Sabtu, 12 Mei 2018
Jumat, 11 Mei 2018
Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) Bagian 5 : Produksi Kelas Pembesaran di Kolam (Ringkasan SNI 01-6484.5-2002)
BATASAN
Standar ini menetapkan hal-hal yang meliputi definisi, istilah dan persyaratan produksi serta cara pengukuran dan pemeriksaan untuk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas pembesaran di kolam. Produksi ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas pembesaran di kolam adalah suatu rangkaian kegiatan pra-produksi, proses produksi dan pemanenan untuk menghasilkan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas pembesaran di kolam.
PERSYARATAN PRODUKSI
Pra produksi
1) Lokasi kolam : lahan bebas banjir dan bebas pengaruh pencemaran serta sesuai dengan RTRW, tanah dasar stabil, memiliki tekstur lempung (50-60%), pasir lebih kecil dari 20 % dan sisanya bahan organik, keasaman (pH) tanah 3,5 – 8,5, sumber air tersedia sepanjang tahun, memenuhi persyaratan baku mutu budidaya dan sanitasi.
2) Wadah : konstruksi kolam tanah atau tembok dengan pematang yang kuat dan mampu menampung air, luas minimal 100 m², kedalaman air 0,75 m – 1,5 m, kondisi wadah dapat dikeringkan.
3) Benih : benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar sesuai dengan SNI 01-6484.4-2000.
4) Bahan : pakan buatan ikan lele sesuai dengan SNI 01-4087-1996, pupuk organik dan atau anorganik, bahan kimia dan obat-obatan: desinfektan.
5) Peralatan : pengukur kualitas air : pH tester, termometer, DO meter, piring sechi, peralatan perikanan : hapa/waring, ember, cangkul, serok, alat timbang.
Proses produksi
1) Kisaran optimum kualitas air : seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel : Kisaran optimum kualitas air
2) Padat tebar benih : seperti pada tabel di bawah ini
3) Ukuran benih : seperti pada tabel di bawah ini
4) Waktu pemeliharaan : seperti pada tabel di bawah ini
5) Penggunaan bahan : a) pakan : dosis dan frekuensi pemberian, seperti pada tabel di bawah ini; b) obat-obatan dan bahan kimia : kalium permanganat 1 mg/l-3 mg/l, formalin dengan dosis 15 ml/ m3– 25 ml/m3, garam dosis 500 mg/l – 1000 mg/l dengan cara perendaman selama 12 jam – 24 jam dan diaerasi; c) pupuk : organik dengan dosis 250 g/m² - 500 g/m², anorganik dengan dosis urea 10/m² - 20 g/m²; TSP 5/m² - 10 g/m²; d) kapur tohor : dengan dosis 50 g/m² - 100 g/m².
Pemanenan
Proses produksi ikan lele dumbo kelas pembesaran di kolam seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel : Proses produksi ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas pembesaran di kolam
CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN
1) Umur : dihitung sejak telur menetas
2) Panjang standar : dengan mengukur jarak antara ujung mulut sampai dengan pangkal ekor dengan menggunakan penggaris atau jangka sorong dan dinyatakan dalam satuan centimeter.
3) Bobot tubuh : dengan menggunakan timbangan dinyatakan dalam gram atau kilogram.
4) Mengukur suhu : dengan menggunakan termometer yang dinyatakan dalam satuan °C. Pengukuran suhu air dan dasar wadah, pengukuran dilakukan dengan frekuensi dua kali yaitu pagi dan sore.
5) Oksigen terlarut : dengan menggunakan DO meter, pengukuran oksigen air dilakukan dipermukaan air dan dasar wadah, pengukuran dilakukan dengan frekuensi dua kali yaitu pagi dan sore.
6) pH air : dilakukan dengan menggunakan pH tester.
7) Kecerahan air : dengan menggunakan piring sechi, yang dimasukan kedalam wadah, ukuran kecerahan dengan mengukur jarak antara permukaan air dengan batas piringan yang tampak jelas dalam satuan cm.
8) Jumlah pakan : dilakukan dengan menghitung bobot rata-rata ikan (minimal dari 30 ekor sample) dikalikan dengan jumlah populasi ikan yang ditebar dikalikan dengan persentase tingkat pemberian pakan yang telah ditetapkan dalam satuan gram atau kilogram.
9) Jumlah pupuk : dosis pupuk per meter persegi dikalikan dengan luas wadah pemeliharaan yang dinyatakan dalam satuan gram atau kilogram.
10) Jumlah kapur : dosis kapur per meter persegi dikalikan dengan luas wadah pemeliharaan yang dinyatakan dalam satuan gram atau kilogram.
11) Padat tebar benih : perkalian antara jumlah benih yang ditebar persatuan meter persegi dikalikan dengan luas wadah pemeliharaan atau total volume air.
12) Memeriksa kesehatan : a) pengambilan contoh untuk pengujian kesehatan ikan dilakukan secara acak sebanyak 1 % dari populasi, dengan jumlah minimal 5 ekor baik untuk pengamatan visual maupun mikroskopik; b) pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan adanya gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan; c) pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium
REFERENSI
BSN, 2002. SNI 01-6484.5-2002 Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) Bagian 5 : Produksi Kelas Pembesaran di Kolam. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search
Kamis, 10 Mei 2018
PERAN DAN FUNGSI KELOMPOK
Sebuah kelembagaan kelompok pelaku utama bidang kelautan dan perikanan dapat memiliki peranan antara lain sebagai berikut :
1) Sebagai media komunikasi dan pergaulan sosial yang wajar, lestari dan dinamis.
2) Sebagai basis untuk mencapai pembaharuan secara merata.
3) Sebagai pemersatu aspirasi yang murni dan sehat.
4) Sebagai wadah yang efektif dan efisien untuk belajar serta bekerja sama.
5) Sebagai teladan bagi masyarakat lainnya.
Untuk dapat mewujudkan peranan tersebut maka kelompok seharusnya dapat berfungsi antara lain sebagai: (1) Kelas belajar; (2) Wadah kerja sama; (3) Unit produksi; (4) Organisasi kegiatan bersama; dan (5) Kesatuan swadaya dan swadana.
1) Kelompok Sebagai Kelas Belajar
Sebagai kelas belajar, kelompok merupakan media interaksi belajar antar pelaku utama. Mereka dapat melakukan proses interaksi edukatif dalam rangka mengadopsi inovasi. Mereka dapat saling Asah, Asih dan Asuh dalam menyerap suatu informasi dari fasilitator, mediator, pemandu, pendamping, penyuluh dan pihak lain. Mereka akan dapat mengambil kesepakatan tindakan bersama apa yang akan diambil dari hasil belajar tersebut. Dengan demikian proses kemandirian kelompok akan dapat dicapai. Di dalam kelompok sebagai kelas belajar para pelaku utama akan dapat melakukan komunikasi multi dimensional. Mereka dapat mempertukarkan pengalaman masing-masing, sehingga akan membuat pelaku utama semakin dewasa untuk dapat keluar dari masalahnya sendiri, tanpa adanya ketergantungan pada petugas (pendamping, penyuluh dan lain-lain).
2) Kelompok Sebagai Wadah Kerja Sama
Sebagai wadah kerja sama, kelompok pelaku utama merupakan cerminan dari keberadaan suatu wadah kerjasama.
3) Kelompok Sebagai Unit Produksi
Kelompok pelaku utama sebagai unit produksi, erat hubungan dengan wadah kerja sama misalnya kelompok pembudidaya ikan. Dengan melaksanakan kegiatan budidaya secara bersama–sama dapat dicapai efisiensi yang lebih tinggi misalnya, dalam pengadaan sarana produksi, perkreditan, dan pemasaran hasil.
Oleh karena itu dengan fungsi kelompok sebagai unit produksi akan dapat dicapai skala ekonomis usaha yang dapat memberikan keuntungan yang lebih besar kepada para pelaku utama.
4) Kelompok Sebagai Organisasi Kegiatan Bersama
Dengan berkelompok maka pelaku utama akan belajar mengorganisasi kegiatan bersama-sama, yaitu membagi pekerjaan dan mengkoordinisasi pekerjaan dengan mengikuti tata tertib sebagai hasil kesepakatan mereka. Mereka belajar membagi peranan dan melakukan peranan tersebut. Mereka belajar bertindak atas nama kelompok yang kompak, yaitu setiap anggota merasa memiliki commitment terhadap kelompoknya. Mereka merasa "In Group" yaitu mengembangkan "ke-kitaan bukan ke-kamian". Dengan demikian akan merasa bangga sebagai suatu kelompok yang terorganisasi secara baik, dibandingkan berbuat sendiri-sendiri.
5) Kelompok Sebagai Kasatuan Swadaya dan Swadana
Kelompok pelaku utama adalah kumpulan pelaku utama yang mempunyai hubungan atau interaksi yang nyata, mempunyai daya tahan dan struktur tertentu, berpartisipasi bersama dalam suatu kegiatan. Hal ini tidak akan dapat terwujud tanpa adanya kesatuan kelompok tersebut.
Pelaku utama diharapkan dapat mandiri dalam arti mampu merumuskan masalah, mengambil keputusan, merencanakan, melaksanakan kegiatan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Tumbuhnya kemandirian tersebut diharapkan dapat dilakukan melalui kelompok.
1) Sebagai media komunikasi dan pergaulan sosial yang wajar, lestari dan dinamis.
2) Sebagai basis untuk mencapai pembaharuan secara merata.
3) Sebagai pemersatu aspirasi yang murni dan sehat.
4) Sebagai wadah yang efektif dan efisien untuk belajar serta bekerja sama.
5) Sebagai teladan bagi masyarakat lainnya.
Untuk dapat mewujudkan peranan tersebut maka kelompok seharusnya dapat berfungsi antara lain sebagai: (1) Kelas belajar; (2) Wadah kerja sama; (3) Unit produksi; (4) Organisasi kegiatan bersama; dan (5) Kesatuan swadaya dan swadana.
1) Kelompok Sebagai Kelas Belajar
Sebagai kelas belajar, kelompok merupakan media interaksi belajar antar pelaku utama. Mereka dapat melakukan proses interaksi edukatif dalam rangka mengadopsi inovasi. Mereka dapat saling Asah, Asih dan Asuh dalam menyerap suatu informasi dari fasilitator, mediator, pemandu, pendamping, penyuluh dan pihak lain. Mereka akan dapat mengambil kesepakatan tindakan bersama apa yang akan diambil dari hasil belajar tersebut. Dengan demikian proses kemandirian kelompok akan dapat dicapai. Di dalam kelompok sebagai kelas belajar para pelaku utama akan dapat melakukan komunikasi multi dimensional. Mereka dapat mempertukarkan pengalaman masing-masing, sehingga akan membuat pelaku utama semakin dewasa untuk dapat keluar dari masalahnya sendiri, tanpa adanya ketergantungan pada petugas (pendamping, penyuluh dan lain-lain).
2) Kelompok Sebagai Wadah Kerja Sama
Sebagai wadah kerja sama, kelompok pelaku utama merupakan cerminan dari keberadaan suatu wadah kerjasama.
3) Kelompok Sebagai Unit Produksi
Kelompok pelaku utama sebagai unit produksi, erat hubungan dengan wadah kerja sama misalnya kelompok pembudidaya ikan. Dengan melaksanakan kegiatan budidaya secara bersama–sama dapat dicapai efisiensi yang lebih tinggi misalnya, dalam pengadaan sarana produksi, perkreditan, dan pemasaran hasil.
Oleh karena itu dengan fungsi kelompok sebagai unit produksi akan dapat dicapai skala ekonomis usaha yang dapat memberikan keuntungan yang lebih besar kepada para pelaku utama.
4) Kelompok Sebagai Organisasi Kegiatan Bersama
Dengan berkelompok maka pelaku utama akan belajar mengorganisasi kegiatan bersama-sama, yaitu membagi pekerjaan dan mengkoordinisasi pekerjaan dengan mengikuti tata tertib sebagai hasil kesepakatan mereka. Mereka belajar membagi peranan dan melakukan peranan tersebut. Mereka belajar bertindak atas nama kelompok yang kompak, yaitu setiap anggota merasa memiliki commitment terhadap kelompoknya. Mereka merasa "In Group" yaitu mengembangkan "ke-kitaan bukan ke-kamian". Dengan demikian akan merasa bangga sebagai suatu kelompok yang terorganisasi secara baik, dibandingkan berbuat sendiri-sendiri.
5) Kelompok Sebagai Kasatuan Swadaya dan Swadana
Kelompok pelaku utama adalah kumpulan pelaku utama yang mempunyai hubungan atau interaksi yang nyata, mempunyai daya tahan dan struktur tertentu, berpartisipasi bersama dalam suatu kegiatan. Hal ini tidak akan dapat terwujud tanpa adanya kesatuan kelompok tersebut.
Pelaku utama diharapkan dapat mandiri dalam arti mampu merumuskan masalah, mengambil keputusan, merencanakan, melaksanakan kegiatan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Tumbuhnya kemandirian tersebut diharapkan dapat dilakukan melalui kelompok.
Rabu, 09 Mei 2018
Pakan Buatan untuk Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) pada Budidaya Intensif (Ringkasan SNI 01- 4087-2006)
BATASAN
Standar ini menetapkan pakan buatan ikan lele dumbo pada budidaya intensif yang meliputi klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji dan pengukuran, syarat penandaan dan cara pengemasan pakan buatan. SNI ini merupakan revisi dari SNI 01-4087-1996.
SYARAT MUTU
Syarat mutu pakan ikan lele dumbo seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel : Syarat mutu pakan ikan lele dumbo
CARA PENGAMBILAN CONTOH
Cara pengambilan contoh sesuai dengan SNI 01-2326-1991, Metoda pengambilan contoh produk perikanan.
CARA UJI DAN PENGUKURAN
1) Cara uji kimia : a) kadar air, sesuai SNI 01-2354.2-2006, Penentuan kadar air pada produk perikanan; b) kadar abu total, sesuai SNI 01-2354.1-2006, Penentuan kadar abu pada produk perikanan; c) kadar lemak total sesuai SNI 01-2354.3-2006, Penentuan, kadar lemak total pada produk perikanan; d) kadar protein, sesuai SNI 012354.4-2006, Penentuan kadar protein dengan metode total nitrogen pada produk perikanan; e) kadar serat kasar, sesuai SNI 01-2891-1992, Cara uji makanan dan minuman; f) non protein nitrogen dengan metode nitrogen bebas; g) kadar antibiotika (tetrasiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin dan doksisiklin) dan turunannya berdasarkan SNI 01-4494-1998, Penentuan tetrasiklin dan derivatnya dalam udang dan ikan secara kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC); h) kadar residu antibiotika kloramfenikol dilakukan dengan metoda kromatografi cair kinerja tinggi atau kromatografi gas.
2) Cara penentuan mikroba : a) kadar Salmonella sesuai SNI 01-2332.2-2006, Penentuan Salmonella pada produk perikanan; b) kandungan aflatoksin dengan metode analisis aflatoksin terhadap bahan (makanan kacang tanah, kelapa, dan kelapa hibrida).
3) Cara pengukuran diameter pakan : menggunakan alat mikrometer (milimeter).
4) Floating rate : prosentase berat pakan yang mengapung dengan berat awal pakan sebelum proses pengeringan.
5) Kestabilan pakan dalam air : diukur dengan menghitung prosentase bobot yang hilang setelah direndam dalam air pada kondisi tertentu.
SYARAT PENANDAAN
Tulisan pada kemasan dalam bahasa Indonesia dengan mencamtumkan: merk dagang, nama produsen, klasifikasi pakan, bobot netto, jenis bahan yang digunakan, jenis bahan yang ditambahkan, kandungan nutrisi, cara penyimpanan, cara penggunaan, bentuk dan sifat fisik, kestabilan dalam air, tanggal kadaluarsa dan kode produksi.
CARA PENGEMASAN
Dikemas dalam wadah yang tertutup rapat, aman dalam penyimpanan dan pengangkutan.
REFERENSI
BSN, 2006. SNI 01- 4087-2006 Pakan Buatan Untuk Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) pada Budidaya Intensif. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search
Selasa, 08 Mei 2018
Langganan:
Postingan (Atom)

