Jumat, 12 Januari 2018

Produksi Ikan Mas (Cyprinus carpio) Strain Majalaya Kelas Pembesaran di Karamba Jaring Apung (Ringkasan SNI 01-6494.1.2000)

BATASAN
Standar ini menetapkan  persyaratan dan cara pengukuran dan penentuan produksi  benih ikan mas strain majalaya kelas pembesaran  di keramba jaring apung. 

PERSYARATAN PRODUKSI 
Pra produksi
1)   Lokasi : terletak diperairan umum, memenuhi persyaratan minimal kualitas air untuk budidaya, kedalaman air minimal 5 meter dari dasar jaring saat surut terendah, kekuatan arus 20 - 40 cm, luas areal peruntukan pemasangan jaring ≤ 10 % dari luas potensi perairan atau 1 % dari perairan waktu surut terendah dan luas jaring ≤  10 % luas areal peuntukan pemasangan jaring.
2)   Wadah Budidaya : a) kerangka : bahan kayu tahan air, bambu atau besi dicat anti karat,  ukuran 7x 7 m2, bentuk persegi; b) pelampung : bahan styrofoam atau drum, bentuk silindris, volume 200 liter, jumlah pelampung minimal 8 buah/ jaring; c) tali jangkar : bahan polyetiline (PE), panjang 1,5 kali kedalaman perairan, jumlah 5 utas/jaring, diameter 0.75 inci; d) jangkar : bahan besi/blok beton/batu, bentuk segi empat, berat minimal 40 kg /buah, jumlah 5 buah/ jaring; e) jaring : bahan polyetiline (PE 210 D/12), ukuran mata jaring 1 inci, warna hijau, ukuran jaring (7x7x2,5)m3.
3)   Benih : sangkal ikan mas kelas benih sebar keturunan pertama dari induk dasar hasil seleksi sesuai SNI 01-4266-1996.
4)   Pakan buatan : sesuai SNI 01-4266-1996. 
5)   Bahan kimia dan obat obatan : antibiotik, formalin, garam dapur, biru metiline, kalium permanganat.(KMnO4).  Catatan : antibiotik tidak diperbolehkan.
6)   Peralatan : lambit, pembersih jaring, pengukur kualitas air (termometer, sechsi disk, DO meter, pH meter), peralatan lapangan (timbangan, hapa, waring, ember, alat panen, dll).

Proses Produksi
1)   Kualitas air : suhu 25 - 30ºC, pH 6,50 - 8,6 , oksigen terlarut < 5 ppm, amoniak (NH3) > 0.02 ppm, kelimpahan plankton 5.000 - 10.000 individu/ml.
2)   Padat tebar benih : seperti tabel di bawah ini.
3)   Waktu pemeliharaan : seperti tabel di bawah ini.
4)   Penggunaan  pakan  : seperti tabel di bawah ini.
5)   Penggunaan bahan kimia dan obat-obatan : seperti tabel di bawah ini; dengan cara merendam atau dicampurkan dalam pakan. Antibiotik digunakan minimal 3 (tiga) minggu sebelum dipanen.
Tabel : Padat penebaran, ukuran benih dan jumlah pakan produksi ikan mas strain majalaya kelas pembesaran

Pemanenan 
Sintasan produksi dan ukuran ikan : seperti pada tabel di atas. 

CARA PENGUKURAN DAN PENENTUAN 
1)   Suhu : dengan termometer, dipermukaan dan dasar  pada pagi dan sore.
2)   pH air : pH meter atau pH indikator (kertas lakmus).
3)   Oksigen terlarut : dengan DO meter, pada permukaan air dan dasar wadah 2 kali/hari, pagi dan sore.
4)   4) NH3 :   dengan water test kit (ppm).
5)   Ketinggian air : dengan penggaris yaitu mengukur jarak antara dasar wadah sampai ke permukaan air, penggaris (cm). 
6)   Kecerahan air : dengan sechi disk (garis tengah ≥ 25 cm) diberi tali/tangkai yang dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan, mengukur jarak antara permukaan air ke piringan saat pertama piringan tidak terlihat (cm).
7)   Kuat arus : dengan menggunakan  current meter.
8)   Kelimpahan plankton : dengan  mikrotransek, ambil  contoh air media, disaring dengan plaknton net. Kelimpahan dihitung dengan cara mengambil air sampel, diamati dengan mikroskop, hitung  jumlah individu plankton yang bergerak (invidu/milliliter).
9)   Kebutuhan pakan = berat rata-rata ikan dikalikan  Σ populasi ikan yang ditanam dikalikan  % pakan yang telah diberikan (g atau kg).
10) Jumlah padat tebar benih = (Σ benih ditebar/m2)  X  luas wadah pemeliharaan.
11) Waktu pemeliharaan =  Σ waktu mulai benih ditebar sampai dengan saat panen (hari). 
12) Panjang total = mengukur jarak antara ujung mulut - ujung sirip ekor  dengan jangka sorong atau penggaris (cm).
13) Pengukuran bobot :  menimbang dengan timbangan (g atau kg).
14) Sintasan produksi = Σ  populasi ikan hidup (saat panen)  dibagi  Σ  yang tebar (%).

REFERENSI
BSN, 2000. SNI 01-6494.1.2000  Produksi Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) Strain Majalaya Kelas Pembesaran di Karamba Jaring Apung. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Kamis, 11 Januari 2018

Pakan Buatan untuk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) pada Budidaya Intensif (Ringkasan SNI 01-4266-2006)

BATASAN
Standar ini menetapkan pakan buatan untuk ikan mas pada budidaya intensif yang meliputi syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji dan pengukuran, syarat penandaan dan cara pengemasan pakan buatan. SNI ini merupakan revisi dari SNI 014266-1996.

SYARAT MUTU 
Syarat mutu pakan ikan mas pada budidaya intensif seperti pada tabel dibawah ini.





Tabel : Syarat mutu pakan ikan mas pada budidaya intensif

CARA PENGAMBILAN CONTOH 
Sesuai dengan SNI 01-2326-1991, Metoda pengambilan contoh produk perikanan.

CARA UJI DAN PENGUKURAN 
Cara uji kimia
1)   Kadar air : sesuai SNI 01-2354.2-2006, Penentuan kadar air pada produk perikanan. 
2)   Kadar abu total : sesuai SNI 01-2354.1-2006, Penentuan kadar abu pada produk perikanan.
3)   Kadar lemak total sesuai SNI 01-2354.3-2006, Penentuan, kadar lemak total pada produk perikanan.
4)   Kadar protein sesuai SNI 01-2354.4-2006, Penentuan kadar protein dengan metode total nitrogen pada produk perikanan. 
5)   Kadar serat kasar sesuai SNI 01-2891-1992, Cara uji makanan dan minuman.
6)   Non protein nitrogen dengan metode nitrogen bebas. 

Cara penentuan mikroba
1)   Kadar Salmonella : sesuai SNI 01-2332.2-2006, Penentuan Salmonella pada produk perikanan.
2)   Kandungan aflatoksin : dengan metode analisis aflatoksin terhadap  bahan (makanan kacang tanah, kelapa, dan kelapa hibrida).

Cara pengukuran diameter pakan (menggunakan alat mikrometer, dalam milimeter) 
1)   Floating rate : persentase berat pakan yang mengapung dengan berat awal pakan sebelum proses pengeringan.
2)   Kestabilan pakan dalam air : diukur dengan menghitung persentase bobot yang hilang setelah direndam dalam air pada kondisi tertentu.

SYARAT PENANDAAN 
Tulisan pada kemasan dalam bahasa Indonesia dengan mencamtumkan merk dagang, nama produsen, klasifikasi pakan, bobot netto, jenis bahan yang digunakan, jenis bahan yang ditambahkan, kandungan nutrisi, cara penyimpanan, cara penggunaan, bentuk dan sifat fisik, kestabilan dalam air, tanggal kadaluarsa dan kode produksi.

CARA PENGEMASAN 
Dikemas dalam wadah yang tertutup rapat, aman dalam penyimpanan dan pengangkutan


REFERENSI
BSN, 2006. SNI 01-4266-2006  Pakan Buatan untuk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) pada Budidaya Intensif. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Rabu, 10 Januari 2018

Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus) Kelas Induk Pokok (parent stock) (Ringkasan SNI 01-4266-2006)

BATASAN
Standar induk ikan nila hitam kelas induk pokok menetapkan definisi, istilah dan singkatan, klasifikasi dan persyaratan kualitatif dan kuantitatif serta cara pengukuran dan pemeriksaan.  

PERSYARATAN 
Kualitatif 
1)   Asal : hasil pembesaran benih sebar yang berasal dari induk ikan kelas induk dasar.
2)   Warna :  hitam keabu-abuan, bagian perut berwarna putih sampai ungu. 
3)   Bentuk : tubuh pipih (compress) dengan sisik penuh dan teratur. 
4)   Kesehatan : anggota/organ tubuh lengkap, sisik teratur, terdapat gurat sisi dua baris yang dipisahkan oleh tiga sisik pada bagian dorsal, tubuh tidak cacat dan tidak ada kelainan bentuk, tubuh tidak ditempeli oleh parasit, tidak ada benjolan, insang bersih, tutup insang normal (tidak tebal atau tipis) dan berlendir. 
5)   Kekenyalan tubuh :  kenyal dan tidak lembek. 

Kuantitatif 
Perbandingan antara tinggi terhadap panjang standar adalah  1,0 : 2,3 - 2,5; jumlah sisik pada gurat sisi (ll) adalah 28 - 35 buah, 8 -10 garis tegak pada kedua sisi tubuh dan 6-8 buah garis tegak pada sirip ekor; rumus jari-jari sirip : sirip punggung D. XVII. 13, sirip dada P. 11-15; sirip perut V. I. 5, sirip dubur A. III. 10-11, sirip ekor C. II. 18; sisik besar dan kasar berbentuk ctenoid, pola sirip normal, garis-garis tegak pada sirip ekor 8 buah. Persyaratan kuantitatif sifat reproduksi seperti pada tabel dibawah ini. 
Tabel : Persyaratan kuantitatif sifat reproduksi




CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN 
1)   Umur : dihitung sejak telur menetas berdasarkan catatan.
2)   Kematangan gonad : a) ikan jantan dilakukan dengan mengurut perut ikan ke arah anus. Ikan jantan yang telah matang kelamin akan mengeluarkan cairan kental berwarna bening dan di sekitar perut sampai kepala bagian bawah berwarna merah; b) ikan betina dilakukan dengan meraba bagian perut dan pengamatan bagian anus. Ikan betina yang telah matang gonad ditunjukkan dengan telur berwarna kuning kehijauan, bagian perut melebar, lunak kalau diraba, bagian anus menonjol dan kemerahan. Pengukuran diameter telur dilakukan dengan kanulasi.
3)   Panjang total : tinggi badan dan panjang kepala : a) panjang total dilakukan dengan mengukur jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung sirip ekor dinyatakan dalam satuan centimeter; b) tinggi tubuh dilakukan dengan mengukur garis tegak lurus dari dasar perut sampai ke punggung dengan menggunakan mistar kaliper dinyatakan dalam satuan centimeter; c) panjang kepala dilakukan dengan mengukur jarak antara ujung mulut sampai dengan ujung tutup insang dinyatakan dalam satuan centimeter. 
4)   Bobot tubuh : dengan menimbang dalam gram.
5)   Pemeriksaan kesehatan : a) pengambilan contoh untuk pemeriksaan kesehatan ikan dilakukan secara acak sebanyak 1 % dari populasi atau maksimal 10 ekor, baik untuk pengamatan visual maupun mikroskopik; b) pengamatan visual dilakukan untuk pemeriksaan adanya gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan; c) pengamatan mikroskopik dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.
6)   Pemeriksaan kemurnian ikan : dilakukan dengan pengambilan contoh darah ikan untuk pengujian, elektrophoresis di laboratorium, yang diambil dari pembuluh darah pangkal ekor dengan menggunakan alat suntik.

REFERENSI
BSN, 2006. SNI 01-4266-2006  Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker)  Kelas Induk Pokok (parent stock). Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search

Selasa, 09 Januari 2018

Produksi Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) Kelas Induk Pokok (Ringkasan SNI 01-6139-1999)

BATASAN
Standar ini  meliputi definisi, istilah dan persyaratan produksi serta cara pengukuran dan pemeriksaan. Produksi induk ikan nila hitam kelas induk adalah suatu rangkaian kegiatan pra produksi, proses produksi dan pemanenan untuk menghasilkan induk ikan nila hitam kelas induk pokok sesuai SNI 01-6138-1999. 

PERSYARATAN PRODUKSI  
Pra produksi  
1)   Lokasi : a) jaring apung : air tidak tercemar, dan memenuhi persyaratan minimal baku mutu kualitas dan baku mutu budidaya; b) kedalaman air : minimal 5 m dari dasar jaring pada saat surut terendah; c) luas areal pemasangan jaring : maksimal 10 % dari luas potensial dan jumlah luas jaring maksimal 10 % dari luas areal pemasangan jaring.  
2)   Lokasi kolam : kawasan perkolaman bebas banjir; tanah dasar tanah liat berlumpur; keasaman (pH) tanah lebih dari 5; sumber air tidak tercemar dan memenuhi baku mutu budidaya. 
3)   Wadah pemeliharaan di jaring apung : a) kerangka : bahan : kayu tahan air, bambu atau besi yang dicat anti karat; ukuran : (7 x 7 ) m2; bentuk : empat persegi; b) pelampung : bahan : styrofoam, drum; bentuk : silindris; ukuran : volume 200 liter; jumlah : minimal 8 buah/unit rakit; c) tali jangkar : bahan : polietilene; panjang : 1,5 kali kedalaman perairan; jumlah : 4 utas/unit jaring apung; diameter : minimal 1,5 cm; d) jangkar : bahan : besi, blok beton, batu; bentuk : jangkar, segi empat; berat : 40 kg/buah; jumlah : 4 buah/unit jaring apung; e) jaring : bahan : polietilene; warna : hijau, hitam; f) waring : bahan : nilon; warna : hijau, hitam. 
4)   Wadah pemeliharaan di kolam air tenang : konstruksi tanah atau tembok; luas minimal 500 m2; kedalaman air : 1,2 - 1,5 m; kolam dapat dikeringkan.
5)   Benih : ikan nila hitam ukuran sangkal kelas benih sebar keturunan pertama dari induk dasar. 
6)   Bahan : a) pakan : pelet, pakan buatan kandungan protein 30 - 35 %, lemak 6 - 8 % (bobot kering); b) pupuk : organik : pupuk kandang (puyuh, ayam petelur); anorganik : urea, TSP; kapur : kapur tohor (CaO) atau pertanian (CaCO3); c) bahan kimia dan obat-obatan : formalin, garam dapur, methyline blue, kalium permanganat, kloramfenikol, oxytetracycline (jika diperlukan).
7)   Peralatan : jaring apung, lambit, pembersih jaring, pengukur kualitas air (termometer, secchi disk, pH meter), peralatan lapangan (timbangan, hapa/waring, ember, alat panen, dll). 
8)   Kolam air tenang : pengukur kualitas air (termometer, secchi disk, pH meter), peralatan lapangan (hapa/waring, ember, cangkul, dll).  

Proses produksi  
1)   Karamba jaring apung :  a) kualitas air : suhu : 25 - 30ºC, pH : 6,5 - 8,5; oksigen terlarut : lebih dari 5 mg/l;  phosphate : 10 - 1100 mg/l; ammonia (NH3) : kurang dari 0,02 mg/l; kecerahan secchi disk : lebih dari 3 m;  b) padat tebar benih : seperti pada tabel di bawah;  c) ukuran benih : seperti pada tabel di bawah; d) waktu pemeliharaan : seperti pada tabel di bawah; e) penggunaan bahan :  pakan pelet (dosis dan frekuensi pemberian : seperti pada tabel di bawah ini);  f) obat-obatan : antibiotika (jika diperlukan), dengan dosis 25 mg oxytetracycline secara perendaman, kalium permanganat (2 - 5) mg.
2)   Kolam air tenang : a) kualitas air : suhu : 25 - 30ºC; pH : 6,5 - 8,5; oksigen terlarut : lebih dari 5 mg/l; ammonia (NH3) : kurang dari 0,02 mg/l; kecerahan secchi disk : lebih dari 30 cm; b) ukuran benih : lihat tabel di bawah; c) waktu pemeliharaan : lihat tabel di bawah;  d) penggunaan bahan : pakan : pelet (dosis dan frekuensi pemberian (lihat tabel di bawah); obat-obatan : antibiotika;  e) pupuk organik : kotoran ayam (dosis 100 gram/m2); f) pupuk anorganik : urea, TSP (dosis pupuk dasar masing-masing 150 dan 100 kg/hektar);  g) kapur : kapur tohor (dosis 25 gram/m2); h) bahan kimia : formalin, methyline blue, kalium permanganat dosis 25 ppm, oxytetracycline dengan dosis 25 mg/kg induk melalui penyuntikan (bila diperlukan).  

Pemanenan
1)   Karamba jaring apung : a) sintasan : lihat tabel  di bawah; b) mutu induk : sesuai SNI 01-6138-1999. 
2)   Kolam air tenang :  a) sintasan : lihat tabel di bawah; b) mutu induk : sesuai SNI 016138-1999. 
Tabel : Padat penebaran, ukuran benih dan jumlah takaran pakan yang     diberikan pada pengembangan calon induk ikan nila hitam.

CARA PENGUKURAN DAN PEMERIKSAAN  
1)   Suhu : menggunakan termometer, frekuensi pengukuran dilakukan dua kali per hari pada pagi dan sore pada permukaan air dan dasar wadah.
2)   pH air : menggunakan kertas lakmus. 10
3)   Debit air : mengukur volume air masuk kedalam wadah penampungan dibagi waktu yang dibutuhkan dalam satuan liter per detik.
4)   Ketinggian air : jarak antara dasar wadah pemeliharaan sampai ke permukaan air, menggunakan penggaris dengan satuan centimeter.
5)   Kecerahan air : menggunakan piringan berwarna putih bergaris hitam (secchi disk) yang diberi tali dan dimasukkan kedalam wadah pemeliharaan dan ukuran kecerahan dinyatakan dengan mengukur jarak antara permukaan air dengan batas piringan yang tampak jelas dalam satuan centimeter.
6)   Jumlah pakan : berat rata-rata ikan (minimal dari 30 ekor ikan sampel) dikalikan jumlah populasi ikan yang ditanam di kalikan lagi dengan persentasi pakan yang telah diberikan per hari, dinyatakan dalam satuan gram atau kilogram.
7)   Jumlah pupuk : dosis pupuk per meter persegi dikalikan luas wadah pemeliharaan yang dinyatakan dalam satuan gram atau kilogram.
8)   Umur : dihitung sejak telur menetas.
9)   Kematangan gonad : a) ikan jantan : dilakukan dengan mengurut perut ikan ke arah anus. Ikan jantan yang telah matang kelamin akan mengeluarkan cairan kental berwarna putih;    b) ikan betina : dilakukan dengan meraba bagian perut dan pengamatan bagian anus. Ikan betina yang telah matang gonad ditunjukkan dengan bagian perut membesar lunak kalau diraba, bagian anus menonjol dan kemerahan.
10) Jumlah padat tebar benih : dengan mengalikan jumlah benih yang ditebar per satuan meter persegi dengan luas wadah pemeliharaan. 
11) Sintasan produksi : dengan menghitung benih ikan yang hidup pada saat panen dibagi dengan jumlah benih yang ditanam, dinyatakan dalam persen.
12) Bobot badan : menimbang ikan dengan menggunakan timbangan analitis yang dinyatakan dalam gram atau miligram. 
13) Kesehatan : a) pengambilan contoh : untuk pemeriksaan kesehatan ikan dilakukan secara acak sebanyak 1 % dari populasi dengan jumlah maksimal 10 ekor, baik untuk pengamatan visual maupun mikroskopik, b) pengamatan visual : dilakukan untuk pemeriksaan adanya gejala penyakit dan kesempurnaan morfologi ikan, c) pengamatan mikroskopik : dilakukan untuk pemeriksaan jasad patogen (parasit, jamur, virus dan bakteri) di laboratorium.   
14) Kemurnian ikan : dilakukan dengan pengambilan contoh darah ikan untuk pengujian elektrophoresis di laboratorium yang diambil dari pembuluh darah pada pangkal ekor dengan menggunakan alat suntik.

REFERENSI
BSN, 2006. SNI 01-6139-1999  Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker)  Kelas Induk Pokok (parent stock). Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.
https://www.google.co.id/search