Kamis, 18 Januari 2018

Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Sinyonya Kelas Induk Pokok (parent stock) (Ringkasan SNI 01-6135-1999)

BATASAN
Standar ini  meliputi definisi, istilah, persyaratan produksi serta cara pengukuran dan pemeriksaan. Produksi induk ikan mas strain sinyonya kelas induk pokok adalah suatu rangkaian kegiatan pra produksi, proses produksi dan pemanenan untuk menghasilkan induk ikan mas strain sinyonya kelas induk pokok (SNI 01-6134-1999). 

PERSYARATAN PRODUKSI
Pra produksi 
1)   Karamba jaring apung  : a) lokasi : di waduk, danau, air tidak tercemar dan memenuhi syarat minimal baku mutu budidaya, kedalaman air ≥ 5 m dari dasar jaring pada saat surut terendah, luas areal pemasangan jaring ≤ 10 % dari luas potensial dan jumlah luas jaring  ≤ 10 % dari luas areal pemasangan jaring; b) Kolam : bebas banjir dan bebas pengaruh pencemaran,tanah dasar liat berlumpur, pH tanah > 5, sumber air tidak tercemar dan tersedia sepanjang tahun. 
2)   Wadah pemeliharaan : Karamba jaring apung : a) kerangka : bahan dari kayu tahan air, bambu atau besi yang dicat anti karat, ukuran : (7 x 7) m2, bentuk : empat persegi; b) pelampung : bahan dari styrofoam/drum plastik, bentuk silindris, ukuran volume 120 liter, jumlah ≥ 8 buah/unit rakit; c) tali jangkar : bahan dari  polietilena (PE), panjang : 1,5 kali kedalaman perairan maksimal, jumlah  4 utas/unit jaring apung, diameter  ≥ 1,5 cm; d) jangkar : bahan dari besi/blok beton/ batu, bentuk jangkar, segi empat, berat  40 kilogram/buah, jumlah 4 buah/unit jaring apung; e) jaring : bahan dari polietilena /PE 210 D/18,ukuran mata jaring : 1 inci, warna hijau/hitam,ukuran jaring (7 x 7 x 3,5) m3; f) Waring : bahan dari  nilon, ukuran mata waring  1 cm, warna hijau/hitam, ukuran waring (3 x 3 x 1,5) m3. 
3)   Kolam air tenang : a) konstruksi : tanah atau tembok; b) luas : ≥ 500 m2; c) kedalaman kolam : 1,0 - 1,2 m; d) kondisi kolam : dapat dikeringkan.  4)  Kolam air deras : a) konstruksi : bak permanen; b) luas : ≥ 12 m 2/ unit; c) kedalaman air : 1,0 - 1,5 m; d) pintu air : 2 (dua) buah per petak untuk pemasukan dan pengeluaran; e) debit air : ≥ 30 liter per detik per unit; f) benih : benih ikan mas strain sinyonya ukuran sangkal keturunan pertama dari induk dasar. 
4)   Bahan : a)  pakan : pelet, kandungan protein 30 - 35 %, lemak 6 - 8 % (bobot kering); b) pupuk : organik (pupuk kandang); c) bahan kimia dan obat-obatan : formalin, kalium permanganat, kloramfenikol, oksitetrasiklina dan kapur. 
5)   Peralatan : Lambit, pembersih jaring, pengukur kualitas air, peralatan lapangan (timbangan, hapa/waring, ember, cangkul,  alat panen).

Proses Produksi
1)   Kolam air tenang : a) kualitas air : suhu 25 - 30ºC, pH : 6,5 - 8,5, oksigen terlarut > 5 mg/liter, ammoniak (NH3) < 0,02 mg/liter, kecerahan sechi disk > 30 cm ; b) penggunaan bahan : obat-obatan dan bahan kimia : antibiotika (jika diperlukan, kloramfenikol/oksitetrasiklina dengan dosis 5 -10 mg/l), kalium permanganat 1 - 3 mg/l, formalin 25 ppm dengan cara perendaman selama 24 jam ; kapur tohor : 50 g/m2 disebar di dasar kolam ; pupuk organik : kotoran ayam (dosis 500 g/m2)
2)   Kolam air deras : a) kualitas air : suhu : 25 - 30ºC,  pH : 6,5 - 8,5, oksigen terlarut > 5 mg/l, ammoniak (NH3) < 0,01 mg/l, kecerahan sechi disk > 0,30 m ; b) penggunaan bahan : obat-obatan dan bahan kimia : antibiotika (jika diperlukan, kloramfenikol/oksitetrasiklina dengan dosis 5 -10 mg/l), kalium permanganat 1 - 3 mg/l, formalin 25 ppm dengan cara perendaman selama 24 jam. 


Tabel : Standar proses produksi induk ikan mas strain sinyonya pada kolam air tenang dan kolam air deras

CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN 
1)   Umur : dihitung sejak telur menetas.
2)   Kematangan gonad : a) ikan jantan dilakukan dengan mengurut perut ikan ke arah anus, yang telah matang gonad akan mengeluarkan cairan kental berwarna putih, b) ikan betina dilakukan dengan meraba bagian perut dan pengamatan bagian anus, yang telah matang gonad ditunjukkan dengan bagian perut membesar, lunak kalau diraba dan bagian anus menonjol. Pengambilan telur secara kanulasi dan pengukuran diameter telur menggunakan mikroskop yang dilengkapi mikrometer.
3)   Panjang standar : jarak antara ujung mulut sampai dengan pangkal ekor, dalam centimeter.
4)   Panjang kepala : jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung tutup insang, dalam centimeter.
5)   Tinggi badan : garis tegak lurus dari dasar perut sampai ke punggung dengan menggunakan mistar atau jangka sorong dalam centimeter
6)   Bobot badan : menimbang berat tubuh ikan per individu menggunakan timbangan dalam gram.
7)   Kesehatan : a) pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 1 % dari populasi, dengan jumlah maksimal 10 ekor untuk pengamatan visual maupun mikroskopik;  b) pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan; c) pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium .
8)   Kemurnian ikan : dilakukan dengan pengambilan contoh darah ikan untuk pengujian elektrophoresis di laboratorium yang diambil dari pembuluh darah pada pangkal ekor dengan menggunakan alat suntik.

REFERENSI
BSN, 1999. SNI 01-6135-1999  Produksi Induk Ikan Ias (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Sinyonya Kelas Induk Pokok (parent stock). Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Rabu, 17 Januari 2018

Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Majalaya Kelas Benih Sebar (Ringkasan SNI 01-6132-1999)

BATASAN
Standar ini meliputi deskripsi, istilah, klasifikasi, persyaratan yang berdasarkan persyaratan  kualitatif dan kuantitatif serta cara pengukuran dan pemeriksaan. Benih sebar ikan mas strain majalaya kelas benih sebar adalah keturunan pertama dari induk pokok yang memenuhi standar mutu benih sebar dan terdiri dari larva, kebul, putihan, belo dan sangkal yang telah teruji keunggulannya serta siap untuk disebarluaskan kepada petani/pengguna. 

PERSYARATAN  
Kualitatif 
1)   Larva :  hasil pemijahan induk kelas induk pokok dengan induk jantan dan induk betina bukan satu keturunan; warna transparan; bentuk tubuhnormal; berenang di permukaan air menyebar di tepi wadah.
2)   Kebul : benih berumur 4 hari; bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna gelap; bentuk tubuh normal; berenang bergerombol di permukaan tepi wadah dan aktif; menyongsong air baru serta ekor bergerak sangat cepat sehingga tidak terlihat jelas gerakannya.
3)   Putihan : benih berumur 20 hari; bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna gelap hijau kelabu dan ekor berwarna terang bersinar; bentuk tubuh sempurna; mata bulat; berenang bergerombol dan aktif menyongsong air baru.
4)   Belo : benih umur 40 hari bagian perut berwarna kuning, bagian punggung berwarna gelap hijau kelabu dan ekor berwarna terang bersinar; bentuk tubuh tebal, gemuk dan kepala tidak besar, mata  bulat; berenang bergerombol dan aktif menyongsong arus.
5)   Sangkal : benih umur 70 hari; bagian perut berwarna kuning tua, bagian punggung berwarna gelap hijau kelabu dan ekor berwarna terang bersinar; bentuk tubuh tebal, gemuk dan kepala tidak besar, mata bulat dan menonjol; berenang bergerombol dan aktif menyongsong arus.

Kuantitatif
Persyaratan kuantitatif benih ikan mas majalaya seperti pada tabel dibawah ini.

Tabel : Persyaratan kuantitatif benih ikan mas majalaya

CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN 
1)   Umur  : ditentukan sejak telur menetas.
2)   Panjang total : dari ujung mulut sampai ujung sirip ekor menggunakan penggaris atau jangka sorong, dalam milimeter atau centimeter.
3)   Bobot badan : menimbang ikan per individu, dalam gram.
4)   Kesehatan : a) pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 10 % dari populasi atau minimal 30 ekor untuk pengamatan visual maupun mikroskopik; b) pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan;  c) pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.
5)   Respon :  a) mengalirkan air di wadah pemeliharaan atau penampungan, benih yang sehat akan bergerak/berenang melawan arus; b) memberikan pakan di wadah pemeliharaan atau penampungan, benih yang sehat responsif terhadap pemberian pakan; c) memberikan rangsangan pada wadah pemeliharaan atau penampungan, benih yang sehat akan bergerak menyebar dengan cepat bila ada gangguan.



REFERENSI
BSN, 1999. SNI 01-6132-1999  Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Majalaya Kelas Benih Sebar. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Selasa, 16 Januari 2018

Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Majalaya Kelas Benih Sebar (Ringkasan SNI 01-6132-1999)

BATASAN
Standar ini meliputi definisi, istilah, dan persyaratan produksi serta cara pengukuran. Produksi benih ikan mas strain majalaya kelas benih sebar ukuran larva, kebul, putihan, belo dan sangkal adalah suatu rangkaian kegiatan pra produksi, proses produksi dan pemanenan untuk menghasilkan benih ikan mas strain majalaya kelas benih sebar (SNI 01-6132-1999).  
 
PERSYARATAN 
Pra produksi
1)   Lokasi : a) kolam dan sawah : kawasan bebas banjir dan bebas dari pengaruh pencemaran, jenis tanah liat berpasir,air tersedia sepanjang tahun dan memenuhi persyaratan minimal baku mutu budidaya, ketinggian lahan : 0 - 1000 m di atas permukaan laut; b) karamba jaring apung : lokasi di  waduk dan danau, air tidak tercemar dan memenuhi persyaratan minimal baku mutu budidaya, kedalaman air > 5 m dari dasar jaring pada saat surut terendah,luas areal pemasangan jaring ≤ 10 % dari luas potensial dan jumlah luas jaring ≤ 10 % dari luas areal pemasangan jaring.
2)   Wadah : a) produksi larva : wadah pemijahan, penetasan telur dan pemeliharaan larva berupa hapa, bak dan kolam; b) produksi kebul (pendederan I) : kolam tanah ukuran minimal 500 m2; c) produksi putihan, belo dan sangkal (pendederan II, III dan IV) : kolam tanah ukuran minimal 500 m2, sawah dan karamba jaring apung, dengan mata jaring 0,5 cm - 1,0 cm.
3)   Induk : sesuai dengan SNI 01-6130-1999.
4)   Bahan : a) pakan buatan dengan kandungan protein ≥  30 %, lemak 6 - 8 % (bobot kering). b) pupuk organik; c) obat-obatan dan bahan kimia : biru metilena, kalium permanganat, organo fosfat, formalin, kapur tohor dan oksitetrasiklina (bila diperlukan).
5)   Peralatan : kakaban, hapa, pengukur kualitas air dan peralatan lapangan (waring, ember, cangkul).  

Produksi
1)   1)   Larva (pemijahan dan penetasan telur) : a) kualitas air : suhu 25 - 30ºC, pH  6,5 - 8,5; debit air untuk penetasan telur 0,5 liter/detik; oksigen terlarut ≥ 5 mg/l; ketinggian air 50 - 70 cm;   b) penggunaan obat-obatan : kalium permanganat 2 - 4 mg/l, biru metilena 1 - 3 mg/l, oksitetrasiklina 5 - 10 mg/l (bila diperlukan); c) padat tebar : induk untuk pemijahan 2 kg induk betina/4 m2; telur untuk penetasan : 10 000 - 20 000 butir/ m2 kakaban. d) waktu : penetasan telur : 45 jam pada suhu 25ºC; pemeliharaan larva : 4 hari; e) sintasan larva : 70 - 80 %.
2)   Kebul, putihan, belo dan sangkal (pendederan I, II, III dan IV): kolam : a)  kualitas dan kuantitas air : suhu optimum 28ºC, pH 6,5 - 8,5; debit air 0,4 - 0,7 liter/detik, untuk luas kolam 500 m2; oksigen terlarut minimal 5 mg/l; ketinggian air : 50 - 70 cm; kecerahan sechi disk 25 cm; b) penggunaan bahan kimia : organo fosfat 1 - 4 mg/l hanya untuk produksi kebul (pendederan I); c) penggunaan obat-obatan : formalin 25 ppm, oksitetrasiklina 5 -10 mg/l (bila diperlukan). Standar proses produksi benih ikan mas majalaya pada setiap tingkatan pemeliharaan di kolam seperti pada tabel dibawah ini. 

Tabel : Standar proses produksi benih ikan mas majalaya pada setiap tingkatan pemeliharaan di kolam


3)   Sawah :  a) kualitas dan kuantitas air : suhu optimum 28ºC ; nilai pH : 6,5 - 8,5; debit air 0,4 - 0,7 liter/detik; oksigen terlarut minimal 5 mg/l; tinggi air di pelataran10 - 20 cm;  b) obat-obatan : formalin 25 ppm. 
Tabel : Standar proses produksi benih ikan mas majalaya pada setiap tingkatan pemeliharaan di sawah


































4)   Jaring apung : a) kualitas air :  suhu 25 - 30ºC; pH 6,5 - 8,5; b) ketinggian air : 1 - 1,5 m; c) kedalaman air : minimal 5 m dari dasar jaring pada saat surut terendah; d) kecerahan : > 3 meter.
Tabel : Standar proses produksi benih ikan mas majalaya pada setiap tingkatan pemeliharaan di jaring apung




















CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN 
1)   Suhu : menggunakan termometer, di permukaan air dan dasar wadah dengan frekuensi dua kali per hari pada pagi dan sore.
2)   pH air : menggunakan pH meter atau pH indikator (kertas lakmus) sesuai dengan spesifikasi. 
3)   Debit air : volume air yang masuk ke dalam wadah penampungan dibagi waktu yang dibutuhkan, dalam liter per detik.
4)   Ketinggian air : jarak antara dasar wadah pemeliharaan sampai ke permukaan air, menggunakan penggaris, dalam centimeter.
5)   Kecerahan air : menggunakan sechi disk berupa piringan berwarna putih bergaris hitam dengan garis tengah minimal 25 cm dan diberi tali/tangkai yang dimasukan ke dalam wadah pemeliharaan. Kecerahan dinyatakan dengan mengukur jarak antara permukaan air ke piringan saat pertama kali piringan tidak terlihat (cm).
6)   Jumlah pakan : menghitung bobot rata-rata ikan (minimal dari 30 ekor ikan sampel) dikalikan jumlah populasi ikan yang ditanam dikalikan persentase tingkat pemberian pakan yang telah ditetapkan dalam gram atau kilogram.
7)   Jumlah pupuk : dosis pupuk per meter persegi dikalikan luas wadah pemeliharaan yang dinyatakan dalam satuan gram atau kilogram.
8)   Jumlah kapur : dosis kapur per meter persegi dikalikan luas wadah pemeliharaan yang dinyatakan dalam gram atau kilogram.
9)   Jumlah organo fosfat : takaran bahan sebanyak satu sampai dengan empat bagian organo fosfat dalam 999.999 bagian air media.
10) Padat tebar benih : perkalian antara jumlah benih yang ditebar per satuan meter persegi dikalikan luas wadah pemeliharaan.
11) Panjang total benih : jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung sirip ekor menggunakan jangka sorong atau penggaris, dalam centimeter atau millimeter. 12) Bobot benih : menimbang benih menggunakan timbangan analitis, dalam gram atau miligram.

REFERENSI
BSN, 1999. SNI 01-6132-1999  Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Majalaya Kelas Benih Sebar. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Senin, 15 Januari 2018

Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Sinyonya Kelas Benih Sebar (Ringkasan SNI 01-6136-1999)

BATASAN
Standar ini meliputi deskripsi, istilah, klasifikasi, persyaratan yang berdasarkan persyaratan  kualitatif dan kuantitatif serta cara pengukuran dan pemeriksaan. Benih sebar ikan mas strain sinyonya kelas benih sebar adalah keturunan pertama dari induk pokok yang memenuhi standar mutu benih sebar dan terdiri dari larva, kebul, putihan, belo dan sangkal yang telah teruji keunggulannya serta siap untuk disebarluaskan kepada petani/pengguna. 

PERSYARATAN  
Kualitatif 
1)   Larva : hasil penetasan telur dari pemijahan induk kelas induk pokok dengan induk jantan dan induk betina bukan satu keturunan; warna transparan; bentuk tubuh normal; berenang di permukaan air menyebar di tepi wadah.
2)   Kebul : benih berumur 4 hari; bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna kuning; bentuk tubuh normal; mata : bulat; berenang bergerombol di permukaan tepi wadah dan aktif menyongsong air baru serta ekor bergerak sangat cepat sehingga tidak terlihat jelas gerakannya.
3)   Putihan : benih berumur 20 hari; bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna kuning tua dan ekor berwarna terang bersinar; bentuk tubuh sempurna; mata bulat; berenang bergerombol di permukaan air dan aktif menyongsong air baru.
4)   Belo : benih umur 40 hari; bagian perut berwarna putih kekuningan; bagian punggung berwarna kuning dan ekor berwarna terang bersinar; bentuk tubuh panjang dan kepala tidak besar;  mata bulat;  berenang bergerombol di permukaan air dan aktif menyongsong arus.
5)   Sangkal : benih umur 70 hari; bagian perut berwarna kuning muda; bagian punggung berwarna kuning tua dan ekor berwarna terang bersinar; bentuk tubuh panjang dan kepala tidak besar; bentuk mata tidak terlalu bulat; berenang bergerombol di permukaan air dan aktif menyongsong arus.


Kuantitatif
Persyaratan kuantitatif benih ikan mas strain sinyonya kelas benih sebar seperti pada tabel dibawah ini 



Tabel : Persyaratan kuantitatif benih ikan mas strain sinyonya kelas benih sebar


CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN 
1)   Umur : ditentukan sejak telur menetas berdasarkan catatan.
2)   Panjang total : dari  ujung mulut sampai ujung sirip ekor menggunakan penggaris atau jangka sorong  dalam milimeter atau centimeter.
3)   Bobot badan : menimbang contoh ikan dalam gram.
4)   Kesehatan ikan : a) pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 10 % dari populasi atau minimal 30 ekor, untuk pengamatan visual maupun mikroskopik;  b) pengamatan visual dilakukan untuk memeriksa gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan; c) pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.
5)   Respon : a) dengan mengalirkan air di wadah pemeliharaan atau penampungan, benih yang sehat akan bergerak/berenang melawan arus; b) dengan memberikan pakan di wadah pemeliharaan atau penampungan, benih yang sehat responsif terhadap pemberian pakan; c) dengan memberikan rangsangan pada wadah pemeliharaan atau penampungan,benih yang sehat akan bergerak menyebar dengan cepat bila ada gangguan.

REFERENSI
BSN, 1999. SNI 01-6136-1999  Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Sinyonya Kelas Benih Sebar. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search