Sabtu, 13 Januari 2018

Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Sinyonya Kelas Benih Sebar (Ringkasan SNI 01-6137-1999)

BATASAN
Standar ini  meliputi definisi, istilah, persyaratan produksi serta cara pengukuran. Produksi benih ikan mas strain sinyonya kelas benih sebar ukuran larva, kebul, putihan, belo dan sangkal adalah suatu rangkaian kegiatan pra produksi, proses produksi dan pemanenan untuk menghasilkan benih ikan mas strain sinyonya kelas benih sebar (SNI 01-61361999). 


PERSYARATAN PRODUKSI
Pra produksi
1)   Lokasi : kolam dan sawah : kawasan bebas banjir dan bebas dari pengaruh pencemaran, jenis tanah liat berpasir, air tersedia sepanjang tahun dan memenuhi persyaratan minimal baku mutu budidaya, ketinggian lahan : 0 m - 1000 m di atas permukaan laut.
2)   Sumber air : jernih tidak tercemar, tersedia sepanjang tahun, suplai pemasukan dan pembuangan air  melalui  pipa PVC, bis atau saluran tembok kedap air atau tanah.
3)   Wadah : a) produksi larva : berupa hapa, bak dan kolam; b) produksi kebul (pendederan I) berupa kolam tanah ukuran ≥ 500 m2; c) produksi putihan, belo dan sangkal (pendederan II, III dan IV) berupa kolam tanah ukuran ≥ 500 m2, sawah dan karamba jaring apung, dengan mata jaring 0,5 - 1,0 cm.
4)   Induk : sesuai dengan SNI 01-6136-1999.
5)   Bahan : a) pakan : pelet kandungan protein ≥ 30 %, lemak 6 - 8% (bobot kering); b) pupuk : organik (pupuk kandang); c) bahan kimia dan obat-obatan : biru metilena, kalium permanganat, organo fosfat, formalin, kapur tohor (CaO) dan oksitetrasiklina (bila diperlukan).
6)   Peralatan : kakaban, hapa, pengukur kualitas air dan peralatan lapangan (timbangan, waring, ember, lambit, cangkul). 

Proses produksi
1)   Produksi larva (pemijahan dan penetasan telur) : a) kualitas air media : suhu 25 - 30ºC, pH : 6,5 - 8,5, debit air untuk penetasan telur : 0,5 liter/detik, oksigen terlarut : minimal 5 mg/l; ketinggian air : 50 - 70 cm; b) penggunaan bahan kimia : kalium permanganat 2 - 4 mg/l, biru metilena 1 - 3 mg/l; c) penggunaan obat-obatan : oksitetrasiklina 5 - 10 mg/l (bila diperlukan); d) padat tebar : induk untuk pemijahan 2 kg induk betina/4 m2 sedangkan  telur untuk penetasan  10.000 - 20.000 butir/ m2 kakaban; d) waktu : penetasan telur  45 jam pada suhu 25ºC sedangkan pemeliharaan larva 4 hari. 
2)   Produksi kebul, putihan, belo dan sangkal (pendederan I, II, III dan IV) : a) kualitas dan kuantitas air media di kolam : suhu optimum 28ºC, pH : 6,5 - 8,5, debit air : (0,4 - 0,7) liter/detik, untuk luas kolam 500 m2, oksigen terlarut ≥ 5 mg/l, ketinggian air 50 - 70 cm, kecerahan sechi disk 25 cm; b) kualitas dan kuantitas air media di sawah : suhu optimum 28ºC, pH : 6,5 - 8,5, debit air : (0,4 - 0,7) liter/detik, oksigen terlarut ≥ 5 mg/l, tinggi air di pelataran 10 - 20 cm; c) kualitas air media di jaring apung: Suhu  25 - 30ºC, pH : 6,5 - 8,5, ketinggian air 1 - 1,5 m, kedalaman air ≥ l,5 m dari dasar jaring pada saat surut terendah, kecerahan > 3 meter;  d) penggunaan bahan kimia : organo fosfat 1 - 4 ppm hanya untuk produksi kebul (pendederan I); e) penggunaan obatobatan : formalin 25 ppm, oksitetrasiklina 5 - 10 mg/l (bila diperlukan).   

Tabel  : Standar proses produksi benih ikan mas sinyonya pada setiap tingkatan pemeliharaan di kolam


CARA PENGUKURAN DAN PENENTUAN
1)   Suhu : dilakukan dengan menggunakan termometer, di permukaan air dan dasar wadah dengan frekuensi dua kali per hari pada pagi dan sore.
2)   pH air : dilakukan dengan menggunakan pH meter atau pH indikator (kertas lakmus) sesuai dengan spesifikasi teknis alat.
3)   Debit air : dilakukan dengan mengukur volume air masuk ke dalam wadah penampungan dibagi waktu yang dibutuhkan dalam liter per detik.
4)   Ketinggian air : jarak antara dasar wadah pemeliharaan sampai ke permukaan air, menggunakan penggaris dalam centimeter.
5)   Kecerahan air : jarak antara permukaan air ke sechi disk (garis tengah ≥  25 cm)  saat pertama kali piringan tidak terlihat (cm).
6)   Penggunaan bahan : a) jumlah pakan =  bobot rata-rata ikan (≥ 30 ekor ikan sampel) x jumlah populasi ikan yang ditanam x %  tingkat pemberian pakan yang telah ditetapkan dalam gram atau kilogram; b) jumlah pupuk (gr atau kg)  = dosis pupuk /m2 x luas wadah pemeliharaan; c) jumlah kapur (kg atau gr) = dosis kapur/m2 x  luas wadah pemeliharaan;  d) jumlah organo fosfat = takaran bahan sebanyak satu sampai dengan empat bagian organo fosfat dalam 999.999 bagian air media; e) padat tebar benih = Σ benih yang ditebar/m2  x  luas wadah pemeliharaan.
7)   Panjang total : jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung sirip ekor menggunakan jangka sorong atau penggaris dalam centimeter atau millimeter.
8)   Bobot badan : menimbang benih menggunakan timbangan analitis, dalam gram atau miligram.

REFERENSI
BSN, 1999. SNI 01-6137-1999  Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Sinyonya Kelas Benih Sebar. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Jumat, 12 Januari 2018

Produksi Ikan Mas (Cyprinus carpio) Strain Majalaya Kelas Pembesaran di Karamba Jaring Apung (Ringkasan SNI 01-6494.1.2000)

BATASAN
Standar ini menetapkan  persyaratan dan cara pengukuran dan penentuan produksi  benih ikan mas strain majalaya kelas pembesaran  di keramba jaring apung. 

PERSYARATAN PRODUKSI 
Pra produksi
1)   Lokasi : terletak diperairan umum, memenuhi persyaratan minimal kualitas air untuk budidaya, kedalaman air minimal 5 meter dari dasar jaring saat surut terendah, kekuatan arus 20 - 40 cm, luas areal peruntukan pemasangan jaring ≤ 10 % dari luas potensi perairan atau 1 % dari perairan waktu surut terendah dan luas jaring ≤  10 % luas areal peuntukan pemasangan jaring.
2)   Wadah Budidaya : a) kerangka : bahan kayu tahan air, bambu atau besi dicat anti karat,  ukuran 7x 7 m2, bentuk persegi; b) pelampung : bahan styrofoam atau drum, bentuk silindris, volume 200 liter, jumlah pelampung minimal 8 buah/ jaring; c) tali jangkar : bahan polyetiline (PE), panjang 1,5 kali kedalaman perairan, jumlah 5 utas/jaring, diameter 0.75 inci; d) jangkar : bahan besi/blok beton/batu, bentuk segi empat, berat minimal 40 kg /buah, jumlah 5 buah/ jaring; e) jaring : bahan polyetiline (PE 210 D/12), ukuran mata jaring 1 inci, warna hijau, ukuran jaring (7x7x2,5)m3.
3)   Benih : sangkal ikan mas kelas benih sebar keturunan pertama dari induk dasar hasil seleksi sesuai SNI 01-4266-1996.
4)   Pakan buatan : sesuai SNI 01-4266-1996. 
5)   Bahan kimia dan obat obatan : antibiotik, formalin, garam dapur, biru metiline, kalium permanganat.(KMnO4).  Catatan : antibiotik tidak diperbolehkan.
6)   Peralatan : lambit, pembersih jaring, pengukur kualitas air (termometer, sechsi disk, DO meter, pH meter), peralatan lapangan (timbangan, hapa, waring, ember, alat panen, dll).

Proses Produksi
1)   Kualitas air : suhu 25 - 30ºC, pH 6,50 - 8,6 , oksigen terlarut < 5 ppm, amoniak (NH3) > 0.02 ppm, kelimpahan plankton 5.000 - 10.000 individu/ml.
2)   Padat tebar benih : seperti tabel di bawah ini.
3)   Waktu pemeliharaan : seperti tabel di bawah ini.
4)   Penggunaan  pakan  : seperti tabel di bawah ini.
5)   Penggunaan bahan kimia dan obat-obatan : seperti tabel di bawah ini; dengan cara merendam atau dicampurkan dalam pakan. Antibiotik digunakan minimal 3 (tiga) minggu sebelum dipanen.
Tabel : Padat penebaran, ukuran benih dan jumlah pakan produksi ikan mas strain majalaya kelas pembesaran

Pemanenan 
Sintasan produksi dan ukuran ikan : seperti pada tabel di atas. 

CARA PENGUKURAN DAN PENENTUAN 
1)   Suhu : dengan termometer, dipermukaan dan dasar  pada pagi dan sore.
2)   pH air : pH meter atau pH indikator (kertas lakmus).
3)   Oksigen terlarut : dengan DO meter, pada permukaan air dan dasar wadah 2 kali/hari, pagi dan sore.
4)   4) NH3 :   dengan water test kit (ppm).
5)   Ketinggian air : dengan penggaris yaitu mengukur jarak antara dasar wadah sampai ke permukaan air, penggaris (cm). 
6)   Kecerahan air : dengan sechi disk (garis tengah ≥ 25 cm) diberi tali/tangkai yang dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan, mengukur jarak antara permukaan air ke piringan saat pertama piringan tidak terlihat (cm).
7)   Kuat arus : dengan menggunakan  current meter.
8)   Kelimpahan plankton : dengan  mikrotransek, ambil  contoh air media, disaring dengan plaknton net. Kelimpahan dihitung dengan cara mengambil air sampel, diamati dengan mikroskop, hitung  jumlah individu plankton yang bergerak (invidu/milliliter).
9)   Kebutuhan pakan = berat rata-rata ikan dikalikan  Σ populasi ikan yang ditanam dikalikan  % pakan yang telah diberikan (g atau kg).
10) Jumlah padat tebar benih = (Σ benih ditebar/m2)  X  luas wadah pemeliharaan.
11) Waktu pemeliharaan =  Σ waktu mulai benih ditebar sampai dengan saat panen (hari). 
12) Panjang total = mengukur jarak antara ujung mulut - ujung sirip ekor  dengan jangka sorong atau penggaris (cm).
13) Pengukuran bobot :  menimbang dengan timbangan (g atau kg).
14) Sintasan produksi = Σ  populasi ikan hidup (saat panen)  dibagi  Σ  yang tebar (%).

REFERENSI
BSN, 2000. SNI 01-6494.1.2000  Produksi Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Majalaya Kelas Pembesaran di Karamba Jaring Apung. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Produksi Ikan Mas (Cyprinus carpio) Strain Majalaya Kelas Pembesaran di Karamba Jaring Apung (Ringkasan SNI 01-6494.1.2000)

BATASAN
Standar ini menetapkan  persyaratan dan cara pengukuran dan penentuan produksi  benih ikan mas strain majalaya kelas pembesaran  di keramba jaring apung. 

PERSYARATAN PRODUKSI 
Pra produksi
1)   Lokasi : terletak diperairan umum, memenuhi persyaratan minimal kualitas air untuk budidaya, kedalaman air minimal 5 meter dari dasar jaring saat surut terendah, kekuatan arus 20 - 40 cm, luas areal peruntukan pemasangan jaring ≤ 10 % dari luas potensi perairan atau 1 % dari perairan waktu surut terendah dan luas jaring ≤  10 % luas areal peuntukan pemasangan jaring.
2)   Wadah Budidaya : a) kerangka : bahan kayu tahan air, bambu atau besi dicat anti karat,  ukuran 7x 7 m2, bentuk persegi; b) pelampung : bahan styrofoam atau drum, bentuk silindris, volume 200 liter, jumlah pelampung minimal 8 buah/ jaring; c) tali jangkar : bahan polyetiline (PE), panjang 1,5 kali kedalaman perairan, jumlah 5 utas/jaring, diameter 0.75 inci; d) jangkar : bahan besi/blok beton/batu, bentuk segi empat, berat minimal 40 kg /buah, jumlah 5 buah/ jaring; e) jaring : bahan polyetiline (PE 210 D/12), ukuran mata jaring 1 inci, warna hijau, ukuran jaring (7x7x2,5)m3.
3)   Benih : sangkal ikan mas kelas benih sebar keturunan pertama dari induk dasar hasil seleksi sesuai SNI 01-4266-1996.
4)   Pakan buatan : sesuai SNI 01-4266-1996. 
5)   Bahan kimia dan obat obatan : antibiotik, formalin, garam dapur, biru metiline, kalium permanganat.(KMnO4).  Catatan : antibiotik tidak diperbolehkan.
6)   Peralatan : lambit, pembersih jaring, pengukur kualitas air (termometer, sechsi disk, DO meter, pH meter), peralatan lapangan (timbangan, hapa, waring, ember, alat panen, dll).

Proses Produksi
1)   Kualitas air : suhu 25 - 30ºC, pH 6,50 - 8,6 , oksigen terlarut < 5 ppm, amoniak (NH3) > 0.02 ppm, kelimpahan plankton 5.000 - 10.000 individu/ml.
2)   Padat tebar benih : seperti tabel di bawah ini.
3)   Waktu pemeliharaan : seperti tabel di bawah ini.
4)   Penggunaan  pakan  : seperti tabel di bawah ini.
5)   Penggunaan bahan kimia dan obat-obatan : seperti tabel di bawah ini; dengan cara merendam atau dicampurkan dalam pakan. Antibiotik digunakan minimal 3 (tiga) minggu sebelum dipanen.
Tabel : Padat penebaran, ukuran benih dan jumlah pakan produksi ikan mas strain majalaya kelas pembesaran

Pemanenan 
Sintasan produksi dan ukuran ikan : seperti pada tabel di atas. 

CARA PENGUKURAN DAN PENENTUAN 
1)   Suhu : dengan termometer, dipermukaan dan dasar  pada pagi dan sore.
2)   pH air : pH meter atau pH indikator (kertas lakmus).
3)   Oksigen terlarut : dengan DO meter, pada permukaan air dan dasar wadah 2 kali/hari, pagi dan sore.
4)   4) NH3 :   dengan water test kit (ppm).
5)   Ketinggian air : dengan penggaris yaitu mengukur jarak antara dasar wadah sampai ke permukaan air, penggaris (cm). 
6)   Kecerahan air : dengan sechi disk (garis tengah ≥ 25 cm) diberi tali/tangkai yang dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan, mengukur jarak antara permukaan air ke piringan saat pertama piringan tidak terlihat (cm).
7)   Kuat arus : dengan menggunakan  current meter.
8)   Kelimpahan plankton : dengan  mikrotransek, ambil  contoh air media, disaring dengan plaknton net. Kelimpahan dihitung dengan cara mengambil air sampel, diamati dengan mikroskop, hitung  jumlah individu plankton yang bergerak (invidu/milliliter).
9)   Kebutuhan pakan = berat rata-rata ikan dikalikan  Σ populasi ikan yang ditanam dikalikan  % pakan yang telah diberikan (g atau kg).
10) Jumlah padat tebar benih = (Σ benih ditebar/m2)  X  luas wadah pemeliharaan.
11) Waktu pemeliharaan =  Σ waktu mulai benih ditebar sampai dengan saat panen (hari). 
12) Panjang total = mengukur jarak antara ujung mulut - ujung sirip ekor  dengan jangka sorong atau penggaris (cm).
13) Pengukuran bobot :  menimbang dengan timbangan (g atau kg).
14) Sintasan produksi = Σ  populasi ikan hidup (saat panen)  dibagi  Σ  yang tebar (%).

REFERENSI
BSN, 2000. SNI 01-6494.1.2000  Produksi Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Majalaya Kelas Pembesaran di Karamba Jaring Apung. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Kamis, 11 Januari 2018

Pakan Buatan untuk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) pada Budidaya Intensif (Ringkasan SNI 01-4266-2006)

BATASAN
Standar ini menetapkan pakan buatan untuk ikan mas pada budidaya intensif yang meliputi syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji dan pengukuran, syarat penandaan dan cara pengemasan pakan buatan. SNI ini merupakan revisi dari SNI 014266-1996.

SYARAT MUTU 
Syarat mutu pakan ikan mas pada budidaya intensif seperti pada tabel dibawah ini.





Tabel : Syarat mutu pakan ikan mas pada budidaya intensif

CARA PENGAMBILAN CONTOH 
Sesuai dengan SNI 01-2326-1991, Metoda pengambilan contoh produk perikanan.

CARA UJI DAN PENGUKURAN 
Cara uji kimia
1)   Kadar air : sesuai SNI 01-2354.2-2006, Penentuan kadar air pada produk perikanan. 
2)   Kadar abu total : sesuai SNI 01-2354.1-2006, Penentuan kadar abu pada produk perikanan.
3)   Kadar lemak total sesuai SNI 01-2354.3-2006, Penentuan, kadar lemak total pada produk perikanan.
4)   Kadar protein sesuai SNI 01-2354.4-2006, Penentuan kadar protein dengan metode total nitrogen pada produk perikanan. 
5)   Kadar serat kasar sesuai SNI 01-2891-1992, Cara uji makanan dan minuman.
6)   Non protein nitrogen dengan metode nitrogen bebas. 

Cara penentuan mikroba
1)   Kadar Salmonella : sesuai SNI 01-2332.2-2006, Penentuan Salmonella pada produk perikanan.
2)   Kandungan aflatoksin : dengan metode analisis aflatoksin terhadap  bahan (makanan kacang tanah, kelapa, dan kelapa hibrida).

Cara pengukuran diameter pakan (menggunakan alat mikrometer, dalam milimeter) 
1)   Floating rate : persentase berat pakan yang mengapung dengan berat awal pakan sebelum proses pengeringan.
2)   Kestabilan pakan dalam air : diukur dengan menghitung persentase bobot yang hilang setelah direndam dalam air pada kondisi tertentu.

SYARAT PENANDAAN 
Tulisan pada kemasan dalam bahasa Indonesia dengan mencamtumkan merk dagang, nama produsen, klasifikasi pakan, bobot netto, jenis bahan yang digunakan, jenis bahan yang ditambahkan, kandungan nutrisi, cara penyimpanan, cara penggunaan, bentuk dan sifat fisik, kestabilan dalam air, tanggal kadaluarsa dan kode produksi.

CARA PENGEMASAN 
Dikemas dalam wadah yang tertutup rapat, aman dalam penyimpanan dan pengangkutan


REFERENSI
BSN, 2006. SNI 01-4266-2006  Pakan Buatan untuk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) pada Budidaya Intensif. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Rabu, 10 Januari 2018

Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus) Kelas Induk Pokok (parent stock) (Ringkasan SNI 01-4266-2006)

BATASAN
Standar induk ikan nila hitam kelas induk pokok menetapkan definisi, istilah dan singkatan, klasifikasi dan persyaratan kualitatif dan kuantitatif serta cara pengukuran dan pemeriksaan.  

PERSYARATAN 
Kualitatif 
1)   Asal : hasil pembesaran benih sebar yang berasal dari induk ikan kelas induk dasar.
2)   Warna :  hitam keabu-abuan, bagian perut berwarna putih sampai ungu. 
3)   Bentuk : tubuh pipih (compress) dengan sisik penuh dan teratur. 
4)   Kesehatan : anggota/organ tubuh lengkap, sisik teratur, terdapat gurat sisi dua baris yang dipisahkan oleh tiga sisik pada bagian dorsal, tubuh tidak cacat dan tidak ada kelainan bentuk, tubuh tidak ditempeli oleh parasit, tidak ada benjolan, insang bersih, tutup insang normal (tidak tebal atau tipis) dan berlendir. 
5)   Kekenyalan tubuh :  kenyal dan tidak lembek. 

Kuantitatif 
Perbandingan antara tinggi terhadap panjang standar adalah  1,0 : 2,3 - 2,5; jumlah sisik pada gurat sisi (ll) adalah 28 - 35 buah, 8 -10 garis tegak pada kedua sisi tubuh dan 6-8 buah garis tegak pada sirip ekor; rumus jari-jari sirip : sirip punggung D. XVII. 13, sirip dada P. 11-15; sirip perut V. I. 5, sirip dubur A. III. 10-11, sirip ekor C. II. 18; sisik besar dan kasar berbentuk ctenoid, pola sirip normal, garis-garis tegak pada sirip ekor 8 buah. Persyaratan kuantitatif sifat reproduksi seperti pada tabel dibawah ini. 
Tabel : Persyaratan kuantitatif sifat reproduksi




CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN 
1)   Umur : dihitung sejak telur menetas berdasarkan catatan.
2)   Kematangan gonad : a) ikan jantan dilakukan dengan mengurut perut ikan ke arah anus. Ikan jantan yang telah matang kelamin akan mengeluarkan cairan kental berwarna bening dan di sekitar perut sampai kepala bagian bawah berwarna merah; b) ikan betina dilakukan dengan meraba bagian perut dan pengamatan bagian anus. Ikan betina yang telah matang gonad ditunjukkan dengan telur berwarna kuning kehijauan, bagian perut melebar, lunak kalau diraba, bagian anus menonjol dan kemerahan. Pengukuran diameter telur dilakukan dengan kanulasi.
3)   Panjang total : tinggi badan dan panjang kepala : a) panjang total dilakukan dengan mengukur jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung sirip ekor dinyatakan dalam satuan centimeter; b) tinggi tubuh dilakukan dengan mengukur garis tegak lurus dari dasar perut sampai ke punggung dengan menggunakan mistar kaliper dinyatakan dalam satuan centimeter; c) panjang kepala dilakukan dengan mengukur jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung tutup insang dinyatakan dalam satuan centimeter. 
4)   Bobot tubuh : dengan menimbang dalam gram.
5)   Pemeriksaan kesehatan : a) pengambilan contoh untuk pemeriksaan kesehatan ikan dilakukan secara acak sebanyak 1 % dari populasi atau maksimal 10 ekor, baik untuk pengamatan visual maupun mikroskopik; b) pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan adanya gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan; c) pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.
6)   Pemeriksaan kemurnian ikan : dilakukan dengan pengambilan contoh darah ikan untuk pengujian, elektrophoresis di laboratorium, yang diambil dari pembuluh darah pangkal ekor dengan menggunakan alat suntik.

REFERENSI
BSN, 2006. SNI 01-4266-2006  Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker)  Kelas Induk Pokok (parent stock). Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search