikan oscar dimulai dengan gerakan-gerakan lincah dari induk jantan untuk memikat induk betina, kemudian kedua induk akan mencari tempat yang dianggap cocok dan membersihkannya. Setelah itu, induk betina akan mulai mengeluarkan telurnya di permukaan substrat, dan induk jantan akan langsung mengeluarkan spermanya untuk membuahi telur-telur tersebut.

Telur-telur hasil pemijahan tadi, akan dijaga oleh kedua induk, akan tetapi sering pula terjadi induk oscar memakan telur-telurnya kembali karena ia kekurangan makanan. Oleh karena itu untuk mencegah hal itu terjadi, maka sebaiknya telur-telur tadi kita pindahkan ke tempat lain untuk ditetaskan.

Penetasan Telur
Telur-telur hasil pemijahan sebaiknya di tetaskan di dalam wadah terpisah dengan bak pemijahan. Wadah yang biasa digunakan adalah akuarium yang diisi air setinggi 6-8 cm. Akuarium tersebut kita tempatkan pada tempat yang terlindung dari hujan dan panas yang berlebihan. Akuarium penetasan sebaiknya di aerasi untuk memenuhi kebutuhan oksigen terlarut bagi telur. Gelembung udara yang dihasilkan oleh aerator jangan terlalu besar, hal ini bertujuan agar telur tidak terganggu.
Dalam waktu 3 hari, telur-telur yang kita tetaskan biasanya sudah mulai menetas. Larva ikan oscar tidak langsung kita beri makan, karena ia masih memiliki kantung kuning telur sebagai sumber makanannya. Pada umur 4 hari benih sudah mulai diberi makanan alami berupa kutu air. Benih yang dapat dihasilkan dari sepasang induk adalah 1000-3000 ekor.

Perawatan 
Larva yang telah menetas selanjutnya kita pelihara di dalam akuarium penetasan sampai berumur 1 bulan. Selama pemeliharaan, ketinggian air dalam akuarium ditingkatkan secara bertahap setiap 7 hari sekali yaitu dari 6 cm menjadi 10 cm, 15 cm dan 20 cm.
Setelah berumur 1 bulan, benih-benih tersebut kita pelihara dalam bak berukuran 4 m2 dengan kepadatan 250 ekor per m2. Selama pemeliharaan, benih di beri makanan berupa kutu air ataupun cacing sutera. Makanan diberikan sebanyak 2-3 kali sehari secara adlibitum.



DAFTAR PUSTAKA
Afriantio, Eddy dan Evi Liviawati. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius. Yogyakarta : 1993
Daelami, Deden. Agar Ikan Sehat. Penebar Swadaya, Jakarta : 2001
Hakim A.R. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Oscar Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
http://www.google.com/imgres?imgurl=https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMmG3Mbawo0YkniSM-mZ_JuGcnt6rN_3ZHFZTPrPtFHwBJzZEGxTN3VjivYispKL-yNGMGtMC3xDkKq4uaAcgc8TI8HyCO0u0EBA00Ix2sXKxAnuPS2u-4u4IBXRXZxdYnzcyLRTDYbMVy/s400/Ocellatus.jpg&imgrefurl=http://uplixs-fish.blogspot.com/2007/11/oscar.html&h=257&w=388&sz=38&tbnid=QE2gTkHEfv_eOM:&tbnh=90&tbnw=136&zoom=1&usg=__jOMO3teBbgMwkC7t4WPH3NSfqy8=&docid=uLqxf6Moe9_QMM&hl=id&sa=X&ei=d36IUZuDKsX_rQfvlIGoAQ&sqi=2&ved=0CDMQ9QEwAg&dur=2980
Susanto, Heru. Oscar. Penebar Swadaya. Jakarta : 1993

Jumat, 14 Juni 2019

Tiram Berkhasiat untuk Keharmonisan Rumah Tangga


Keharmonisan rumah tangga tentu menjadi dambaan bagi pasangan suami istri. Berbagai tips untuk menjaga keharmonisan pasangan suami istri baik mengenai perilaku, komunikasi, penampilan, kesehatan maupun keintiman telah banyak dipublikasikan. Terkait dengan kemesraan pasutri, beberapa penelitian telah menemukan bahan pangan dengan kandungan nutrisi tertentu dapat mempengaruhi aktivitas seksual. Beberapa bahan pangan tersebut adalah tiram (oyster), remis (sejeniskerang), lobster dan kaviar.

Komposisi nutrisi per 100 gram tiram adalah air 74,56 g; energi 105 k.kal, protein 17,1 gram, lemak 0,76 gram. Tiram mentah juga mengandung berbagai macam mineral antara lain kalsium, besi, magnesium, phospor, potassium, sodium, seng, tembaga, mangan dan Selenium. Tiram juga mengandung berbagai macam vitamin antara lain vitamin C, vitamin B 6, vitamin B 12, vitamin A dan vitamin E, sedangkan asam amino yang terkandung dalam tiram adalah tryptophan, threonine, isoleucine, leucine, lysine, methionine, cystine, phenylalanine, tyrosine, valine, arginine, histidine, alanine, asam aspartic, asam glutamic, glycine, proline, dan
serine.

Dibandingkan dengan bahan pangan lainnya maka tiram memiliki kandungan seng atau zinc (Zn) yang cukup tinggi yaitu sebesar 16,62 mg per 100 gram tiram mentah, sedangkan lobster mengandung 3, 02 mg, kacang-kacangan, mete dan kenari 2,5 mg, beras merah 14 mg, buah dan sayur rata-rata mengandung 1 mg. Kandungan seng ini berfungsi untuk meningkatkan produksi sperma dan hormone testosterone. Dr. Ahmad Sulaeman, pakar gizi dari IPB juga menyatakan tiram mengandung kadar Zn yang tinggi. Zn telah terbukti sangat bermanfaat bagi anak-anak untuk masa pertumbuhan, sedangkan bagi kaum dewasa dapat meningkatkan kemampuan organ seks. Zn mengandung komponen enzim yang jumlahnya lebih dari 100 satuan. Sebanyak 23 komponen enzimnya bahkan bersifat biofaktor, artinya enzim itu bermanfaat untuk menyembuhkan luka, pertumbuhan, dan kekebalan tubuh, berguna meningkatkan metabolisme DNA (deoayribonucleic acid), dan protein.

Pedagang ritel seafood di New York juga mempromosikan bahwa tiram dan remis mengandung zat besi, zinc, yodium, dan senyawa D-aspartic acid serta N-Methyl D-aspartate (NMDA). Zat nutrisi tersebut berfungsi untuk menstimulasi kelenjar thyroid dan meningkatkan libido. Disamping tiram, lobster juga merupakan sumber B12 dan zink yang merupakan nutrisi penting untuk meningkatkan libido. Bagian hijau dari hati lobster diyakini dapat meningkatkan respon seksual. Selain tiram dan lobster, kaviar (telur ikan) juga telah dipuji sepanjang sejarah karena dapat meningkatkan libido. Oleh karena itu kaviar dijadikan sebagai lambang kesuburan. Kaviar mengandung arginin dan zinc yang membantu meningkatkan kelancaran aliran darah pada organ-organ seksual khususnya pada pria. Jadi untuk membentuk rumah tangga harmonis selain harus menjaga perilaku dan komunikasi yang baik, juga perlu didukung asupan gizi yang cukup untuk dapat menjaga penampilan, kesehatan dan aktivitas seksual yang sehat. Makan seafood khususnya tiram dapat berkontribusi untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

Sumber : Manfaat Ikan, Ditjen P2HP (2012) 

Rabu, 12 Juni 2019

Budidaya Lobster Air Tawar

Lobster air tawar tidak hanya ikan konsumsi, tetapi bisa juga dijadikan ikan hiasan di dalam akuarium sebagai udang hias, lobster memiliki ciri khas yang tidak ditemukan pada ikan hias.  Selain bentuk tubuh yang unik, lobster air tawar yang memiliki warna khas dan beragam.

Lobster air tawar merupakan salah satu genus dari famili parastacidae yang mulai dikembangkan untuk budidaya petani ikan di Indonesia sejak tahun 2000.  Di beberapa negara, seperti Australia, Amerika Serikat, Inggris, Cina, Kostarika, Ekuador, Fiji, Guatemala, Israel, Meksoko, Afrika Selatan, Dan Taiwan, budidaya lobster telah dilakukan sejak tahun 1980.  Di Indonesia, berbagai kajian ilmiah menunjukkan permintaan pasar terhadap lobster air tawar berkuran 5 – 10 cm relatif tinggi.

Secara fisik lobster air tawar memiliki warna dasar yang beragam atau variatif.  Dari segi teknis, lobster air tawar dapat dipelihara di air tawar yang tidak selalu jernih dengan berbagai variasi wadah.  Jenis pakannya pun relatif banyak dan mudah diperoleh.Hal yang menarik adalah lobster dikenal memiliki sifat pengembara yang tinggi, warna pada tubuh lobster berkilau, terutama jika terkena cahaya.

DISKRIPSI IKAN
Klasifikasi Lobster
Lobster air tawar termasuk dalam kelas crustacea dengan ordo decapoda. Pada dasarnya terdapat famili atau kelaga besar lobster air tawar.  Berikut ini dipaparkan klasifikasi salah satu jenis lobster air tawar dari genus cherax.
Filum        :  Arthrapoda
Kelas        :  Crustacea
Sub kelas        :  Malacostraca
Ordo        :  Decapoda 
Famili        :  Parastacidae
Genus        :  Cherax
Spesies        :  Cherax quadricarinatus
           Cherax destruktor
           Cherax lorentz
           Cherax cairnsensis

Habitat dan Penyebarannya
Lobster air tawar yang berasal dari famili astacidae, combaridae, dan parastacidae menyebar di semua benua, kecuali Afrika dan Antartika.  Lobster air tawar astacidae dan cambaridae tersebar dibelahan dunia utara, sedangkan parastacidae menyebar di dunia bagian selatan, seperti Australia, Indonesia bagian timur, Selandia Baru, dan Papua Nugini.  Habitat alam lobster air tawar adalah dana, rawa, atau sungai yang berlokasi di daerah pegunungan.

Morfologi Pada Lobster
Tubuh lobster terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian depan dan bagian belakang. Bagian depan disebut kepala dan bagian belakang disebut badan.  Dilihat dari organ tubuh lobster air tawar memiliki beberapa alat pelengkap :

•    Sepasang antena yang berperan sebagai perasa dan peraba terhadap pakan dan kondisi lingkungan.
•    Sepasang antanela untuk mencium pakan, 1 mulut, dan sepasang capit yang lebar dengan ukuran lebih panjang dibandingkan dengan ruas dasar capitnya.
•    Enam ruas badan agak memipih dengan lebar badan rata-rata hampir sama dengan lebar kepala.
•    Ekor.  Satu ekor tengah memipih, sedikit lebar dan dilengkapi duri-duri halus, serta dua pasang ekor samping.
•    Enam pasang kaki renang
•    Empat pasang kaki jalan.

Jenis Dan Pola Makan
Lobster air tawar biasanya aktif mencari makan pada malam hari.  Lobster air tawar termasuk pemakan segala.  Bahan-bahan makanan dari hewani dan nabati sangat disukainya.  Lobster menyukai cacing-cacingan dan pakan buatan.

Lobster termasuk jenis hewan yang tidak rakus.  Kebutuhan pakan lobster sebenarnya sangat sedikit, yaitu hanya berkisar 2-3 gram per ekor lobster dewasa per hari.Kebutuhan pakan tersebut digunakan untuk pertumbuhan, pergantian sel-sel yang sudah rusak, dan perkembangbiakan.

PEMBENIHAN
Pemilihan Calon Induk
Pemilihan induk sebaiknya dilakukan sejak lobster berumur 2-3 bulan.  Pada umur ini lobster mempunyai panjang tubuh 5-6 cm dengan ukuran tersebut berarti proses pertumbuhan lobster berjalan dengan baik.  Selain proses pertumbuhan, yang hars diperhatikan dalam memilih induk yang berkualitas adalah lobster harus memilki nafsu makan yang tinggi, gerakannya lincah, dan warna tubuhnya cerah.

Pemilihan Calon Induk
Calon induk yang sudah dipilih dipisahkan denagn lobster lain dengan memindahkannya ke wadah lain.  Pemindahan ini bertjuan untk emmpermudah pengontrolan.
Dalam pemeliharaan calon induk ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
•    Wadah pemeliharaan dan kepadatan tebar
•    Pengontrolan dan penyesuaian calon induk
•    Pemberian pakan
•    Pencegahan penyakit.

Kebiasaan Reproduksi
Perilaku lobster air tawar yang cukup menarik untuk diamati adalah aktifitasnya saat perkawinan hingga muncul juvenil.  Tahap awal yang dilaksanakan oleh setiap induk sebagai berikt :
•    Mencari pasangan
•    Melakukan percumbuan antar pasanagan
•    Melakukan perkawinan
•    Induk betina mengerami talur
•    Induk betina mengasuh benih hingga waktu tertentu.

Pemindahan Induk Yang Telah Bertelur
Induk betina yang telah mengeluarkan telur harus dipindahkan ke wadah lain agar telurnya menetas.  Pemindahan ini bertujuan untuk mencegah dimakannya telu-telur oleh induk jantan atau induk betina yang lain, karena pada dasarnya lobster air tawar adalah binatang yang memiliki sifat kanibal.

Penetasan Telur
Telur-telur yang dikeluarkan induk lobster akan menetas setelah sekitar 1 bulan.  Benih-benih akan lepas dari induknya setelah 4-5 hari sejak menetas.

Pemanenan
Pemanenan dilakukan setelah benih berumur 1-1,5 bulan.  Pemanenan dilakukan dengan cara menyipon air dan kemudian benih ditangkap dengan menggunakan scop net.

MENGATASI HAMA DAN PENYAKIT
Lobster cukup tahan terhadap penyakit.  Namn, bukan berarti lobster tidak akan terserang penyakit.  Penyakit lobster pada umumnya dapat disebabkan oleh protozoa, bakteri, jamur, atau virus.  Salah satu penyebab penyakit dapat mask ke dalam akuarium dan menyelang lobster melalui pakan yang tidak bersih dan air yang digunakan kotor.  Pakan cacing yang tidak di cuci bersih dan langsng diberikan pada lobster. Misalnya, dapat saja mengandung bibit penyakit.

Jamur yang sering terkena pada lobster adalah lumut. Cara pencegahannya dengan menggunakan daun ketapang dengan cara mengambil daun ketapang sebanyak 6- 10 lembar yang sudah kering atau yang sudah dijemur kemudian ditebar ke dalam akuarium.

PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN PENYAKIT 
PENYAKIT    PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN
Pentakit lobster yang menyerang pada lobster air tawar adalah jamur yang disebabkan oleh sisa pakan yang terdapat pada dasar akuarium.    Untuk mencegah timbulnya perbanyakan lumut dapat dilakukan dengan pengontrolan kualitas air dan dilakukan penyiponan sisa pakan yang berada di dasar kotoran yang berada dasar akuarium.  Pengobatannya dapat menggunakan bahan alami yaitu dengan mengguanakan daun ketapang kering yang kemudian di tebar ke akuarium sebanyak 6 – 10 lembar.  Selain daun ketapang dapat juga digunakan batang pisang dengan cara dipotong – potong kecil yang kemudian juga ditebar ke akuarium.  Tetapi yang paling bagus digunakan adalah daun miana karena daun miana tersebut mengandung antiseptik. 

DAFTAR PUSTAKA
Asriani dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Lobster Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
http://www.google.com/imgres?imgurl=https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0ACRD_CtglWfogLZaC8QRkO83sbXRubi9KjOAFihHQ2xfWXAvF8rweDYsKuhmlArDmf3qAJp3jcWecZzOiV9oU-6D0vvVqzOPGrPLnOLVsBQcuLSFgh79vHysNlnWgFr0nACbH-uggYRn/s1600/LAT.jpg&imgrefurl=http://irfanesukasuka.blogspot.com/2011/05/begini-niih-cara-budidaya-lobster-air.html&h=450&w=600&sz=66&tbnid=jqJD5BnruoVvKM:&tbnh=90&tbnw=120&zoom=1&usg=__tdZQCeMJsq1ATxbDPNpJwlmPP_g=&docid=vCHHzpSlH1_xFM&hl=id&sa=X&ei=6QqHUfjzJcXprAeqz4GYBQ&ved=0CDAQ9QEwAA&dur=7
Karjono dan adijaya, Dian. “Lobster akuarium 10 bulan kembali modal “.  Trubus, april 2003.
Sukmajaya yade.“  lobster air tawar komoditas perikanan prospektif “.  Penerbit PT Agro media pustaka, 2003.
Wiyanto, R. “Lobster air tawar, pembenihan dan pembesaran “. Jakarta : penebar swadaya, 2003.

Selasa, 11 Juni 2019

Budidaya Ikan Louhan

Pada dasarnya, lou han merupakan jenis ikan yang tahan ‘banting’ dari pengaruh temperatur atau kesadahan yang rendah. Namun, yang namanya mahluk hidup tetap saja bisa terganggu kesehatannya, terutama saat kondisinya lemah. Lemahnya kondisi lou han bisa diakibatkan kondisi air yang buruk atau serangan bakteri patogen. Lemahnya kondisi ikan bisa semakin parah jika pengetahuan tentang fisiologi ikan serta pengobatan penyakit tidak dikuasai, karena itu pengetahuan tentang sifat penyakit, serta pengobatan harus dikuasai secara jelas.

Pemeliharaan lou han sebenarnya tergantang pada selera pemiliknya, yang penting adalah teknik atau cara-caranya harus diketahui terlebih dahulu. Hal yang harus diperhatikan dalam memelihara lou han, antara lain :

Kondisi Aquarium dan Peralatannya
Untuk mendukung kesehatan dan penampilan lou han, kebersihan aquarium harus diperhatikan. Aquarium yang kotor bisa jadi sumber penyakit bagi lou han. Yang biasanya menjadi sumber kotoran aquarium adalah sisa pakan, lumut, sisa obat dan kotoran lou han. Patokan dalam membersihkan aquarium adalah tingkat kekotoran aquarium, kondisi peralatan dan aksesoris pendukung juga harus diperhatikan.Jika tidak bersih atau tidak berfungsi sebagai mana mestinya, peralatan dan aksesoris ini bisa menjadi sumber penyakit.

Kualitas Air
Air merupakan factor penting dalam meningkatkan kualitas lou han. Air harus bersih dari bahan beracun yang berasal dari sumber air, sisa metabolisme ikan atau sisa pakan yang berlebihan. Meskipun lou han tergolong ikan hias yang memiliki toleransi yang cukup tinggiterhadap kualitas air, berbagai parameter air harus tetap diperhatikan. Sebelum digunakan, air perlu diendapkan didalam bak penampungan. Bak penampungan dapat berupa tong bekas atau fiberglass.

Kualitas Pakan dan Pemberiannya 
Supaya lou han peliharaan tetap cantik, pakan yang diberikan harus mengandung menu seimbang. Pakan yang salah dapat membuat lou han menjadi stress dan tidak suka makan. Pakan yang seimbang memiliki karbohidrat, protein, lemak, mineral,dan vitamin yang memadai. Pemberian pakan harus sesuai dengan aturan agar tidak cepat mengotori aquarium, sehingga tidak menimbulkan penyakit.Pakan juga harus cukup agar ikan cepat tumbuh, pemberian pakan dengan frekuensi lebih sering dengan jumlah yang tidak terlalu banyaklebih baik dibandingkan dengan pemberian pakan yang jarang dengan jumlah yang berlebihan.

DESKRIPSI IKAN LOU HAN
Sistematika
Lou Han adalah ikan hias yang penampilannya cantik dan menarik dengan aneka warna yang cerah.Budidaya Lou Han sudah banyak dilakukan di Indonesia, baik oleh para peternak atau pengusaha ikan hias maupun para hobiis.

Menurut sistematikanya, ikan Lou han digolongkan sebagai berikut:
Ordo     : Percomorphoidei
Sub Ordo    : Percoidea
Family    : Cichlidae
Genus               : Cichlasoma
Spesies             : Red Flower Horn   

Meskipun Lou Han termasuk jenis ikan hias yang relative tahan terhadap infeksi penyakit, jika kualitas air tempat pemeliharaan tidak cocok bagi ikan tersebut, Maka akan timbul masalah. Masalah ini akan semakin parah jika penanganannya di lakukan dengan cara yang tidak sempurna, terutama bagi ikan yang baru di datangkan dari tempat lain. Salah satu masalah yang sering merugikan para peternak ikan hias adalah masalah penyakit.Satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah Lou Han memiliki sifat yang mudah berubah. Hal ini disebabkan lou han merupakan hasil persilangan dari beberapa jenis ikan yang termasuk keluarga siklid (Cichlidae) dari genus Cichlasoma. Di samping itu proses perkawinan silang kurang mengikuti kaidah yang benar akan berakibat pada penurunan mutu genetic. Efek dari penurunan mutu genetic ini adalah menurunnya daya tahan ikan terhadap penyakit.

Lou Han (Cichlasoma sp) termasuk salah satu jenis ikan hias baru yang memiliki penampilan cantik dengan nilai ekonomis yang tinggi. Ikan ini mulai marak dibicarakan di Indonesia sejak tahun 2001 dengan berbagai sebutan, yaitu Flower born, Flower louhan, dan sun go kong. Sebutan lainnya adalah mutiara dari timur.   

Lou han merupakan hasil persilangan dari ikan jenis siklid lain,yaitu Cichlasoma synpilum dengan Cichlosoma cycnoguttatum ( Neetropus carpintis). Persilangan antar siklid-siklid ini di lakukan oleh orang-orang dari Negara Malaysia. Namun kini sudah banyak persilangan antar jenis ikan siklid lainnya, baik oleh para peternak local maupun manca Negara, sehingga di peroleh berbagai variasi Lou Han. Beberapa species yang merupakan ikan hias dari family Cichlidae yang sudah dikenal di Indonesia di antaranya jenis Oskar (astronhotus ocellatus),texas (Cichlasoma cyanoguttatum), zebra (cichlasoma nigrofasciatum), angel fish atau manvis (Pteophylum spp), dan discus (Symphysodon discus).

Daerah Penyebaran
Ikan yang tergolong dalam keluarga Cichlidae banyak ditemukan di perairan Amerika Latin, Asia, dan Afrika. Namun, menurut pakar breeder di Malaysia, kebanyakan keluarga Lou Han berasal dari perairan Amerika latin, seperti meksiko, Paraguay dan Kolombia. Berkat keuletan para beeder di Malaysia, dalam tempo tiga tahun saja. Lou han telah menjadi ikan yang fenomenal, mengalahkan semua jenis ikan eksotis yang bergengsi di Negara Asia. 

Penyebarannya di Afrika dan Madagaskar mencapai 700 species dan hanya 3 species yang terdapat di Asia. Beberapa species family Cichlidae yang terdapat di daerah Afrika merupakan species yang endemic, sehingga tidak bisa ditemukan di daerah lain. Species ini biasanya meletakkan telur tidak jauh dari tempat tinggalnya.Ada yang meletakkan telur di batu, daun-daun tanaman air, pasir, dan rongga mulut.Species ini baik jantan dan betina memiliki insting yang kuat untuk melindungi telur atau anaknya.

BUDIDAYA LOU HAN
Pemilihan Calon Induk
Jenis induk jantan dan betina yang dipilih disesuaikandengan jenis keturunan yang diharapkan, keturunan yang dihasilkan merupakan penggabungan factor genetis kedua induknya.Jika dilihat secara fisik, induk jantan memiliki badan yang lebih langsing dengan jarak antara mulut dan nongnong dekat, sedangkan betina memiliki tubuh yang lebihmembulat dan gendut dibagian perut serta jarak antara mulut dan nongnong agak jauh. Lou han jantan memiliki variasi warna yang lebih banyak dan legas, sedangkan lou han betina agak pucat. Hal ini memang tidak mutlak karena ada juga betina yang menampilkan warna cerah, tetapi setidaknya prediksi ini memiliki kemungkinan kebenaran 80 %.

Memijahkan Induk
Lou han adalah ikan yang hidup soliter, karena itu menjodohkan lou han memerlukan strategi khusus. Calon induk diletakkan dalam aquarium yang diberi pembatas kaca, biarkan keduanya saling mengenal sampai lou han betina benar-benar matang telur dan si jantan siap mencumbunya. Dalam proses pengenalan biasanya betina akanlebih agresif dibandingkan jantan. Umur perjodohan paling baik adalah jantan 2,5 tahun dan betina 2 tahun, dalam usia ini telur yang dibuahi lebih banyak serta keturunannya akan lebih besar.

Merawat Telur dan Burayak
Setelah berjodoh dan siap dipilahkan, dalam tempo paling lama tiga hari saja lou han akan bertelur dimedia telur berupa keramik yang diletakan didasar aquarium. Dalam tempo tiga hari telur biasanya sudah mulai menetas. Pada hari ke-4 aquarium tampak dipenuhi oleh burayak lou han. Burayak masih memiliki cadangan kuning telur ditubuhnya sampai hari ke-4 setelah menetas.Pada hari ke-5 baru diberi pakan kutu air yang disaring, pemberian pakan 3-4 kali /hari.yang harus diperhatikan adalah pakan yang diberikan sekali habis dan tiodak cepat mengotori aquarium.

DAFTAR PUSTAKA
Firmansyah A dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Lou Han Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.
S. Hambali, 2001. Mewaspadai dan Menanggulangi Penyakit  Pada Lou Han. Agromedia Pustaka, Jakarta.
S. Suwandi, 2002.  Memilih Anakan dan Meningkatkan Kualitas Lou Han. Agromedia Pustaka, Jakarta

Minggu, 09 Juni 2019

Manfaat Ekstrak Ikan Gabus



Ikan gabus dikenal dengan beberapa nama lain, misalnya: haruan, kocolan, bogo, licingan, kutuk/kotes (Jawa), common snakehead (Inggris), dan Ophiocephalus striatus (Latin). Ikan ini termasuk dalam golongan ordo Labyrinthici, dengan ciri khas pada kepalanya terdapat ronggarongga guna menyimpan persediaan udara untuk pernafasan sehingga dapat hidup di air dengan kadar oksigen yang rendah. Bersifat karnivora, gabus adalah pemakan hewan-hewan lain yang lebih kecil seperti cacing, anak ikan, udang, ketam dll. Bentuk ikan gabus kepalanya menyerupai ular, badannya hampir bulat, panjang, dan makin ke belakang makin menjadi gepeng, punggungnya cembung dan perutnya rata. Panjang tubuhnya dapat mencapai 100 cm, dan hidupnya di muara-muara sungai dan danau-danau.

Dalam penelitiannya, Dr. Eddy Suprayitno menjelaskan bahwa kandungan protein ikan gabus cukup tinggi bila dibandingkan ikan yang lain yaitu 25,2 g / 100 g daging ikan gabus segar. Ikan gabus juga mengandung 6,2 % albumin dan 0,001741% Zn dengan asam amino esensial yaitu treonin, valin, metionin, isoleusin, leusin, fenilalanin, lisin, histidin, dan arginin serta asam amino non esensial seperti asam aspartat, serin, asam glutamat, glisin, alanin, sistein, tiroksin, hidroksilisin, amonia, hidroksiprolin, dan prolin. Penelitian manfaat ikan gabus untuk mempercepat perbaikan status gizi juga dilakukan oleh Dr.dr.Sri Adiningsih,MS,MCN, akademisi dari Universitas Airlangga dan Prof. DR. dr Nurpudji A. Taslim, MPH, SpGK, ahli gizi dari Universitas Hasanudin. Untuk meningkatkan asas kepraktisan pengkonsumsian ikan gabus, Dr. Nurpudji bahkan telah mengembangkan supplemen tersebut dalam bentuk kapsul.

Sari Mina, Ekstrak Ikan Gabus Bentuk Cair

Sari Mina adalah produk olahan ikan gabus dalam bentuk ekstrak filtrasi beku yang telah diproduksi dengan sistem tertentu sehingga nilai gizinya sama dalam setiap kemasannya. Sari Mina dipasarkan dalam ukuran 50cc /bungkus yang dikemas dalam kantung plastik dan disimpan dalam kondisi beku (< - 10oC) agar tahan lama dan dalam kondisi stabil (maksimal 3 bulan sejak diproduksi). Produk tersebut telah banyak digunakan pasien rawat inap maupun rawat jalan sejak awal tahun 2004 di RS Elisabeth Semarang. Produk ekstrak gabus berguna membantu meningkatkan kesehatan serta mempercepat kesembuhan dan pemulihan penderita: kekurangan albumin, protein, haemoglobin, zat besi, penyakit stroke, diabetes mellitus, kanker, lupus, parkinson, jantung, penyakit hati, ginjal, asma, pasca operasi, lanjut usia, dan lain-lain.

Dosis yang dianjurkan untuk penyembuhan adalah 100 – 150cc per hari atau 2 - 3 bungkus (@ 50cc) per hari, dapat diminum langsung setelah ditiriskan dengan cara kemasan direndam (@ 50cc) per hari, dapat diminum langsung setelah ditiriskan dengan cara kemasan direndam dalam air hangat (tidak panas) pada waktu pagi dan sore, atau tergantung kebutuhan. Apabila Sari Mina digunakan untuk menjaga kondisi tubuh maka dosis bisa diatur antara 1-2 kali per hari saja atau cukup 1-2 bungkus (@ 50 cc) per harinya. Menurut Florentinus, kandungan albumin 1 pak kemasan Sari Mina setara dengan 20 butir putih telur.

Filtrat Sari Mina bisa langsung diminum bagi pasien yang sadar atau bisa dicampurkan ke dalam makanan lewat pipa (sonde) bila kondisi pasien sangat lemah sehingga tidak mampu makan atau kesulitan menelan atau dalam kondisi tidak sadar. Apabila albumin pasien di dalam darah terlalu rendah dan diinstruksikan oleh dokter untuk ditambahkan albumin melalui pembuluh darah/infus maka pemberian/konsumsi Sari Mina bisa dihentikan dahulu dan apabila pemberian albumin telah selesai maka pemberian/konsumsi Sari Mina bisa dilanjutkan. Pemberian Sari Mina bisa juga tetap dijalankan walaupun ditambahkan albumin melalui infus dengan mempertimbangkan asupan total protein yang masuk disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi serta penyakit.

Gabus Tangkap Kandungan Proteinnya Lebih Tinggi

Ikan gabus yang diolah oleh Florentinus bukan dari sembarang tempat, ia hanya mengambil ikan dari perairan Rawa Pening Semarang. Pertimbangannya karena airnya tenang, luas dan masih alamiah. Menurut Florentinus, ikan gabus yang hidup dengan karakter air seperti ini mempunyai kadar protein yang lebih tinggi dibanding tempat lain. Sementara menurut penelitian Prof Dr. Eddy Suprayitno, kandungan albumin ikan gabus air payau lebih tinggi, 4,76 % dibanding gabus air danau yaitu 0,8 %. Selain itu, gabus jantan kadar albuminnya 6,7 %, lebih rendah dibanding betina yang mencapai 8,2 %.

Ikan gabus yang akan diolah sebaiknya berukuran 1 kg atau lebih, karena jika beratnya belum mencapai 1 kg maka dari segi produksi kurang optimal karena kadar protein yang dihasilkan dari ikan yang beratnya di bawah 1 kg lebih rendah. Kadar protein yang diperoleh dari 1 ekor gabus ukuran 1 kg, masih lebih tinggi daripada yang diperoleh dari 2 ekor ukuran 500 gram. Dalam satu kali produksi (biasanya 2 minggu sekali) dibutuhkan 70-100 kg ikan gabus, dan 1 kg ikan akan menghasilkan 170-200 cc ekstrak ikan gabus. Dalam melakukan proses produksinya, Florentinus dibantu oleh 6 orang pegawai.

Ketika awal-awal produksi, ekstrak gabusnya masih berbau sangat amis dan dikhawatirkan belum dapat diterima oleh setiap orang. Atas saran dari istrinya, maka Florentinus menambahkan esen aroma jeruk wangi pada ekstrak ikan gabusnya agar baunya tidak terlalu menyengat dan lebih dapat diterima oleh banyak orang. Mengingat karakter ikan gabus yang cenderung cepat busuk dibanding dengan ikan lain karena kadar proteinnya yang sangat tinggi, maka ikan yang datang harus segera diolah. Permasalahan saat ini adalah ukuran pasokan ikan yang didapat seringkali kurang dari 1 kg. Namun Florentinus enggan mengambil gabus dari hasil budidaya atau gabus laut, karena gabus liar di perairan umum dinilai mempunyai kandungan protein paling tinggi.

Sumber : Manfaat Ikan, Ditjen P2HP (2012)

Sabtu, 08 Juni 2019

Katak Tak Berparu Kalimantan yang Terancam Punah

Klasifikasi
Katak ini dideskripsi oleh Djoko T. Iskandar pada tahun 1978 seorang pakar herpetologi dari ITB, berdasarkan spesimen tunggal. Spesimen kedua diperoleh pada tahun 1995 pada lokasi yang sama yaitu Nanga Pinoh, Melawi, Kalimantan Barat.
  1. Filum : Chordata
  2. Kelas : Amphibia
  3. Bangsa : Anura
  4. Suku : Bombinatoridae
  5. Marga : Barbourula Tailor & Noble, 1926
  6. Spesies : Barbourula kalimantanensis Iskandar, 1978
Morfologi
Katak berukuran sedang, individu jantan dapat mencapai 66 mm dan betina mencapai 77 mm. Kepala sangat pipih, moncong bulat, lubang hidung di ujung moncong sedikit tertutup kulit. Tidak mempunyai baik canthus rostralis maupun lores. Mata terletak di depan samping kepala. Rahang atas dan bawah bergigi. Gigi vomer menyerupai sepasang tuberkular dan terletak di atap mulut di belakang koane. Tidak mempunyai paru-paru. Tidak mempunyai glottis dan pembukaan esofagus mengarah langsung ke lambung. Jantan dewasa tidak mempunyai kantung suara. Lengan dan kaki kokoh berselaput penuh mirip dayung. Jari kedua dan ketiga pada tangan hampir sama panjang demikian juga pada jari ketiga dan keempat kaki. Ujung jari seperti cakram, tetapi tidak memiliki alur circummarginal. Pada telapak tangan terdapat tiga tuberkular metakarpal, tetapi tidak memiliki tuberkular subarticular. Disepanjang tepi median jari pertama kaki terdapat kulit tebal. Pada telapak kaki terdapat bonggol metatarsal dalam, tetapi tidak memiliki tuberkular metatarsal luar. Terdapat lipatan kulit di sepanjang paha dan di sepanjang tibia. Betina mempunyai otot mirip segitiga di kedua sisi kloaka dikenal sebagai claspers anal. Kulit punggung berkerut, dengan tuberkular kecil atau spinula yang terletak di bagian belakang dan lengan. Kulit perut halus. Saat masih hidup berwarna coklat dengan bintik-bintik hitam.

Habitat dan Penyebaran
Katak ini hidup dalam perairan tawar yang jernih, dingin (14 - 17 oC), kecepatan arus 2 - 5 m per detik di sungai Kapuas (Kalimantan Barat) dalam area hutan hujan primer.

Status
Belum dilindungi Undang-Undang RI; IUCN-Endangered.

Ancaman
Habitat ditemukannya spesies ini sekarang sangat terganggu akibat adanya penambangan emas ilegal, dan sungai telah menjadi rusak parah sebagai akibat dari pengendapan dan juga pencemaran limbah merkuri. Disamping itu juga dipengaruhi oleh pendangkalan perairan akibat deforestasi di hulu.

Saran
Segera ditetapkan status perlindungan penuh baik habitat maupun spesies tersebut mengingat sebaran yang sangat terbatas dan keterancaman pada habitat.

Sumber : Ubaidillah, Rosichon. dkk. 2013. BIOTA PERAIRAN TERANCAM PUNAH DI INDONESIA - Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau – Pulau Kecil. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta

Jumat, 07 Juni 2019

Mengenal Vaksin HydroVac dan StreptoVac

Penggunaan Vaksin HydroVac dan StreptoVac untuk Pencegahan Penyakit Potensial pada Ikan Air Tawar

Motile Aeromonas Septicemia (MAS) atau “penyakit merah”, disebabkan oleh infeksi bakteri Aeromonas hydrophila; merupakan penyakit bakterial yang bersifat akut, menginfeksi semua umur & semua jenis ikan air tawar, dapat mengakibatkan kematian hingga 100%, dan sering menimbulkan kerugian yang sangat signifikan. Komisi Kesehatan Ikan dan Lingkungan Nasional pada 2006 telah menetapkan jenis penyakit ini sebagai salah satu penyakit ikan utama di Indonesia. Streptococcosis merupakan penyakit infeksius yang semakin sering terjadi pada budidaya ikan nila. Kasus streptococcosis pada ikan nila di Jawa Barat dan Jawa Tengah disebabkan oleh infeksi bakteri S. agalactiae (85%) dan S. iniae (15%). Secara laboratoris, infeksi S. agalactiae pada ikan nila bersifat akut; sedangkan infeksi S. iniae lebih bersifat kronis. Fakta tersebut mengindikasikan bahwa bakteri S. agalactiae berpotensi sebagai penyebab streptococcosis yang lebih serius pada budidaya ikan nila.

Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar – Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya telah mengembangkan vaksin anti-Aeromonas hydrophila dengan nama ”HydroVac” dan vaksin anti-Streptococcus agalactiae dengan nama “StreptoVac” sebagai produk biologi bagi upaya peningkatan produksi perikanan budidaya air tawar nasional. Hasil kajian laboratoris dan lapang, aplikasi vaksin “HydroVac” dapat menekan tingkat kematian ikan akibat penyakit MAS berkisar 30-40% dibandingkan dengan tanpa aplikasi vaksin yang mencapai 60-70%. Sedangkan hasil kajian laboratoris dan lapang, aplikasi vaksin “StreptoVac” dapat menekan tingkat kematian ikan nila akibat penyakit streptococcosis berkisar 20-30% dibandingkan dengan tanpa aplikasi vaksin yang mencapai 50-60%.

Salah satu diantara beberapa keunggulan yang dimiliki oleh kedua jenis vaksin tersebut adalah kemampuannya untuk menginduksi respon kebal spesifik yang dapat bereaksi silang (cross reactivity) terhadap beberapa strain bakteri A. hydrophila (untuk vaksin Hydrovac) dan bakteri S. agalactiae (untuk Streptovac) patogen yang terdapat di beberapa wilayah pengembangan budidaya ikan air tawar. Keunggulan ini memberi harapan bahwa produk vaksin ini dapat digunakan oleh seluruh pembudidaya ikan di seluruh wilayah sentra produksi ikan air tawar.

Vaksinasi ikan adalah memberi bekal kekebalan (immunity) pada tubuh ikan secara dini. Teknik ini merupakan salah satu alternatif pengendalian penyakit yang perlu terus dikembangkan, karena lebih ramah terhadap lingkungan, tidak berdampak negatif terhadap ikan itu sendiri maupun terhadap manusia. Vaksinasi pada perikanan budidaya diyakini akan dapat memberi kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan produksi perikanan budidaya. Keberhasilan program vaksinasi akan berdampak langsung terhadap, antara lain: (1) menurunnya tingkat mortalitas ikan budidaya akibat infeksi patogen potensial, (2) menurunnya penggunaan antibiotik pada budidaya ikan, dan (3) menurunnya daya resistensi beberapa jenis patogen terhadap antibiotik.

Manfaat Teknologi
  1. Aplikasi vaksin HydroVac merupakan upaya pemberian kekebalan spesifik (antibodi) secaradini pada ikan budidaya untuk mencegah infeksi bakteri Aeromonas hydrophila, bakteri patogen penyebab penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS).
  2. Aplikasi vaksin StreptoVac merupakan upaya pemberian kekebalan spesifik (antibodi)secara dini pada ikan budidaya (khusunya ikan nila) untuk mencegah infeksi bakteri Streptococcus agalactiae, bakteri patogen penyebab penyakit streptococciosis.
  3. Aplikasi vaksin HydroVac dan StreptoVac pada perikanan budidaya air tawar dapat menekan tingkat mortalitas yang diakibatkan oleh penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) pada semua jenis ikan air tawar, dan penyakit streptococcosis pada ikan nila.
  4. Program vaksinasi akan meningkatkan produksi (food security) dan menjamin mutu produk perikanan (food safety), serta menjamin keberlanjutan budidaya ikan (sustainable aquaculture) air tawar yang ramah lingkungan.
  5. Vaksinasi merupakan salah satu upaya pengendalian penyakit bakterial pada ikan yang ramah terhadap ikan, lingkungan perairan dan konsumen.
  6. Penggunaan vaksin dapat mencegah timbulnya resistensi bakteri patogen pada ikan dan lingkungan perairan akibat penggunaan bahan kimia/ antibiotika yang kurang bijaksana dalam pengelolaan kesehatan ikan.
  7. Secara ekonomi, aplikasi vaksin HydroVac dan StreptoVac pada perikanan budidaya air tawar akan menambah biaya produksi 1 – 2 rupiah/ekor ikan; namun keuntungan yang diperoleh akan sangat nyata.
Vaksin adalah suatu produk biologi yang terbuat dari mikroorganisme, komponen mikroorganisme yang telah dilemahkan, dimatikan atau rekayasa genetika dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh secara aktif (antibodi) sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi suatu jenis mikroorganisme patogen.

Persyaratan Teknis Penerapan Teknologi

Persyaratan yang perlu diperhatikan sebelum melakukan vaksinasi pada ikan:
  1. Ikan telah berumur lebih dari 2 minggu.
  2. Kesehatan ikan harus dalam kondisi prima, hindari pemberian vaksin pada ikan yang sedang sakit.
  3. Suhu air relatif hangat (di atas 25 oC) dan stabil.
SOP teknologi

HydroVac dan StreptoVac dapat diberikan melalui 3 (tiga) cara, yaitu perendaman, pakan dan
suntik.

  1. Perendaman dalam larutan vaksin selama 15–30 menit. Teknik ini sangat ideal untuk ikan ukuran benih. Perendaman dapat dilakukan dalam bak beton/fiber glass/ akuarium atau ember plastik. Dosis yang digunakan adalah 100 ml vaksin untuk 1.000 liter air atau 1 ml vaksin untuk setiap 10 liter air. Air bekas rendaman pertama, masih dapat segera (tidak lebih dari 2 jam) digunakan sekali lagi untuk tujuan yang sama.
  2. Melalui pakan ikan (pellet). Teknik ini cocok untuk ikan yang sudah dipelihara di kolam/jaring atau sebagai vaksinasi ulang (booster). Vaksin diencerkan terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian dimasukkan ke dalam alat semprot. Semprotkan larutan vaksin tersebut ke pakan secara merata, dikeringanginkan dan selanjutnya segera diberikan kepada ikan. Dosis yang diberikan adalah 2 - 3 ml/kg bobot tubuh ikan. Pemberian vaksin dilakukan selama 5 – 7 hari berturut-turut.
  3. Melalui penyuntikan. Teknik ini terutama diaplikasikan untuk ikan yang berukuran lebih dari 5 gram/ekor atau calon induk. Dosis vaksin yang diberikan adalah 0,1 ml/ekor. Penyuntikan dapat dilakukan melalui rongga perut (intra peritoneal) atau dimasukkan ke otot/daging (intra muscular) dengan sudut kemiringan jarum suntik 30 derajat.
Sumber :
Anonymous. 2013. Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta