Sabtu, 24 Maret 2018

PEMILIHAN NENER PADA PEMBESARAN IKAN BANDENG

Ikan bandeng merupakan salah satu jenis ikan laut yang dapat dibudidayakan ditambak. Saat ini, ikan bandeng telah dibudidayakan juga di keramba jarring apung pada air tawar, hal ini dikarenakan sifat ikan ini yang eurihaline (tolerensi terhadap salinitas yang tinggi).
       Nener bandeng yang berasal dari alam merupakan hasil pemijahan ikan bandeng secara alami di laut. Ikan bandeng yang telah matang gonad akan memijah secara alami dan akan menghasilkan telur sebanyak 5.700.000 butir dalam tubuhnya. Pelepasan telur ini terjadi pada malam hari dan akan menetas dalam waktu 24 jam menjadi nener yang berukuran 5 mm. Nener ini akan terbawa oleh arus air mendekati pantai dan kemudian akan ditangkap oleh para penyeser. Nener yang ditangkap penyeser berukuran kurang lebih 13 mm.
       Nener ikan bandeng yang diperoleh dari alam ditangkap oleh pencari nener bergantung kepada musim, lokasi, cara dan waktu penangkapan. Pada musim nener jumlah nener cukup melimpah, sehingga dapat mengakibatkan menurunnya harga nener. Selain itu nener yang ditangkap pada awal musim penangkapan mempunyai daya tahan dan vitalitas yang tinggi dalam pengangkutan serta mempunyai harga jual yang lebih mahal.

       Namun demikian, nener dari alam ini tidak tersedia sepanjang tahun sehingga untuk mengusahakan pembesaran ikan bandeng secara intensif dibutuhkan nener bandeng yang berasal dari panti pembenihan (hatchery). Nener dari alam selain hanya bersifat musiman juga mempunyai ukuran yang sangat beragam.
       Oleh karena itu, nener yang berasal dari panti pembenihan sangat dibutuhkan untuk memenuhi kekurangan nener ditambak-tambak pembesaran.
Nener yang dihasilkan dari panti pembenihan mempunyai keunggulan, karena ukurannya relatif rata dan umurnya diketahui secara tepat.
       Nener yang berasal dari alam atau pembenihan, yang akan digunakan untuk usaha pembesaran ikan bandeng ditambak, harus nener yang sehat. Nener yang sehat dapat dilihat dari ciri-ciri umumnya yaitu :
1.  Tubuhnya mulus, tidak terdapat luka, kemerahan
2.  Sirip-siripnya utuh; tidak cacat, patah-patah
3.  Warnanya tidak kusam
4.  Gerakannya aktif
Secara anatomi, bentuk nener (larva ikan bandeng), gelondongan dan bandeng dewasa tidak berbeda; yang berbeda adalah ukurannya saja.  Dengan menggunakan nener yang sehat, akan diperoleh target produksi yang sesuai dengan rencana.  Hal ini disebabkan nener yang sehat memiliki ketahanan tubuh yang baik, sehingga tingkat mortalitas selama masa pengangkutan benih dan masa pembesaran rendah.
       Selain nener yang sehat dalam pemilihan benih ikan bandeng, juga harus diperhatikan ukuran nener tersebut. Ukuran benih yang akan ditebar ke dalam tambak pembesaran sebaiknya seragam agar pertumbuhan ikan selama pemeliharaan juga akan seragam.
       Ukuran ikan  yang ditebar ke tambak pembesaran bisa dimulai dari ukuran nener sampai gelondongan, yang membedakannya adalah waktu pe-meliharaan  ditambak pembesarannya. Jika yang ditebar adalah nener kecil maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ukuran konsumsi yaitu 4 – 6 ekor/kg bisa mencapai lebih dari 6 bulan, sedangkan jika yang ditebar adalah gelondongan, maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ukuran konsumsi berkisar antara 3 – 4 bulan.

       Dalam memilih nener yang berasal dari alam maupun panti benih  dapat dilakukan dengan menghitung jumlah ruas tulang belakang. Nener yang berkualitas baik memiliki jumlah ruas tulang belakang antara 44– 45. Jumlah ruas tulang belakang dapat dihitung menggunakan mikroskop sederhana pada pembesaran 10 kali ataupun kaca pembesar dengan nener ditempatkan pada sumber cahaya seperti lampu senter.

SUMBER:
Alipuddin M., 2003.  Modul Penebaran Nener pada Pembesaran Ikan Bandeng. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

REFERENSI:
Ahmad, T. 1998. Budidaya Bandeng Secara Insentif. Penebar Swadaya. Jakarta
BBAP Jepara. 1985. Pedoman Budidaya Tambak. Ditjen Perikanan, BBAP Jepara.
Hadi, W. Dan J. Supriatna. 186. Tehnik Budidaya Bandeng. Bharata Karya Aksara. Jakarta
Idel, A. dan S. Wibowo. 1996. Budidaya Tambak Bandeng Modern. Gitamedia Press. Surabaya
Soeseno, S, 1987. Budidaya Ikan dan Udang dalam Tambak. PT. Gramedia. Jakarta.

Senin, 19 Maret 2018

Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Majalaya Kelas Induk Pokok (Ringkasan SNI 01-6130-1999)

BATASAN
Standar ini meliputi definisi, istilah, singkatan, klasifikasi, persyaratan kuantitatif dan kualitatif serta cara pengukuran dan pemeriksaan. Ikan mas strain majalaya pertama kali ditemukan dari daerah Majalaya, Jawa Barat. Berwarna hijau keabu-abuan  mulai dari kepala bagian atas sampai pangkal ekor bagian atas, bersisik penuh, badan lebar, perut besar, kepala kecil, mata menonjol, bentuk kuduk melengkung, kecepatan tumbuh relatif tinggi dan secara luas dipelihara di Indonesia. 

PERSYARATAN
Kualitatif 
1)   Asal : hasil pembesaran benih sebar yang berasal dari induk ikan kelas induk dasar.
2)   Warna : mulai dari kepala bagian atas sampai pangkal ekor bagian atas berwarna hijau keabu-abuan, mulai kepala bagian bawah sampai ke pangkal ekor berwarna putih kekuningan. 
3)   Bentuk tubuh : badan pendek, perut besar, mata menonjol, kuduk melengkung, kepala kecil, pola sisik penuh dan teratur.
4)   Kesehatan : anggota/organ tubuh lengkap, sisik teratur, gurat sisi tidak patah, tubuh tidak cacat dan tidak ada kelainan bentuk, tubuh tidak ditempeli oleh parasit dan tidak ada benjolan, insang bersih, tutup insang normal.
5)   Kekenyalan tubuh : kenyal dan tidak lembek. 2 Kuantitatif  Perbandingan antara panjang standar terhadap tinggi badan  2,30 : 1,00; perbandingan panjang standar terhadap panjang kepala 3,57 : 1,00; jumlah sisik pada gurat sisi 26 - 33; rumus jari-jari sirip: sirip punggung D.3.15-17; sirip dada P.1.12-17; sirip perut V.1.6-8; sirip dubur A.3.4-6; sirip ekor C.12 -16.
Tabel : Persyaratan kuantitatif sifat reproduksi 


CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN 
1)   Umur : dihitung sejak telur menetas.
2)   Kematangan gonad : Ikan jantan dilakukan dengan mengurut perut ikan ke arah anus, yang telah matang gonad akan mengeluarkan cairan kental berwarna putih; Ikan betina: dilakukan dengan meraba bagian perut dan pengamatan bagian anus, yang telah matang gonad ditunjukkan dengan bagian perut membesar, lunak kalau diraba dan bagian anus menonjol. Pengambilan telur secara kanulasi dan pengukuran diameter telur menggunakan mikroskop yang dilengkapi mikrometer.
3)   Panjang standar : jarak antara ujung mulut sampai dengan pangkal ekor, dalam centimeter.
4)   Panjang kepala : jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung tutup insang ,dalam centimeter.
5)   Tinggi badan : garis tegak lurus dari dasar perut sampai ke punggung dengan menggunakan mistar atau jangka sorong, dalam centimeter.
6)   Bobot badan : menimbang ikan per individu, dalam gram.
7)   Kesehatan : a) pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 1 % dari populasi untuk pengamatan visual maupun mikroskopik; b) pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan; c) pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.
8)   Kemurnian ikan : dilakukan dengan pengambilan contoh darah yang diambil dari pembuluh darah pada pangkal ekor dengan menggunakan alat suntik untuk pengujian elektrophoresis di laboratorium.

REFERENSI
BSN, 1999. SNI 01-6130-1999  Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Majalaya Kelas Induk Pokok (parent  stock). Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Minggu, 18 Maret 2018

Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Majalaya Kelas Induk Pokok (parent stock) (Ringkasan SNI 01-6131-1999)

BATASAN
Standar ini meliputi  definisi, istilah, persyaratan produksi serta cara pengukuran dan pemeriksaan. Produksi induk ikan mas strain majalaya kelas induk pokok adalah suatu rangkaian kegiatan pra produksi, proses produksi dan pemanenan untuk menghasilkan induk ikan mas strain majalaya kelas induk pokok  (SNI 01-6130-1999). 

PERSYARATAN  PRODUKSI
PRA PRODUKSI
1)   Karamba jaring apung 
a)     Lokasi : waduk, danau. 
b)     Air : tidak tercemar dan memenuhi syarat minimal baku mutu budidaya.
c)     Kedalaman air : minimal 5 m dari dasar jaring pada saat surut terendah. 
d)     Luas areal pemasangan jaring : maksimal 10 % dari luas potensial dan jumlah luas jaring maksimal 10 % dari luas areal pemasangan jaring. 
e)     Wadah : a) kerangka : bahan : kayu tahan air, bambu atau besi yang dicat anti karat; ukuran : (7 x 7) m2; bentuk : empat persegi; b) pelampung: bahan : styrofoam, drum plastik; bentuk : silindris; ukuran : volume 120 liter; jumlah : minimal 8 buah/unit rakit; c) tali jangkar : bahan : polietilena (PE); panjang : 1,5 kali kedalaman perairan maksimal; jumlah : 4 utas/unit jaring apung; diameter : minimal 1,5 cm; d) jangkar : bahan : besi, blok beton, batu; bentuk : jangkar, segi empat; berat : 40 kilogram/buah; jumlah: 4 buah/unit jaring apung; e) jaring : bahan : polietilena, PE 210 D/18; ukuran mata jaring : 1 inci; warna : hijau, hitam; ukuran jaring : (7 x 7 x 3,5) m3; f) waring : bahan : nilon; ukuran mata waring : 1 cm; warna : hijau, hitam; ukuran waring : (3 x 3 x 1,5) m3. g) kualitas air : suhu : 25 - 30ºC; pH : 6,5 - 8,5; oksigen terlarut ≥ 5 mg/l; ammoniak (NH3) < 0,01 mg/l; kecerahan sechi disk  > 3 m.
f)      Penggunaan bahan : 1) obat-obatan : antibiotika (jika diperlukan, kloramfenikol/oksitetrasiklina dengan dosis 5 -10 mg/l), kalium permanganat 1 - 3 mg/l, formalin 25 ppm dengan cara perendaman selama 24 jam dan kapur; 2) pakan : pelet (pakan buatan), kandungan protein 30 - 35%, lemak 6 - 8 % (bobot kering); 3) pupuk organik. g) Benih : ikan mas strain majalaya ukuran sangkal keturunan pertama dari induk dasar. h) Peralatan : lambit, pembersih jaring, pengukur kualitas air, peralatan lapangan (timbangan, hapa/waring, ember, alat panen). 

2) Kolam air tenang
a)   Kawasan perkolaman : bebas banjir dan bebas pengaruh pencemaran.
b)   Tanah dasar : tanah liat berlumpur.
c)   Keasaman (pH) tanah : lebih dari 5.
d)   Sumber air : tidak tercemar dan tersedia sepanjang tahun. 
e)   Wadah : konstruksi : tanah atau tembok; luas minimal 500 m2; kedalaman kolam : 1,0 m - 1,2 m; kolam dapat dikeringkan.
f)    Kualitas air : suhu : 25 - 30ºC; pH : 6,5 - 8,5; oksigen terlarut lebih dari  5 mg/liter; ammoniak (NH3) kurang dari 0,02 mg/liter; kecerahan sechi disk lebih dari 30 cm
g)   Penggunaan bahan : 1) obat-obatan : antibiotika (jika diperlukan, kloramfenikol/ oksitetrasiklina dengan dosis 5 -10 mg/l), kalium permanganat 1 - 3 mg/l, formalin 25 ppm dengan cara perendaman selama 24 jam; kapur tohor 50 g/m2 disebar di dasar kolam; pupuk organik 500 g/m2;  2) pakan : pelet (pakan buatan), kandungan protein 30 - 35 %, lemak 6  - 8 % (bobot kering).
h)   Benih : ikan mas strain majalaya ukuran sangkal keturunan pertama dari induk dasar.
i)    Peralatan : lambit, pembersih jaring, pengukur kualitas air, peralatan lapangan (timbangan, hapa/waring, ember, alat panen). 

3) Kolam air deras 
a)     Kawasan perkolaman : bebas banjir dan bebas pengaruh pencemaran.
b)     Tanah dasar : tanah liat berlumpur.
c)     Keasaman (pH) tanah : lebih dari 5.
d)     Sumber air : tidak tercemar dan tersedia sepanjang tahun.
e)     Wadah : konstruksi : bak permanen; luas : minimal 12 m2/ unit; kedalaman air 1,0 - 1,5 m; pintu air: 2 (dua) buah per petak untuk pemasukan dan pengeluaran; debit air : minimal 30 liter per detik per unit.
f)      Kualitas air : suhu : 25 - 30ºC; pH : 6,5 - 8,5; oksigen terlarut : > 5 mg/l; ammoniak (NH3) < 0,01 mg/l ; kecerahan sechi disk > 0,30 m.
g)     Penggunaan bahan : 1) obat-obatan : antibiotika (jika diperlukan, kloramfenikol/oksitetrasiklina dengan dosis 5 -10 mg/l), kalium permanganat 1 -3 mg/l, formalin 25 ppm dengan cara perendaman selama 24 jam dan kapur;  2) pakan : pelet (pakan buatan), kandungan protein 30 - 35%, lemak 6  - 8 % (bobot kering).
h)    Benih : ikan mas strain majalaya ukuran sangkal keturunan pertama dari induk dasar.
i)      Peralatan : lambit, pembersih jaring, pengukur kualitas air, peralatan lapangan (timbangan, hapa/waring, ember, alat panen). 

PROSES PRODUKSI
Proses produksi di karamba jaring apung, kolam tenang dan kolam air deras dan proses produksi melalui seleksi dengan pentahapan di kolam air tenang, karamba jaring apung dan kolam air deras seperti pada tabel dibawah ini. 
Tabel : Proses produksi di karamba jaring apung, kolam air tenang dan kolam air deras







Tabel : Proses produksi melalui seleksi dengan pentahapan di kolam air tenang, karamba jaring apung, dan kolam air deras


Tabel : Proses produksi melalui seleksi dengan pentahapan di kolam air tenang dan kolam air deras


REFERENSI
BSN, 1999. SNI 01-6131-1999  Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Majalaya Kelas Induk Pokok (parent stock). Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Sabtu, 17 Maret 2018

Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Sinyonya Kelas Induk Pokok (Ringkasan SNI 01-6134-1999)

BATASAN
Standar ini meliputi definisi, istilah dan singkatan, klasifikasi, persyaratan yang berdasarkan kriteria kualitatif dan kriteria kuantitatif serta cara pengukuran dan pemeriksaan. Ikan mas strain sinyonya pertama kali ditemukan dari daerah Tasikmalaya, Jawa Barat. Berwarna kuning muda sampai kuning, bersisik penuh, badan relatif lebar, perut besar, kepala normal, bentuk kuduk rata, mata sipit, kecepatan tumbuh relatif sedang dan secara umum dipelihara di daerah Jawa Barat dan Sumatera Utara. 

PERSYARATAN
Kualitatif 
1)   Asal : hasil pembesaran benih sebar yang berasal dari induk ikan kelas induk dasar.
2)   Warna : mulai dari kepala bagian atas sampai pangkal ekor bagian atas berwarna kuning (TC 022 - 062), mulai kepala bagian bawah sampai pangkal sirip dubur berwarna putih (TC 051). Bentuk tubuh : badan relatif panjang, perut besar, mata sipit, kuduk rata, sisik penuh dan teratur, bentuk sirip normal.
3)   Kesehatan : anggota/organ tubuh lengkap, sisik teratur, gurat sisi tidak patah,tubuh tidak cacat dan tidak ada kelainan bentuk, tubuh tidak ditempeli oleh parasit dan tidak ada benjolan, insang bersih, tutup insang normal.
4)   Kekenyalan tubuh : kenyal dan tidak lembek. 

Kuantitatif 
1)   Perbandingan antara panjang standar terhadap tinggi badan 3,30 : 1,00; perbandingan antara panjang standar terhadap panjang kepala 3,60 : 1,00; jumlah sisik pada gurat sisi 32-36; rumus jari-jari sirip: sirip punggung D.3.15-19; sirip dada P.1.12-14; sirip perut V.1.7; sirip dubur A.3.5; sirip ekor C.12 -16.
2)   Persyaratan kuantitatif sifat reproduksi seperti pada tabel dibawah ini.  
Tabel : Persyaratan kuantitatif sifat reproduksi


CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN
1)   Umur : dihitung sejak telur menetas.
2)   Kematangan gonad : a) Ikan jantan dilakukan dengan mengurut perut ikan ke arah anus, yang telah matang gonad akan mengeluarkan cairan kental berwarna putih; b) Ikan betina dilakukan dengan meraba bagian perut dan pengamatan bagian anus, yang telah matang gonad ditunjukkan dengan bagian perut membesar, lunak kalau diraba dan bagian anus menonjol. Pengambilan telur secara kanulasi dan pengukuran diameter telur menggunakan mikroskop yang dilengkapi mikrometer.
3)   Panjang standar : jarak antara ujung mulut sampai dengan pangkal ekor yang dinyatakan dalam centimeter.
4)   Panjang kepala : jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung tutup insang, dalam centimeter.
5)   Tinggi badan : garis tegak lurus dari dasar perut sampai ke punggung dengan menggunakan mistar atau jangka sorong, dalam centimeter.
6)   Bobot badan : menimbang berat badan ikan per individu menggunakan timbangan, dalam gram.
7)   Kesehatan : a) pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 1 % dari populasi untuk pengamatan visual maupun mikroskopik; b) pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan; c) pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.
8)   Kemurnian ikan : dilakukan dengan pengambilan contoh darah yang diambil dari pembuluh darah pada pangkal ekor dengan menggunakan alat suntik untuk pengujian elektrophoresis di laboratorium.

REFERENSI
BSN, 1999. SNI 01-6134-1999  Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Sinyonya Kelas Induk Pokok (parent stock). Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Jumat, 16 Maret 2018

PERSIAPAN TAMBAK PADA PEMBESARAN IKAN BANDENG

Setelah dapat memilih lokasi tambak yang baik untuk budidaya maka langkah selanjutnya adalah menyiapkan tambak tersebut agar dapat digunakan untuk membudidayakan ikan bandeng. Tambak yang akan digunakan untuk membudidayakan ikan bandeng ini harus dipersiapkan dengan baik dan benar agar diperoleh produksi tinggi.
       Kegiatan yang harus dilakukan dalam persiapan tambak budidaya ikan bandeng meliputi perbaikan komponen tambak, yaitu pematang, pintu air, caren dan saluran, serta pengelolaan tanah dasar tambak.

PEMATANG
       Pematang tambak harus dibuat kokoh, karena fungsi pematang tambak adalah menahan air didalam tambak. Oleh karena itu pematang harus diperbaiki setiap akan digunakan untuk budidaya. Perbaikan ini meliputi penambalan kebocoran dan meninggikan pematang.
Ketinggian  pematang tambak sangat bergantung kepada sistem budidayanya. Pada sistem budidaya bandeng intensif kedalaman air tambak bila mencapai satu meter, maka ketinggian pematang ± 1,5 m. Pada sistem budidaya bandeng tradisional. Kedalaman air tambak hanya mencapai 50 cm, maka ketinggian pematang hanya sekitar 1 m.


SALURAN AIR
       Saluran air pada tambak budidaya bandeng ada dua macam yaitu saluran air masuk dan saluran air keluar.  Tinggi  dasar  saluran air masuk lebih rendah daripada dasar tambak untuk mengurangi pelumpuran dalam tambak.

       Dasar saluran air keluar minimal 15 cm lebih rendah dari dasar tambak terendah agar tambak dapat dikeringkan dengan sempurna.


DASAR TAMBAK
       Dasar tambak budidaya ikan bandeng biasanya adalah tanah.  Oleh sebab itu, dalam persiapan tambak bandeng harus dilakukan pengelolaan tanah dasar agar pakan alami (klekap) yang sangat dibutuhkan oleh ikan  bandeng dapat tumbuh subur.
Pengelolaan tanah dasar tambak itu meliputi :
1.       Pengeringan tanah dasar kolam. Hal ini bertujuan untuk membunuh hama dan penyakit yang ada didasar tambak. Pengeringan dilakukan dengan mengeluarkan semua air dalam tambak kemudian dilakukan penjemuran. Selama proses tersebut dilakukan kegiatan pengolahan tanah dasar, misalnya pencangkulan, lalu dikeringkan selama 3-5 hari sampai tanah dasar tambak tersebut mengering.
2.       Pengapuran dan pemupukan.
Tujuan pengapuran adalah mempertahankan kestabilan derajat keasaman (pH) tanah dasar kolam dan air, serta memberantas hama penyakit. Pemupukan bertujuan untuk meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam.



PINTU AIR
       Dalam satu petak tambak sebaiknya terdapat pintu pemasukan air dan pintu pengeluaran air. Pintu tempat air masuk dan keluar dibuat untuk mengatur pemasukan dan pengeluaran air didalam tambak sehingga sangat memudahkan untuk pergantian air selama pemeliharaan ikan bandeng.

Pintu air tambak

 
Pembuatan pintu air masuk dan keluar dalam petak tambak dapat dibuat dari papan atau pipa paralon yang dilengkapi dengan pipa tegak untuk pergantian air. Selain itu pada pintu pemasukan sebaiknya dilengkapi dengan waring untuk mencegah ikan liar masuk ke dalam petak tambak.

SUMBER:
Alipuddin M., 2003.  Modul Penyiapan Tambak Pembesaran Ikan Bandeng. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

REFERENSI:
Ahmad, T dkk, 1998. Budidaya Bandeng Secara Insentif. Penebar Swadaya. Jakarta
Idel, A. dan S. Wibowo. 1996. Budidaya Tambak Bandeng Modern. Gitamedia Press. Surabaya
Martosudarmo, B. dan B. S. Ranoemihardjo. 1992. Rekayasa Tambak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Soeseno, S, 1987. Budidaya Ikan dan Udang dalam Tambak. PT. Gramedia. Jakarta.