Rabu, 16 Mei 2018

Produksi Induk Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) Kelas Induk Pokok (parent stock) (Ringkasan SNI 01-6484.3-2000)

BATASAN
Standar ini meliputi definisi, istilah dan singkatan, klasifikasi dan persyaratan yang berdasarkan kriteria kualitatif dan kriteria kuantitatif serta cara pengukuran dan pemeriksaan. Produksi induk ikan lele dumbo adalah suatu rangkaian kegiatan pra produksi, proses produksi dan pemanenan untuk menghasilkan induk ikan lele dumbo (SNI 01-6434.1-2000). 

PERSYARATAN PRODUKSI 
Pra Produksi
1)   Lokasi kolam : a) lahan bebas banjir dan bebas pengaruh pencemaran; b) tanah dasar stabil, warna kehitaman,  memiliki tekstur 50-60% lempung, < 20% pasir dan sisanya serbuk bahan organik; c)keasaman (pH) tanah > 5; d) sumber air tidak tercemar dan tersedia sepanjang tahun.
2)   Wadah kolam : a) konstruksi : tanah atau tembok dengan pematang yang kuat; b) luas disesuaikan dengan padat tebar; c) kedalaman air : 0,75 - 1,5 m; d) wadah dapat dikeringkan
3)   Benih : benih ikan lele dumbo keturunan pertama dari induk dasar hasil pendederan IV (ukuran 8 cm – 12 cm).
4)   Bahan (pakan, pupuk, bahan kimia dan obat-obatan): a) pakan : pakan dengan kandungan protein > 30 %; b) pupuk : organik; c) bahan kimia dan obat-obatan : antibiotik dan desinfektan (bila diperlukan)
5)   Peralatan : pengukur kualitas air dan peralatan lapangan (hapa/waring, ember, cangkul, lambit, alat timbang). 


Proses Produksi
Parameter dan kisaran optimum kualitas air seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel : Parameter dan kisaran optimum kualitas air


Pemanenan
Proses produksi induk ikan lele dumbo seperti pada tabel dibawah ini
Tabel : Proses produksi induk ikan lele dumbo


CARA PENGUKURAN, PEMERIKSAAN DAN PENENTUAN 
1)   Suhu :  menggunakan termometer di permukaan dan dasar wadah dengan frekuensi dua kali per hari pada pagi dan sore.
2)   pH air : menggunakan pH meter atau pH indikator (kertas lakmus) sesuai dengan spesifikasi teknis alat.
3)   Debit air : mengukur volume air masuk kedalam wadah penampungan dibagi waktu yang dibutuhkan, dalam liter per detik.
4)   Ketinggian air : jarak antara dasar wadah pemeliharaan sampai ke permukaan air, menggunakan penggaris dengan satuan centimeter.
5)   Kecerahan air : jarak antara permukaan air ke piringan saat pertama kali piringan tidak terlihat (cm), menggunakan sechi disk berupa piringan berwarna putih bergaris hitam yang diberi tali/tangkai dan dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan. 
6)   Jumlah pakan = bobot rata-rata ikan (≥ 30 ekor ikan sampel) jumlah populasi ikan yang ditanam x % tingkat pemberian pakan yang telah ditetapkan dalam gram atau kilogram.
7)   Jumlah pupuk = dosis pupuk /m2 x luas wadah pemeliharaan, dalam gram atau kilogram.
8)   Jumlah kapur = (dosis kapur / m2) x  luas wadah pemeliharaan,  dalam gram atau kilogram.
9)   Umur : dihitung sejak telur menetas.
10) Kematangan gonad : a) ikan jantan dilakukan dengan mengurut perut ikan ke arah anus, yang telah matang kelamin akan mengeluarkan cairan kental berwarna putih; b) ikan betina dilakukan dengan meraba bagian perut dan pengamatan bagian anus, yang telah matang gonad ditunjukkan dengan bagian perut membesar lunak kalau diraba, bagian anus menonjol dan kemerahan.
11) Jumlah padat tebar benih = ( Σ benih yang ditebar/ m2 ) x luas wadah pemeliharaan.
12) Sintasan  = (Σ benih ikan yang hidup pada saat panen)/Σ benih yang ditanam, dinyatakan dalam persen.
13) Bobot badan : menimbang ikan dengan menggunakan timbangan analitis , dalam gram atau miligram.
14) Kesehatan : a) pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 1% dari populasi  (< 10 ekor) , untuk pengamatan visual maupun mikroskopik; b) pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan; c) pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit,jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.
15) Kemurnian ikan : dilakukan dengan pengambilan contoh darah ikan untuk pengujian elektrophoresis di laboratorium yang diambil dari pembuluh darah pada pangkal ekor dengan menggunakan alat suntik.

REFERENSI
BSN, 2000. SNI   01-6484.3-2000  Produksi Induk Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) Kelas Induk Pokok (parent stock). Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Selasa, 15 Mei 2018

Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) Kelas Benih Sebar (Ringkasan SNI 01-6484.2-2000)

BATASAN
Standar ini  meliputi deskripsi, istilah, klasifikasi dan persyaratan yang berdasarkan kriteria kualitatif dan criteria kuantitatif serta cara pengukuran dan pemeriksaan. Benih lele dumbo kelas benih sebar adalah benih keturunan pertama dari induk pokok, induk dasar atau induk penjenis yang memenuhi syarat mutu kelas benih sebar.  Ikan lele dumbo memiliki alat pernapasan tambahan berupa aborescen. Benih ikan lele dumbo cenderung bersifat kanibal terutama pada fase larva.

PERSYARATAN
Kualitatif
1)   Larva : hasil penetasan telur dari pemijahan induk kelas induk pokok antara induk jantan dan induk betina bukan satu keturunan, warna tubuh coklat - hitam, bergantung warna wadah, bentuk tubuh  belum sempurna, berenang aktif dan tidak bergerombol.
2)   Benih P I : larva dari pemijahan, warna bagian perut berwarna putih, dan bagian punggung berwarna gelap, bentuk tubuh menyerupai bentuk dewasa, berenang lambat di permukaan tepi wadah, gerakan vertikal saat mengambil oksigen ke atas permukaan air, setelah berumur 10 hari.
3)   Benih P II : hasil P I,warna bagian perut berwarna putih dan bagian punggung berwarna gelap, bentuk tubuh menyerupai bentuk dewasa, berenang menyebar dengan aktif, sesekali gerakannya vertikal saat mengambil oksigen ke atas permukaan air.
4)   Benih P III : hasil P II , warna bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna gelap hijau kelabu dan ekor berwarna terang bersinar, bentuk tubuh menyerupai bentuk dewasa, berenang menyebar dengan aktif, sesekali gerakannya vertikal saat mengambil oksigen ke atas permukaan air.
5)   Benih P IV : hasil P III, warna bagian perut berwarna kuning,bagian punggung berwarna gelap hijau kelabu dan ekor berwarna terang bersinar, bentuk tubuh menyerupai bentuk dewasa, berenang menyebar dengan aktif, sesekali gerakannya vertikal saat mengambil oksigen ke atas permukaan air. 

Kuantitatif
Kriteria kuantitatif benih ikan lele dumbo kelas benih sebar seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel : Kriteria kuantitatif benih ikan lele dumbo kelas benih sebar



CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN
1)   Umur : dihitung sejak telur menetas.
2)   Panjang total : jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung sirip ekor menggunakan jangka sorong atau penggaris dalam centimeter atau millimeter.
3)   Bobot badan : menimbang ikan menggunakan timbangan analitis dalam satuan miligram atau gram.
4)   Kesehatan : a) pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 10 % dari populasi    (≥ 30 ekor) untuk pengamatan visual maupun mikroskopik; b) pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan; c) pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium uji.
5)   Respon : a) dengan mengalirkan air di wadah pemeliharaan atau penampungan, benih yang sehat akan bergerak/berenang melawan arus;  b) pada saat pemberian pakan, benih yang sehat sangat responsif terhadap pakan yang diberikan;  c) dengan memberikan rangsangan gangguan pada wadah pemeliharaan/penampungan, benih yang sehat akan bergerak menyebar dengan cepat bila ada gangguan.

REFERENSI
BSN, 2000. SNI 01-6484.2-2000  Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) Kelas Benih Sebar. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Senin, 14 Mei 2018

Produksi Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) Kelas Benih Sebar (Ringkasan SNI 01-6484.4-2000)

BATASAN
Standar ini   meliputi definisi, istilah, persyaratan produksi dan cara pengukuran. Produksi benih ikan lele dumbo kelas benih sebar ukuran larva, PI, PII, PIII dan P IV adalah suatu rangkaian kegiatan pra produksi, proses produksi dan pemanenan untuk menghasilkan benih ikan lele dumbo kelas benih sebar (SNI 01-6484.2-2000).

PERSYARATAN PRODUKSI
Pra Produksi
1)   Lokasi kolam : lahan  bebas banjir dan bebas dari pengaruh pencemaran, Keasaman (pH) tanah ≥ 5, tanah dasar liat berlumpur.
2)   Sumber air : tidak tercemar dan Tersedia sepanjang tahun.
3)   Wadah : a) wadah pemijahan : penetasan telur dan pemeliharaan larva menggunakan bak, dengan hapa atau tidak; b) wadah pendederan : I, II, III dan IV menggunakan kolam/tembok.
4)   Induk :  induk ikan sesuai dengan SNI 01-6484.1-2000.
5)   Bahan : a) pakan : pakan buatan dengan kandungan protein > 30 %; b) pupuk organik; c) kapur tohor; d) bahan kimia dan obat-obatan : desinfektan dan antibiotik (bila diperlukan)
6)   Peralatan : kakaban, hapa, pengukur kualitas air, peralatan lapangan (timbangan,hapa/ waring, ember, lambit, sikat bak, cangkul)

Proses Produksi
1)   Pemijahan, penetasan telur dan pemeliharaan larva : a) kualitas air media: Suhu  25 - 30 oC, pH: 6,5 - 8,5, Debit air: 0,5 liter/detik, ketinggian air: 25 - 40 cm; b) padat tebar: untuk pemijahan  1 kg induk betina/m2 dengan perbandingan bobot jantan: betina adalah 1 : 2 dan perbandingan jumlah jantan:betina adalah 1 : 1-3, untuk penetasan : 50 000 -100 000 butir/m2; c) waktu : Penetasan telur 33 - 36 jam, pemeliharaan larva  3 - 4 hari.
2)   Pendederan I, II, III dan IV : a) kualitas dan kuantitas air media: Suhu 25 - 30 oC,  pH: 6,5 - 8,6, laju pergantian 10-15 % per hari, ketinggian air  50 -70 cm, kecerahan: 25 35 cm; b) obat-obatan dan bahan kimia: antibiotika (jika diperlukan, oksitetrasiklin dengan dosis 5 -10 mg/l), kalium permanganat 1-3 mg/l, formalin 25 ppm, garam 500 1 000 mg/l dengan cara perendaman selama 24 jam.

Pemanenan
1)   Laju penetasan  60% - 80% dan sintasan larva  60-80 %
2)   Ukuran panjang total dan bobot benih yang dipanen: a) larva sesuai dengan SNI 01.6484.2-2000; b) benih pada P I sesuai dengan SNI 01.6484.2-2000; c) benih pada P II sesuai dengan SNI 01.6484.2-2000; d) bobot benih pada P III sesuai dengan SNI 01.6484.2-2000.

Tabel  : Proses produksi benih ikan lele dumbo pada setiap tingkatan pemeliharaan


CARA PENGUKURAN DAN PENENTUAN
1)   Suhu : menggunakan termometer, di permukaan air dan dasar wadah dengan frekuensi dua kali per hari pada pagi dan sore.
2)   pH air : menggunakan pH meter atau pH indikator (kertas lakmus) yang penggunaannya sesuai dengan spesifikasi teknis alat masingmasing.
3)   Debit air :  mengukur volume air masuk ke dalam wadah penampungan dibagi waktu yang dibutuhkan dalam satuan liter per detik.
4)   Ketinggian air : jarak antara dasar wadah pemeliharaan sampai ke permukaan air, menggunakan penggaris, dalam satuan centimer.
5)   Kecerahan air : mengukur jarak antara permukaan air ke piringan saat pertama kali piringan tidak terlihat (cm) menggunakan sechi disk  dengan garis tengah > 25 cm . 
6)   Penggunaan bahan : a) jumlah pakan: {bobot rata-rata ikan (≥  30 ekor ikan sampel) x jumlah populasi ikan yang ditanam x % tingkat pemberian pakan} dalam gram atau kilogram; b) jumlah pupuk = { dosis pupuk /m2 x  luas wadah pemeliharaan} dalam gram atau kilogram; c) jumlah kapur  = { dosis kapur/ m2 x luas wadah pemeliharaan} dalam gram atau kilogram.
7)   Padat tebar benih  = (Σ benih yang ditebar/ m2) x luas wadah pemeliharaan.
8)   Panjang total : jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung sirip ekor menggunakan jangka sorong atau penggaris  dalam centimeter atau millimeter.
9)   Bobot benih : menimbang benih menggunakan timbangan analitis, dalam  gram atau miligram.

REFERENSI
BSN, 2000. SNI 01-6484.4-2000  Produksi Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) Kelas Benih Sebar. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search