Sabtu, 17 Februari 2018

PENGINOKULASIAN BIBIT DAN PEMUPUKAN SUSULAN PADA BUDIDAYA ROTIFERA (PAKAN ALAMI)

Bibit Rotifera dapat diperoleh dari Panti Benih Brachionus sp. terlihat seperti pada gambar berikut ini:
 Gambar 1. Rotifera, Brachionus sp.

Reproduksi Rotifera secara parthenogenesis dan bergantung pada suhu air. Rotifera bersifat filter feeder sehingga makanannya dapat berupa fitoplankton atau ragi roti. Kepadatan awal fitoplankton dalam media Rotifera minimum terbaik adalah 13–14 x 106 sel/ml. Kepadatan sel Chlorella sp. perlu dipertahankan setiap harinya, sehingga pemberian Chlorella sp. ke dalam bak budidaya Rotifera dilakukan setiap hari. Pada hari pertama budidaya mulai dilakukan, wadah/bak diisi dengan air bersama Chlorellasp., yang berasal dari hasil budidaya Chlorella sp. sebanyak 25% volume bak Rotifera. Lalu Rotifera diinokulasi dengan kepadatan 100 individu/ml media. Keesokan harinya 25% volume Chlorella sp. ditambahkan kembali. Demikian seterusnya sampai hari ke empat. Pada hari ke lima, Rotifera dapat dipanen.
Supaya fitoplankton selalu tersedia, maka pada hari pertama fitoplankton dipanen, yang biasanya dipanen sebanyak 50% volume, bak fitoplankton diisi air tawar kembali; sehingga volume kembali 100%. Air dalam bak Chlorella sp. dipupuk kembali dengan dosis yang sama seperti di awal budidaya dilakukan. Demikian selanjutnya untuk bak Chlorella sp. pada bak
berikutnya pada hari ke dua dan seterusnya. Dengan demikian Chlorella sp. dapat dipanen secara berurutan.
Pada waktu Chlorella sp. dipindahkan dari bak Chlorella sp. ke bak Rotifera dengan menggunakan selang, maka air berisi Chlorella sp. dialirkan melalui kantung plankton net 100 mm untuk mencegah masuknya kotoran dan predator ke bak Rotifera.


Gambar 2. Pemindahan Chlorella ke dalam bak kultur Rotifera

Pada saat populasi Rotifera mencapai puncaknya yaitu pada hari ke 5 setelah inokulasi, Rotifera dapat dipanen dan diberikan ke larva ikan.


SUMBER:
Mokoginta I., 2003.  Modul Budidaya Rotifera - Budidaya Pakan Alami Air Tawar. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.
REFERENSI:
Delbare, D. and Dhert, P. 1996. Cladoecerans, Nematodes and Trocophara Larvae, p. 283 – 295. In Manual on The Production and Use of Live Food (P. Lavens and P. Sorgelos, eds). FAO Fisheries Technical Paper 361.
Sulasingkin, D. 2003. Pengaruh konsentrasi ragi yang berbeda terhadap pertumbuhan populasi Daphnia sp. Skripsi. FPIK. IPB.

Minggu, 11 Februari 2018

SEJARAH KOMUNIKASI DAN TUJUAN KOMUNIKASI DALAM PENYULUHAN PERIKANAN

A.    Sejarah komunikasi

Menurut http://id.wikipedia.org; Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti sama. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama ((make to common). Secara sederhana komuniikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to understand one another). 


Pada awalnya, komunikasi digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan organis. Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi. Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi dan membuka peluang terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian kawin pada ikan. 

Pada binatang, komunikasi juga dilakukan dengan cara yang sederhana melalui tindakan - tindakan yang bersifat reflek. Menurut sejarah evolusi sekitar 250 juta tahun yang lalu munculnya "otak reptil" menjadi penting karena otak memungkinkan reaksi-reaksi fisiologis terhadap kejadian di dunia luar yang kita kenal sebagai emosi. Pada manusia modern, otak reptil ini masih terdapat pada sistem limbik otak manusia, dan hanya dilapisi oleh otak lain "tingkat tinggi".

Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Bentuk umum komunikasi manusia termasuk bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran. Komunikasi dapat berupa interaktif, transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan.

Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

Walaupun komunikasi sudah dipelajari sejak lama dan termasuk “barang antik”, topik ini menjadi penting khususnya pada abad 20 karena pertumbuhan komunikasi digambarkan sebagai “penemuan yang revolusioner”, hal ini dikarenakan peningkatan teknologi komunikasi yang pesat seperti radio. Televisi, telepon, satelit dan jaringan komuter seiring dengan industiralisasi bidang usaha yang besar dan politik yang mendunia. Komunikasi dalam tingkat akademi mungkin telah memiliki departemen sendiri dimana komunikasi dibagi-bagi menjadi komunikasi masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun subyeknya akan tetap. Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan keberagaman komunikasi itu sendiri.

B.    Tujuan Komunikasi
Tujuan komunikasi berupa:
  1. Informative; memberikan informasi (pendekatan pada pikiran: gagasan, informasi, opini dan lain-lain yang muncul dari benaknya).
  2. Persuasive; menggugah perasaan (pendekatan pada emosi: keyakinan, kepastian, keragu-raguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian dan lain-lain).
  3. Entertainment/menghibur; menghibur komunikan, membuat mereka senang, tidak bersikap apatis maupun pesimis.
  4. Mengubah sikap/perilaku (to change the behavior)
  5. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion)
  6. Mengubah masyarakat (to change the society)

Sabtu, 10 Februari 2018

UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI

Secara umum unsur-unsur komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut:


A.    Komunikator/sumber informasi

Sumber komunikasi adalah pihak yang mengirim pesan atau informasi. Dalam penyuluhan sumber ini bisa penyuluh atau agen pembaharu.

B.    Pesan atau esensi komunikasi (content/message)

Pesan merupakan informasi yang ditujukan kepada penerima. Dalam penyuluhan perikanan pesan ini dapat berupa  materi penyuluhan. Pesan yang digunakan dalam penyuluhan pertanian didasarkan pada  kebutuhan sasaran.

C.    Saluran/Media

Saluran adalah jalan yang dilalui pesan yang disampaikan sumber kepada penerima. Saluran meliputi penggunaan metoda dan teknik serta penggunaan media yang relevan dengan tujuan, sasaran serta sifat pesannya. Pada umumnya semakin banyak indera yang distimuli melalui berbagai media semakin efektif proses komunikasi dalam penyuluhan. Penggunaan metoda, teknik dan media  penyuluhan perikanan selain untuk meningkatkan pemahaman sasaran terhadap pesan yang disampaikan, untuk mendorong aktivitas dan kreativitas sasaran serta tumbuhnya rasa percaya diri.

D.    Komunikan/penerima informasi

Penerima adalah pihak yang menerima pesan-pesan atau informasi, yaitu pihak yang diharapkan akan berubah baik perilaku maupun kepribadiannya.  Dalam penyuluhan perikanan penerima  atau sasaran adalah pelaku utama dan pelaku usaha perikanan beserta keluarganya.

E.    Dampak/Efek/Feedback

Efek komunikasi merupakan respon penerima terhadap pesan-pesan yang diterima dan merupakan umpan balik (feedback) bagi komunikator /sumber atas pesan-pesan yang disampaikan.  Efek komunikasi berupa perubahan-perubahan yang diharapkan terjadi pada sasaran akibat dari proses komunikasi. Perubahan-perubahan yang diharapkan menyangkut perubahan perilaku (pengetahuan, keterampilan, dan sikap), serta perubahan kepribadian  sasaran (kemandirian, ketangguhan, kemampuan bekerjasama,percaya diri, kemampuan menempatkan diri pada posisi tawar yang kuat, dan lain sebagainya).  Efek komunikasi ada yang langsung bisa diketahui, misalnya perubahan pengetahuan dan keterampilan, tetapi adapula yang   tidak langsung artinya perlu waktu yang lama seperti perubahan sikap dan kepribadian. Pada komunikasi dua arah (two way trafficts communication) komunikator bisa memperoleh umpan balik secara langsung dibanding  komunikasi yang searah.

Di dalam kegiatan penyuluhan, proses komunikasi terjadi karena penyuluh berusaha untuk menyampaikan pesan/informasi kepada pelaku utama, dari pelaku utama kepada penyuluh, dan juga dari pelaku utama kepada pelaku utama lainnya. Pesan-pesan dapat disampaikan secara verbal (dengan kata-kata) atau non-verbal (tidak dengan kata-kata, seperti  isyarat, gerakan, tindakan, gambar, dsb.) oleh komunikator kepada komunikan/sasaran secara langsung atau melalui sarana untuk mempengaruhi kognisinya, intelektualitasnya, emosinya dan afeksinya, serta psikomotoriknya sehingga sasaran mau merubah perilaku (behavior) dan kepribadiannya (personality).  Perilaku (behavior) yang diharapkan berubah adalah meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor.  Sedangkan kepribadian (personality) meliputi kemandirian, ketangguhan serta kepercayaan diri, ketidaktergantungan, serta posisi tawarnya  (bargaining position).

Jumat, 09 Februari 2018

PEMBERIAN PAKAN DAN PEMANENAN PADA BUDIDAYA ROTIFERA (PAKAN ALAMI)

Rotifera adalah zooplankton yang biasa digunakan untuk pakan alami ikan, terutama untuk larva ikan yang ukurannya sangat kecil, seperti pada larva ikan malas (ikan betutu).
Rotifera merupakan pakan awal larva Ikan. Untuk keperluan budidaya Rotifera, kita perlu membudidayakan Chlorella sp terlebih dahulu. Apabila kepadatan Chlorella sp. telah mencapai kepadatan tertinggi maka inokulasi bibit Rotifera ke dalam wadah Chlorella sp. dapat dilakukan.
Pada budidaya Rotifera dengan menggunakan makanan Chlorellasp. maka kepadatan Chlorella sp. pada media budidaya perlu dipertahankan, pada kepadatan 13–14 x 106 sel per ml media setiap hari.
Caranya adalah sebagai berikut. Pada hari pertama, hanya 25% volume bak budidaya Rotifera diisi air dengan Chlorella sp. Pada hari kedua ditambahkan 25%, hari ketiga 25%, hari ke empat 25%. Pada hari ke lima Rotifera dapat dipanen seluruhnya. Budidaya Rotifera dapat dimulai dari awal kembali. Pengamatan kepadatan Rotifera perlu dilakukan setiap hari, untuk melihat apakah populasi Rotifera bertambah.
Pemanenan Rotifera dapat dilakukan seluruhnya pada hari ke 5. Atau pada hari ke 5 Rotifera dipanen sebagian, 50% volume media, kemudian bak budidaya diisi kembali dengan media Chlorella sp. hingga 100% volume. Rotifera dapat dipanen kembali setelah tiga hari bak diisi Rotifera kedua kali. Cara ini hanya berlaku 2–3 kali panen. Pada panen ketiga seluruhnya dipanen dan budidaya Rotifera dimulai kembali dari awal.
Sama seperti pada panen Chlorella sp., pada waktu panen dilakukan, ujung selang diberi plankton net (50 mm) yang harus terendam di dalam ember. Hal ini dilakukan agar tekanan air dari selang berkurang, sehingga Rotifera tidak rusak. Pemanenan dilakukan dengan cara menyiphon air budidaya, yaitu mengeluarkan air dari bak dengan memanfaatkan perbedaan tinggi air, antara air di dalam bak dan di dalam ember. Selama panen, air di ember harus diaerasi.


Gambar 1. Pemanenan Rotifera
SUMBER:
Mokoginta I., 2003.  Modul Budidaya Rotifera - Budidaya Pakan Alami Air Tawar. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

REFERENSI:
Delbare, D. and Dhert, P. 1996. Cladoecerans, Nematodes and Trocophara Larvae, p. 283 – 295. In Manual on The Production and Use of Live Food (P. Lavens and P. Sorgelos, eds). FAO Fisheries Technical Paper 361.
Sulasingkin, D. 2003. Pengaruh konsentrasi ragi yang berbeda terhadap pertumbuhan populasi Daphnia sp. Skripsi. FPIK. IPB.

Kamis, 08 Februari 2018

PROSES KOMUNIKASI DALAM PENYULUHAN PERIKANAN

A.    Model/Bentuk Komunikasi

Model/bentuk komunikasi terbagi kedalam:

1.    Komunikasi Langsung: komunikator dan komunikan langsung berkomunikasi (tatap muka, menggunakan  media)


  • Komunikasi vertikal : terjadi antara bawahan terhadap atasan atau sebaliknya dalam konteks laporan atau menyampaikan hasil suatu kegiatan
  • Komunikasi horizontal : terjadi sesama  pejabat atau staf dalam konteks diskusi bekerjasama dalam menyelesaian suatu kegiatan
  • Komunikasi top down : terjadi pada saat pimpinan suatu instansi atau unit kerja memberikan pengarahan, bimbingan dan pertemuan dimana atasan memiliki informasi yang layak dan patut diketahui oleh bawahan
  • Komunikasi botom-up : interaksi yang terjadi bawahan dengan atasan dalam beberapa konteks pekerjaan
  • Komunikasi internal : komunikasi antara pejabat maupun staf dalam satu lingkup instansi atau organisasi.
  • Komunikasi eksternal : segala bentuk interaksi yang terjadi antara individu atau instansi dengan instansi lainnya.
2.    Komunikasi tidak langsung: Komunikator dan komunikan tidak bertemu (bahan cetakan: leaflet, folder, brosur, majalah, dll) (bahan tertayang: film)
  • Tidak ada tanya jawab
  • Pesan harus jelas dan tepat dan menarik
  • Media penyuluhan (leaflet, brosur, poster dll) agar mudah dipahami oleh sasaran penyuluhan
3.    Sasaran komunikan/penerima melalui Panca Indra dalam Komunikasi
  • Indra penglihatan, misalnya bahan cetakan, album foto, slide tanpa suara; yang  hanya  dapat digunakan untuk sasaran penyuluhan yang dapat melihat.
  • Indra pendengaran, misalnya Radio, yang hanya  pemutaran tape recorder, obrolan sore; dapat digunakan jika sasaran penyuluhan tidak mengalami gangguan pendengaran.
  • Kombinasi indra penerima, misalnya demontrasi cara/hasil, pemutaran film, tv;  merupakan kombinasi antara indra (AVA = Audio Visual Aids).

B.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas dan Efisiensi dari Komunikasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas dan efisiensi dari komunikasi adalah berupa:

1.    Dilihat dari komunikator atau sumber komunikasi

Dilihat dari komunikator maka komunikasi dipengaruhi oleh:
a.    Kecakapan Komunikator
Ada 3 karakteristik dari Komunikator/Sumber:
1)    Kredibilitas 
Suatu kondisi dimana si sumber di nilai punya pengetahuan, keahlian atau pengalaman sehingga pihak penerima menjadi percaya bahwa pesan yang disampaikan bersifat obyektif 
Kredibilitas dipengaruhi oleh:
-    Keahlian (ekspertise)
-    Kepercayaan (trustworthiness)
    Proses pembentukan pengetahuan, pendapat, sikap, dan tingkah laku yang terjadi dalam diri penerima disebut: INTERNALISASI
Menurut Rogers (1983) Credibility:
-    Competence credibility, dikaitkan dengan status/kedudukan formal/jabatan.
-    Safety credibility, tidak dikaitkan dgn status keahliannya karena pekerjaan formalnya.
-    Orang-orang dengan safety credibility dipandang lebih jujur, terbuka dan dekat dengan masyarakat”.


2)    Daya tarik sumber 
    Daya tarik sumber timbul karena adanya proses identifikasi dalam diri pihak penerima.
Contoh: Senang menggunakan celana jeans  diidentifikasi sebagai orang modern, elit dan kota.
Proses identifikasi bisa bersifat temporer bila pihak penerima masih pantas untuk ditiru.

3)    Kekuatan/kekuasaan sumber (source power), terdiri dari:
-    Kharisma 
-    Wibawa otoritas 
-    Kompetensi/keahlian 
-    Compliance/pemenuhan 
    Sumber dinilai punya kekuatan/kekuasaan, apabila ia mampu memberikan imbalan dan hukuman kepada penerima, berarti seseorang mau menerima ide/anjuran dari sumber karena adanya harapan menerima imbalan atau menghindari hukuman, proses ini disebut COMPLIENCE.
Komunikator yang baik adalah menguasai cara-cara penyampaian buah pikiran baik secara lisan maupun secara tertulis. Dengan kata lain komunikator harus menguasai teknik berbicara dan teknik membuat surat (naskah). Ia harus cakap memilih simbol/lambang yang tepat untuk mengungkapkan buah pikiranya dan harus cakap membangkitkan minat para pendengar atau pembaca. Di samping itu harus pandai pula menarik perhatian dan menyajikannya. Keterangan-keterangannya harus sistematis dan jelas. Sebagai contoh pembicaraan seorang bawahan kepada atasan atau teman yang setingkat, jelas akan berbeda.
Demikian pula pembicara yang berbicara di depan masyarakat tertentu, akan menyesuaikan pada sifat-sifat masyarakat tersebut, tanpa mengadakan penyesuaian  sebelumnya maka komunikasi menjadi tidak lancar atau bahkan macet sama sekali. Sebagai contoh, bila kita berbicara di depan masyarakat Madura, akan lebih berhasil bila kita banyak menggunakan kata-kata Arab seperti insya Allah, Atas  Ridho Allah, Masya Allah, dan sebagainya., karena kebanyakan orang Madura beragama Islam. Oleh karena itu dalam berkomunikasi harus memperhatikan keadaan masyarakat     sekitar harus dengan memahami keadaan masyarakat tersebut, seperti kebisaan,     aliran agama dan kepercayaan dan sebagainya. Dengan memahami hal-hal tersebut komunikasi akan menjadi lancar.

b.    Saluran Komunikasi
Komunikasi dipengaruhi oleh saluran atau alat tubuh dari komunikator, terutama dalam komunikasi lisan. Suara yang besar dan jelas, ucapan yang jelas, tingkah laku yang baik akan menyebabkan pembicaraanya menarik. Juga tangan yang sehat dengan gerak-gerik yang baik dapat mendukung pembicaraan,  oleh karena itu bila ingin berhasil dalam komunikasi alat-alat tubuh kita harus baik terutama alat-alat indera dan alat bicara.

2.    Dilihat dari segi reseptor (penerima)
Keberhasilan komunikasi tidak hanya tergantung pada pihak komunikator (sumber), tetapi juga tergantung dari reseptor. Walaupun pihak komunikator telah memenuhi persyaratan, akan tetapi bila pihak reseptor kurang memenuhi maka  hasil komunikasi  tidak akan sesuai dengan  yang diharapkan. Pengaruh-pengaruh dari pihak reseptor tersebut adalah:

a.    Kecakapan komunikator reseptor
Hasil komunikasi ditentukan oleh kecakapan berkomunikasi reseptor. Kecakapan ini terutama kecakapan mendengarkan dan membaca. Walaupun komunikator cakap berbicara atau menulis, akan tetapi bila reseptor kurang cakap mendengarkan dan membaca, maka hasil komunikasi kurang memenuhi harapan, oleh karena itu agar hasil komunikasi baik maka reseptor harus menguasai teknik mendengarkan dan teknik membaca. Dalam mendengarkan reseptor harus cakap memusatkan perhatian, mengambil inti sari dari suatu pembicaraan, dan harus dapat membedakan mana pokok permasalahan dan mana yang hanya merupakan penjelasan-penjelasannya saja, harus bersifat kritis, dan sebagainya. Dalam membaca ia harus dapat menangkap banyak kata-kata secara sekaligus dan menafsirkannya secara tepat.

b.    Sikap Reseptor
Hasil komunikasi dipengaruhi pula oleh sikap reseptor (penerima). Kadang-kadang reseptor selalu menaruh curiga terhadap pembicara (prejudice), atau kadang-kadang  bersikap apriori artinya telah menentukan kesimpulan sebelum ada data-data yang lengkap. Sebagai contoh seorang reseptor (pendengar suatu penceramah) telah menganggap rendah kepada seseorang penceramah atau terlalu memandang tinggi kepada seorang penceramah atau pembicara. Sikap yang  demikian  menyebabkan hasil komunikasi kurang murni. Adapun sebab-sebabnya  timbul sikap yang demikian itu banyak sekali. Sebagai contoh seorang reseptor (pendengar) adalah lulusan SekolahTinggi (Sarjana) dan  penceramah ternyata hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA), maka sarjana tadi cenderung merendahkan si penceramah yang hanya lulusan Sekolah Menengah Atas tersebut. Sikap sarjana tadi salah, sebab belum tentu  penceramah hanya lulusan SMA, ternyata sudah banyak mengikuti kursus-kursus. Sehingga mengenai bahan yang diceramahkan betul-betul telah ia kuasai. Contoh lain ada seorang pendengar ceramah (reseptor), mengikuti suatu kursus, ternyata salah seorang fasilitator dalam kursus tersebut adalah rivalnya (saingan) dalam memperebutkan seorang gadis dan dalam perebutan tersebut, pengikut kursus telah kalah akibatnya ia sangat benci kepada fasilitator tersebut, sehingga bersikap acuh tak acuh terhadap penceramah tersebut. Sikap yang demikian adalah kurang objektif dan kurang rasional sehingga pikirannya menjadi tertutup alias buntu. Oleh karena itu sebagai reseptor (pendengar/pembaca) seseorang bila ingin berhasil dalam komunikasi harus bersikap wajar, apa adanya.  dan siapapun yang menjadi penceramah/pembicara harus diterima sebagai apa adanya tanpa sikap curiga atau apriori.

c.    Pengetahuan reseptor (pendengar/pembaca) 
Hasil komunikasi di pengaruhi pula oleh kekayaan pengetahuan si reseptor, dengan pengetahuan yang banyak seorang pendengar dapat dengan cepat menangkap isi dari suatu pesan atau suatu bacaan dan mudah menafsirkan maksud dari pembicara/penulis tersebut. Sebaliknya pendengar/pembaca yang pengetahuannya sangat terbatas akan sulit menangkap pembicaraan atau bacaan. Contoh yang jelas adalah ketika kita mendengarkan suatu  ceramah Bahasa Inggris atau mambaca bacaan Bahasa Inggris, karena pengetahuan dalam Bahasa Inggris tersebut terbatas, maka sulit mencernanya. 



d.    Komunikasi dipengaruhi pula oleh sistem sosial
Artinya si pendengar/pembaca harus memahami kedudukan  pembicara. Sebagai contoh bila kita menghadiri suatu ceramah tertentu dan si penceramah kebetulan seorang yang berasal dai luar negeri dan tindak tanduknya seenaknya sendiri, maka kita tidak boleh bersikap negatif atau acuh tak acuh. Sebab tiap penceramah memiliki kebiasaan-kebiasaan tersendiri. Demikian pula bila kita ada di suatu kantor tertentu atau masyarakat tertentu kita sebagai reseptor (pendengar) harus dapat menyesuaikan diri, artinya memahami tata tertib dan tata pergaulan masyarakat tersebut. Dengan cara itu maka kita dapat menjadi pendengar yang baik, dan jika tidak  dapat menyesuaikan terhadap kebiasaan-kebiasaan atau tradisi-tradisi pembicara/penulis, maka komunikasi menjadi terhambat, oleh karena itu  sebagai pendengar atau pembaca harus dapat menyesuikan diri terhadap sistem sosial dari pihak pembaca/penulis.

e.    Saluran Komunikasi
Komunikasi dipengaruhi pula oleh saluran komunikasi, (pendengaran/penglihatan) dari pihak reseptor. Bila pendengaran, penglihatan, atau indera lainnya kurang sempurna maka komunikasi juga tidak akan sempurna, karena dengan kurang sempurnanya alat-alat penyalur tersebut (indera) maka tangkapan dapat kurang jelas. Oleh karena itu agar komunikasi dapat lancar dan berhasil, maka indera kita harus baik.

Rabu, 07 Februari 2018

Karakteristik Media Penyuluhan

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media penyuluhan:
  1. Kebutuhan luasnya jangkauan dan kecepatan (TV, radio).
  2. Kebutuhan pemilihan memori/pesan yang disampaikan tetap diinga (billboard, majalah).
  3. Jangkauan khalayak yang selektif (surat kabar,majalah).
  4. Jangkauan khalayak lokal (radio lokal, bioskop).
  5. Frekwensi penyampaian tinggi (radio).


Karakteristik Kreatif

  1. Kebutuhan gerak (TV, film, iklan).
  2. Kebutuhan warna (TV, film, majalah).
  3. Kebutuhan suasana (radio, TV, fim).
  4. Kebutuhan demonstrasi ( TV, film).
  5. Kebutuhan deskripsi, bila pesan perlu uraian yang komprehensif, sistematis, rinci (surat kabar, majalah, brosur leaflet).

Tingkat efektivitas penyerapan materi oleh panca indra
1.    Pengecap 1%,
2.    Peraba 1,5%, 
3.    Penciuman 3%, 
4.    Pendengaran 11%,
5.    Penglihatan 83%