Jumat, 16 Maret 2018

PERSIAPAN TAMBAK PADA PEMBESARAN IKAN BANDENG

Setelah dapat memilih lokasi tambak yang baik untuk budidaya maka langkah selanjutnya adalah menyiapkan tambak tersebut agar dapat digunakan untuk membudidayakan ikan bandeng. Tambak yang akan digunakan untuk membudidayakan ikan bandeng ini harus dipersiapkan dengan baik dan benar agar diperoleh produksi tinggi.
       Kegiatan yang harus dilakukan dalam persiapan tambak budidaya ikan bandeng meliputi perbaikan komponen tambak, yaitu pematang, pintu air, caren dan saluran, serta pengelolaan tanah dasar tambak.

PEMATANG
       Pematang tambak harus dibuat kokoh, karena fungsi pematang tambak adalah menahan air didalam tambak. Oleh karena itu pematang harus diperbaiki setiap akan digunakan untuk budidaya. Perbaikan ini meliputi penambalan kebocoran dan meninggikan pematang.
Ketinggian  pematang tambak sangat bergantung kepada sistem budidayanya. Pada sistem budidaya bandeng intensif kedalaman air tambak bila mencapai satu meter, maka ketinggian pematang ± 1,5 m. Pada sistem budidaya bandeng tradisional. Kedalaman air tambak hanya mencapai 50 cm, maka ketinggian pematang hanya sekitar 1 m.


SALURAN AIR
       Saluran air pada tambak budidaya bandeng ada dua macam yaitu saluran air masuk dan saluran air keluar.  Tinggi  dasar  saluran air masuk lebih rendah daripada dasar tambak untuk mengurangi pelumpuran dalam tambak.

       Dasar saluran air keluar minimal 15 cm lebih rendah dari dasar tambak terendah agar tambak dapat dikeringkan dengan sempurna.


DASAR TAMBAK
       Dasar tambak budidaya ikan bandeng biasanya adalah tanah.  Oleh sebab itu, dalam persiapan tambak bandeng harus dilakukan pengelolaan tanah dasar agar pakan alami (klekap) yang sangat dibutuhkan oleh ikan  bandeng dapat tumbuh subur.
Pengelolaan tanah dasar tambak itu meliputi :
1.       Pengeringan tanah dasar kolam. Hal ini bertujuan untuk membunuh hama dan penyakit yang ada didasar tambak. Pengeringan dilakukan dengan mengeluarkan semua air dalam tambak kemudian dilakukan penjemuran. Selama proses tersebut dilakukan kegiatan pengolahan tanah dasar, misalnya pencangkulan, lalu dikeringkan selama 3-5 hari sampai tanah dasar tambak tersebut mengering.
2.       Pengapuran dan pemupukan.
Tujuan pengapuran adalah mempertahankan kestabilan derajat keasaman (pH) tanah dasar kolam dan air, serta memberantas hama penyakit. Pemupukan bertujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam.



PINTU AIR
       Dalam satu petak tambak sebaiknya terdapat pintu pemasukan air dan pintu pengeluaran air. Pintu tempat air masuk dan keluar dibuat untuk mengatur pemasukan dan pengeluaran air didalam tambak sehingga sangat memudahkan untuk pergantian air selama pemeliharaan ikan bandeng.

Pintu air tambak

 
Pembuatan pintu air masuk dan keluar dalam petak tambak dapat dibuat dari papan atau pipa paralon yang dilengkapi dengan pipa tegak untuk pergantian air. Selain itu pada pintu pemasukan sebaiknya dilengkapi dengan waring untuk mencegah ikan liar masuk ke dalam petak tambak.

SUMBER:
Alipuddin M., 2003.  Modul Penyiapan Tambak Pembesaran Ikan Bandeng. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

REFERENSI:
Ahmad, T dkk, 1998. Budidaya Bandeng Secara Insentif. Penebar Swadaya. Jakarta
Idel, A. dan S. Wibowo. 1996. Budidaya Tambak Bandeng Modern. Gitamedia Press. Surabaya
Martosudarmo, B. dan B. S. Ranoemihardjo. 1992. Rekayasa Tambak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Soeseno, S, 1987. Budidaya Ikan dan Udang dalam Tambak. PT. Gramedia. Jakarta.

Kamis, 15 Maret 2018

Produksi Benih Ikan Patin Jambal (Pangasius djambal) Kelas Benih Sebar (Ringkasan SNI 01-7256-2006)


BATASAN
Standar ini  menetapkan persyaratan produksi, cara pengukuran dan pemeriksaan. Ikan patin jambal adalah salah satu dari kelompok pangasius yang banyak terdapat di sungai, danau dan perairan umum lainnya di Indonesia

PERSYARATAN
Pra produksi 
1)   Lokasi : dekat dengan sumber air tawar, ada akses transportasi, dasar tanah stabil, tekstur lempung 50 - 60% dan pasir < 20%. 
2)   Sumber air : bebas dari cemaran, tersedia sepanjang tahun, tersedia saluran pemasukan dan pembuangan air.
3)   Wadah : a) pemeliharaan induk : ≥ 600 m2 atau karamba 2 x 2 x 2 m, b) pemijahan induk : hapa 1 x 2 x 3 m dipasang dalam kolam atau bak 1 x 2 x 3 m, c) penetasan telur : akuarium, bak fiber glass atau corong penetasan, d) pemeliharaan larva : akuarium atau bak, e) pendederan : kolam tanah. 
4)   Induk : seperti pada tabel dibawah ini.          
Tabel : Kriteria induk patin jambal kelas induk pokok


5)   Bahan : a) pakan : Pakan induk: buatan (kadar protein 28  - 35 %), pakan benih umur < 8 hari: nauplii Artemia sp, dan cacing Tubifex sp hidup, pakan benih umur 8 - 36 hari (di kolam) : pakan buatan (kadar protein ≥ 28 %, dan pakan alami (Moina sp dan Daphnia sp) yang ditebar pada waktu persiapan kolam, pupuk kandang, b) kapur tohor (CaO), c) bahan kimia dan obat-obatan : hormon biologis dengan hormon buatan yang sudah teregistrasi, NaCl, dan larutan sera; 
6)   Peralatan : a) pemijahan, penetasan dan pemeliharaan larva : kawin suntik: spuit, botol sperma, penggerus hipopisa, dan centrifuge, pengukuran kualitas air: termometer, pH meter, dan DO meter, peralatan lapangan: ember, baskom, gayung, selang plastik, saringan, plankton net, serok, timbangan, aerasi: aerator/blower, dan instalasinya. b) pendederan : pengukuran kualitas air: termometer, pH meter, dan DO meter, peralatan lapangan : ember, waskom, saringan, serok, lambit, waring, cangkul, hapa penampungan benih, timbangan, dan lain-lain.

Produksi 
1)   Pemijahan buatan : a) kualitas air pemijahan induk: suhu 26 - 31 °C, pH 6,5 - 7,5, oksigen terlarut > 4 mg/l, b) penyuntikan induk : Induk diberok dalam hapa atau bak penampungan selama satu hari, cek kualitas telur dengan kanulator berdiameter dalam 2 - 5 cm, suntikkan hormon hipofisa; induk dengan berat 1 kg memerlukan hipofisa dari ikan donor seberat 3 kg sampai 4 kg. Suntikan pertama 1/3 bagian, suntikan kedua 2/3 bagian dengan selang waktu penyuntikan 8 jam; c) penetasan telur : kualitas air media penetasan telur; suhu 27 - 30 °C, pH 6,5 - 7,5, oksigen terlarut > 5 mg/l, ketinggian air 25 cm - 30 cm, 
2)   Penetasan telur : sifat telur menempel pada dasar wadah, padat penebaran telur: 6 butir/cm² sampai dengan 10 butir/cm², lama inkubasi telur 22 - 30 jam.
3)   Panen larva : disipon setelah menetas 4 - 6 jam.
Pemeliharaan larva : a) kualitas air media pemeliharaan larva : suhu 28 - 30 °C, pH 6,5 - 7,5, oksigen terlarut > 5 mg/l, ketinggian air 20 - 50 cm, b) teknik pemeliharaan larva: tebar larva dalam akuarium/bak fiber glass dengan kepadatan 15 ekor/liter, jumlah naupli artemia dan cacing tubifex hidup yang diberikan seperti dalam tabel dibawah ini. 



CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN
1)   Suhu air : dengan termometer dipermukaan air dan dasar pada pagi dan sore.
2)   Oksigen terlarut : dengan DO-meter, dipermukaan air dan dasar pada pagi dan sore.
3)   pH air : dengan pH meter atau pH indikator pada pagi dan sore.
4)   Ketinggian air : dengan meteran atau alat sejenis dengan satuan centimeter.
5)   Penentuan jumlah penggunaan bahan : a) jumlah pakan : bobot rata-rata ikan (≥ 30 ekor ikan sampel) x jumlah populasi ikan yang ditebar x persentase tingkat pemberian pakan yang telah ditetapkan; b) jumlah pupuk dan kapur : dihitung dosis per meter x luas persegi; c) jumlah benih yang ditebar : padat tebar x luas persegi (ekor/m2); d) panjang total benih : jarak antara ujung mulut sampai ujung sirip ekor (inci); e) penentuan dosis kelenjar hipofisa : bobot donor banding bobot induk  3 :1.

REFERENSI
BSN, 2006. SNI 01-7256-2006  Produksi Benih Ikan Patin Jambal  (Pangasius djambal)  Kelas Benih Sebarnsif. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Rabu, 14 Maret 2018

Ikan Patin Siam (Pangasius hypophthalmus) Kelas Pembesaran di Kolam (Ringkasan SNI 01-6483.5-2002)


BATASAN
Standar ini  menetapkan persyaratan produksi, cara pengukuran dan pemeriksaan ikan patin siam produksi kelas pembesaran.

PERSYARATAN
Pra produksi 
1)   Lokasi : bebas banjir dan pencemaran sesuai RTRW, dasar tanah stabil, tekstur lempung 50 - 60% dan pasir < 20%, mengandung bahan organik > 80 %, pH 3,5 - ,5, sumber air tersedia sepanjang tahun,  memenuhi baku mutu budidaya.
2)   Wadah :  tanah atau tembok dengan pematang yang kuat, luas ≥ 100 m2, kedalaman 1 – 2 m, dapat dikeringkan.
3)   Benih :  sesuai SNI 01-6483.2-2000.
4)   Bahan : pakan dengan kandungan protein ≥25%, tidak mengandung bahan lain berbahaya; pupuk (organik atau anorganik); bahan kimia, obat-obatan, desinfektan.
5)   Peralatan : termometer, pH meter, dan DO meter, piring sechii, hapa, waring, ember, cangkul , serok dan alat timbang. 

Proses produksi
1)   Kualitas air : seperti pada tabel dibawah ini. 
Tabel : kisaran optimum kualitas air

2)   Penggunaan bahan : obat-obatan KmnO4 1-3 mg/l, fomalin 38% (15 – 25 ml/m3), garam 500 – 1.000 mg/l direndam 12-24 jam, diaerasi. Pupuk organik (250-500 g/m2), anorganik (dosis urea 10-20 g/m2, TSP 5-10 g/m2, kapur tohor 50-100 g/m2).

Pemanenan
Proses produksi ikan patin siam kelas pembesaran dikolam seperti pada tabel dibawah ini.

Tabel : Proses produksi ikan patin siam kelas pembesaran di kolam

CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN
1)   Panjang standar : dengan mengukur ujung mulut sampai pangkal ekor dalam sentimeter. 
2)   Bobot tubuh : dengan menggunakan timbangan analitik (ketelitian 0,1 mg) dalam gram.
3)   Suhu : dengan termometer dipermukaan air dan dasar pada pagi dan sore.
4)   oksigen terlarut : dengan DO-meter, dipermukaan air dan dasar pada pagi dan sore.
5)   pH air : dengan pH meter atau pH indikator pada pagi dan sore.
6)   Kecerahan : dengan piring sechi (cm).
7)   Umur : dihitung sejak telur menetas.
8)   Jumlah pakan : bobot rata-rata ikan (≥ 30 ekor ikan sampel) x jumlah populasi ikan yang ditebar x persentase tingkat pemberian pakan yang telah ditetapkan.
9)   Jumlah pupuk dan kapur : dihitung dosis per meter x luas persegi.
10) Padat tebar benih : padat tebar x luas persegi (ekor/m2).
11) Pemeriksaan kesehatan : ambil secara acak sebanyak 1% dari populasi atau ≥ 5 ekor untuk pengamatan visual/mikroskopik.


REFERENSI
BSN, 2002. SNI 01-6483.5-2002  Ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) Bagian 5: Produksi Kelas Pembesaran di Kolam. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Selasa, 13 Maret 2018

Kunjungan Pembinaan Kepada Pelaku Utama dan Pelaku Usaha Dilakukan Oleh Penyuluh Kepada Sasaran Perseorangan/Anjangsana

Penyuluhan perikanan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitasnya, efisien usaha, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup (UU Nomor 16 Tahun 2006). Penyuluhan sebagai sistem pendidikan non formal harus dibedakan dengan sistem pendidikan formal, perbedaan ini meliputi waktu, tempat, kurikulum, sasaran, filsafat dan lingkupnya.


Penyuluhan dilaksanakan dengan berpedoman pada programa penyuluhan, penyuluhan juga dilakukan dengan menggunakan pendekatan partisipatif melalui mekanisme kerja dan metode yang disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi pelaku utama dan pelaku usaha. Keberhasilan proses penyuluhan ditandai timbulnya partisipasi aktif dari pelaku utama dan pelaku usaha di bidang perikanan (masyarakat sasaran), sehingga dalam pengembangan penyuluhan ke depan harus diarahkan pada model yang berpusat pada manusia, dimana peran penyuluh dalam proses penyuluhan adalah sebagai relasi yang berorientasi pada masyarakat sasaran. 

Dalam pelaksanaannya sebuah proses penyuluhan harus dimulai dari pemahaman masyarakat terhadap potensi dan masalah yang dihadapinya, sehingga terdorong untuk mengupayakan pemecahan masalah melalui pengembangan semua potensi yang dimilikinya. Pada tahap inilah dimulai peran seorang penyuluh “untuk membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat sasaran dari kegiatan usahanya”, dengan pola pikir yang coba dibangun adalah pengembangan komoditas yang dia dimiliki melalui pemanfatan semua potensi sumberdaya yang ada, jadi peran seorang penyuluh adalah berupa fasilitasi, pengawalan, mobilisasi, pembentukan jaringan kerja dan kelembagaan pelaku utama dan pelaku usaha di bidang perikanan.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka seorang penyuluh perikanan harus memahami tentang cara melakukan kunjungan pembinaan kepada pelaku utama dan pelaku usaha dilakukan oleh penyuluh kepada sasaran: (1)perseorangan/anjangsana; dan (2)kelompok.

Kunjungan pembinaan kepada sasaran perseorangan/ anjangsana merupakan metode penyuluhan perikanan langsung kepada pelaku utama/pelaku usaha perikanan secara perorangan dengan mendatangi rumah atau tempat usaha pelaku utama dan/atau pelaku usaha perikanan (KepmenKP Nomor: KEP.54/MEN/2011).

Kunjungan pembinaan kepada sasaran kelompok merupakan metode penyuluhan perikanan langsung dengan mendatangi pertemuan kelompok baik yang rutin maupun yang insidentil dalam rangka memberdayakan kelompok pelaku utama/pelaku usaha perikanan (KepmenKP Nomor: KEP.54/MEN/2011).

Senin, 12 Maret 2018

KELAS KEMAMPUAN KELOMPOK PERIKANAN

Stratifikasi kemampuan kelembagaan kelompok meliputi:
1.    Penguasaan teknologi
2.    Pengorganisasian 
3.    Skala Usaha 
4.    Kemampuan Permodalan
5.    Kemitraan/ Kerja sama 
6.    Akses informasi pasar


Berdasarkan tingkat penilaian stratifikasi kemampuan kelembagaan  tersebut, kelembagaan penyuluhan perikana swadaya  dibagi dalam 3 kelas yaitu:
  1. Kelas Pemula, merupakan kelas terbawah dan terendah kelas kemampuannya, dengan batas nilai scoring penilaian 0– 350
  2. Kelas Madya, merupakan kelas yang lebih tinggi dari kelas pemula, kelembagaan pada kelas tersebut sudah melakkan kegiatan perencanaan meskipun masih terbatas, dengan batas nilai scoring 351 - 650
  3. Kelas Utama, merupakan kelas yang lebih tinggi dari kelas madya. Kelompok pelaku utama sudah melakukan kegiatan dalam perencanaan sampai pelaksanaan  meskipun masih terbatas.  Batas nilai scoring  651-1000
Berdasarkan penilaian serta penetapan kelas kemampuan suatu kelompok maka pengakuan terhadap kemampuan kelompok diatur sebagai berikut;
a.    Untuk Kelas Pemula, dengan piagam pengukuhan ditandatangani oleh Kepala Desa/Lurah
b.    Untuk Kelas Madya, dengan piagam pengukuhan ditandatangai oleh Camat
c.    Untuk Kelas Utama, dengan piagam pengukuhan ditandatangani oleh Bupati/Walikota.

Minggu, 11 Maret 2018

DINAMIKA KELOMPOK

Pengertian Dinamika Kelompok
1.    Pengertian Dinamika
Dalam Santoso (2004) dijelaskan bahwa; dinamika berarti tingkah laku warga yang satu secara langsung mempengaruhi warga yang lain secara timbal balik. Jadi, dinamika berarti adanya interaksi dan interpedensi antara anggota kelompok yang satu dengan anggota kelompok yang lain secara timbal balik dan antara anggota dengan kelompok secara keseluruhan.

Dynamic is facts or concepts which refer to condition of change, expecially to forces. Keadaan ini dapat terjadi karena selama ada kelompok, semangat kelompok(group spirit) terus-menerus berada dalam kelompok itu. Oleh Karena itu, kelompok tersebut bersifat dinamis, artinya setiap saat  kelompok yang bersangkutan dapat berubah.

2.    Kelompok
Individu sebagai makhluk hidup mempunyai kebutuhan yang menurut A. Maslow dikenal sebagai: a) kebutuhan fisik; b) kebutuhan rasa aman;               c) kabutuhan kasih sayang; d) kebutuhan prestasi dan prestise, serta             e) kebutuhan untuk melaksanakan sendiri.
Dilain pihak, individu memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan tersebut diatas, namun potensi yang ada pada individu tersebut terbatas sehingga individu harus meminta bantuan kepada individu yang lain yang sama-sama hidup dalam satu kelompok.
Dalam keadaan seperti itu, individu berusaha mengatasi kesulitan yang ada pada dirinya melalui prinsip escapism, artinya salah satu bentuk pelarian diri dengan mengorbankan pribadinya dan mempercayakan pada orang lain yang menurut pendapatnya memiliki sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Bentuk penyerahan diri seperti ini mengakibatkan timbulnya perasaan perlunya kemesraan didalam kehidupan bersama. Artinya, kehidupan kelompok itu berkembang dengan baik.
Dengan keadaan seperti diatas, beberapa ahli mencoba memberikan pengertian apa yang disebut kelompok.
  1. W.Y.H. Sprott memberikan pengertian kelompok sebagai beberapa orang yang bergaul satu dengan yang lain.
  2. Kurt Lewin berpendapat bahwa: The essence of a group is not the similarity or dissimilarity of its members but their interpendence. 
  3. H. Smith menguraikan: “kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa individu, yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan atas dasar kesatuan persepsi”.
Kelompok atau grup dapat diartikan sebagai suatu kumpulan manusia, dua orang atau lebih dengan pola interaksi yang nyata dan dianggap satu kesatuan. Interaksi tersebut bersifat relative tetap, dikarenakan mereka mempunyai kepentingan, sifat atau tujuan yang sama dan saling tergantung atau ada ikatan diantara mereka.

Dari uraian diatas kelompok mempunyai cirri-ciri :
  1. terdiri dari dua orang atau lebih
  2. berinteraksi dan saling ketergantungan satu sama lain
  3. mempunyai tujuan yang sama
  4. melihat dirinya sebagai suatu kelompok
Bentuk-bentuk kelompok bisa antara lain dapat berupa: kelompok sosial dan kelompok tugas, kelompok formal dan kelompok informal kelompok primer dan kelompok sekunder, kelompok terbuka dan kelompok tertutup.

3.    Dinamika Kelompok
Dinamika Kelompok  merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami (Purnawan, 2004).
Dari Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dinamika kelompok berarti suatu kelompok yang teratur dari dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis yang jelas antara anggota kelompok yang satu dengan yang lain. Dengan kata lain, antara anggota kelompok mempunyai hubungan psikologis yang berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersma-sama.

Persoalan dalam Dinamika Kelompok
Didepan telah disebutkan pengertian dinamika kelompok secara jelas yang ditarik atas dasar berbagai pendapat para ahli, baik dari ahli psikologi, ahli sosiologi, dan ahli psikoklogi social sehungga pengertian ini menjadi lebih sempurna.
Dari pokok pengertian dinamika kelompok dapat ditarik berbagai persoalan yang menjadi objek studi dinamika kelompok. Lebih lanjut secara ringkas dapat disebutkan bahwa persoalan dinamika kelompok adalah semua gejala kejiwaan yang disebabkan oleh kehidupan bersama dalam kelompok yang face to face.
Ruth Benedict menjelaskan bahwa persoalan yang ada dalam dinamika kelompok dapat diuraikan sebagai berikut.
  1. Kohesi/persatuan. Dalam persoalan kohesi akan dilihat tingkah laku anggota dalam kelompok, seperti proses pengelompokan, intensitas anggota, arah pilihan, nilai kelompok, dan sebagainya.
  2. Motif/dorongan. Persoalan motif ini berkisar pada interes anggota terhadap kehidupan kelompok, seperti kesatuan berkelompok, tujuan bersama, orientasi terhadap kelompok, dan sebagainya.
  3. Struktur. Persoalan ini terlihat pada bentuk pengelompokan, bentuk hubungan, perbedaan hubungan antar anggota, pembagian tugas dan sebagainya.
  4. Pimpinan. Persoalan pimpinan tidak kalah pentingnya pada kehidupan kelompok, hal ini terlihat pada bentuk-bentuk kepemimpinan, tugas pimpinan, sistem kepemimpinan, dan sebagainya.
  5. Perkembangan kelompok. Persoalan perkembangan kelompok dapat pula menentukan kehidupan kelompok selanjutnya, dan ini terlihat pada perubahan dalam kelompok, senangnya anggota tetap berada dalam kelompok, perpecahan kelompok, dan sebagainya.

Pentingnya Mempelajari Dinamika Kelompok
Beberapa alasan pentingnya mempelajari dinamika kelompok, antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Individu tidak mungkin hidup sendiri didalam masyarakat.
  2. Indvidu tidak dapat pula bekerja sendiri dalam memenuhi kehidupannya.
  3. Dalam Masyarakat yang besar, perlu adanya pembagian kerja agar pekerjaan dapat terlaksana denan baik. Hal itu bisa terjadi apabila dikerjakan dalam kelompok kecil.
  4. Masyarakat yang demokratis dapat berjalan baik apabila lembaga sosial dapat bekerja dengan efektif
  5. Semakin banyak diakui manfaat dari penyelidikan yang ditujukan kepada kelompok-kelompok.

Unsur-Unsur Dinamika Kelompok
Kelompok harus bisa produktif, harus bisa menghasilkan sesuatu, bermanfaat bagi anggotanya. Agar kelompok produktif, kelompok harus dinamis. Untuk bisa dinamis, unsur-unsur dinamika sebagai kekuatan kelompok tersebut harus terpenuhi. Unsur-unsur dinamika kelompok tersebut adalah :

A.    Tujuan Kelompok
Tujuan kelompok dapat diartikan sebagai gambaran yang diharapkan anggota yang akan dicapai  oleh kelompok. Tujuan kelompok harus jelas dan diketahui oleh seluruh anggota. Untuk mencapai tujuan kelompok tersebut diperlukan aktivitas bersama oleh para anggota. Hubungan antara tujuan kelompok dengan tujuan anggota bisa : a) sepenuhnya bertentangan, b) sebagian bertentangan, c) netral, d) searah dan e) identik. Dengan demikian bentuk hubungan ”a” tidak menguntungkan dan bentuk ”d” adalah yang paling baik

B.    Struktur Kelompok
Struktur kelompok adalah bentuk hubungan antara individu-individu dalam kelompok sesuai posisi dan peranan masing-masing. Struktur kelompok harus sesuai/mendukung tercapainya tujuan kelompok. Yang berhubungan dengan struktur kelompok yaitu :
  1. Struktur Komunikasi. Sistim komunikasi dalam kelompok harus lancar agar pesan sampai kepada seluruh anggota, komunikasi yang tidak lancar akan menimbulkan ketidakpuasan anggota, pada gilirannya kelompok menjadi tidak kompak.
  2. Struktur Tugas Atau Pengambilan Keputusan. Pembagian tugas harus merata dengan memperhatikan kemampuan, peranan, dan posisi masing-masing anggota. Dengan demikian seluruh anggota kelompok ikut berpartisipasi dan terlibat, sehingga dinamika kelompok harus semakin kuat.
  3. Struktur Kekuasaan atau Pengambilan Keputusan. Kedinamisan kelompok sangat erat dengan kecepatan pengambilan keputusan selain harus jelas siapa yang mengambil keputusan dan ketidak cepatan (kelambatan) pengambilan keputusan menunjukkan lemahnya struktur kelompok
  4. Sarana Terjadinya Interaksi. Interaksi di dalam kelompok sangat diperlukan sedangkan dalam struktur kelompok harus menjamin kelancaran interaksi, kelancaran interaksi memerlukan sarana (contoh ketersediaan ruang pertemuan kelompok) dapat menjamin kelancaran interaksi antar anggota.

C.    Fungsi Tugas
Fungsi tugas adalah segala kegiatan yang harus dilakukan kelompok dalam rangka mencapai tujuan. Secara keseluruhan fungsi ini sebaiknya dilakukan dengan kondisi menyenangkan, dengan kondisi yang menyenangkan dapat menjamin fungsi tugas ini dapat terpenuhi. Kriteria yang dipergunakan pada fungsi tugas ini terpenuhi atau tidak adalah terdapatnya:
  1. Fungsi memberi informasi. Dengan kondisi yang menyenangkan gagasan yang muncul dan penyebarannya kepada anggota lainnya akan berjalan dengan baik
  2. Fungsi koordinasi. Dalam kelompok fungsi koordinasi ini sangat diperlukan untuk mengatur berbagai pola-pola pemikiran/tindakan agar terjadi kesepakatan tindakan.
  3. Fungsi memuaskan anggota. Semakin anggota merasa senang dan puas, semakin baik kekompakan kelompok.
  4. Fungsi berinisiatif. Kelompok perlu merangsang dari semua anggota untuk bisa memunculkan banyak inisiatif, makin banyak muncul inisiatif makin kuat dinamika kelompok
  5. Fungsi mengajak untuk berpartisipasi
  6. Fungsi menyelaraskan

D.    Mengembangkan dan Membina Kelompok
Mengembangkan dan membina kelompok dimaksudkan sebagai usaha mempertahankan kehidupan kelompok, kehidupan berkelompok dapat dilihat dari adanya kegiatan
  1. Mengusahakan/mendorong agar semua anggota kelompok ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan kelompok. Dengan demikian rasa memiliki kelompok dari para anggotanya akan tinggi.
  2. Tersedianya fasilitas
  3. Mengusahakan/mendorong menumbuhkan kegiatan, agar para anggota bisa ikut aktif berperan
  4. Menciptakan norma kelompok. Norma kelompok ini digunakan sebagai acuan anggota kelompok bertindak.
  5. Mengusahakan adanya kesempatan anggota baru, baik untuk menambah jumlah maupun mengganti anggota yang keluar
  6. Berjalannya proses sosialisasi. Untuk mensosialisasikan adanya anggota baru adanya norma kelompok adanya kesepakatan, dan sebagainya

E.    Kekompakan Kelompok
Kekompakan kelompok menunjukkan tingkat rasa untuk tetap tinggal dalam kelompok, hal ini dapat berupa: loyalitas, rasa memiliki, rasa keterlibatan, dan keterikatan.
Terdapat enam faktor yang mempengaruhi kekompakan kelompok yaitu:
  1. Kepemimpinan Kelompok. Kepemimpinan kelompok yang melindungi, menimbulkan rasa aman, dapat menetralisir setiap perbedaan.
  2. Keanggotaan Kelompok. Anggota yang loyal dan tinggi rasa memiliki kelompok.
  3. Nilai Tujuan Kelompok. Makin tinggi apresiai anggota terhadap tujuan kelompok, kelompok semakin kompak.
  4. Homogenitas Angota Kelompok. Setiap anggota tidak menonjolkan perbedaan masing-masing, bahkan harus merasa sama, merasa satu.
  5. Keterpaduan Kegiatan Kelompok. Keterpaduan anggota kelompok di dalam mencapai tujuan sangatlah penting.
  6. Jumlah Anggota Kelompok. Pada umumnya, bila jumlah anggota kelompok relatif kecil cenderung lebih mudah kompak, dibandingkan dengan kelompok dengan jumlah anggota besar.

F.    Suasana Kelompok
Suasana kelompok adalah keadaan moral, sikap dan perasaan bersemangat atau apatis yang ada dalam kelompok, suasana kelompok yang baik bila anggotanya merasa saling menerima, saling menghargai, saling mempercayai dan bersahabat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi suasana kelompok adalah
  1. hubungan antar anggota. Hubungan yang mendukung adalah hubungan yang rukun, bersahabat, persaudaraan;
  2. kebebasan berpartisipasi. Adanya kebebasan berpartisipasi, berkreasi akan menimbulkan semangat kerja yang tinggi; dan
  3. lingkungan fisik yang mendukung.


G.    Tekananan pada Kelompok
Tekanan pada kelompok dimaksudkan adalah adanya tekanan-tekanan dalam kelompok yang dapat menimbulkan ketegangan, dengan adanya ketegangan akan timbul dorongan untuk mempertahankan tujuan kelompok. Tekanan kelompok yan cermat, dan terukur akan dapat mendinamiskan kelompok, bila tidak justru akan berakibat sebaliknya.

H.    Efektifitas Kelompok
Efektifitas kelompok adalah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas kelompok dalam mencapai tujuan. Semakin banyak tujuan yang dapat dicapai, semakin banyak keberhasilan, anggota kelompok akan semakin puas. Bila anggota kelompok merasa puas kekompakan dan kedinamisan kelompok akan semakin kuat.